Extra Part

6.6K 79 1
                                        


Brak!

Pintu kantor terbanting keras, memecah keheningan yang tadinya hanya diisi suara detak jam dinding. Ara, wanita dengan wajah sembab dan mata penuh amarah, masuk ke dalam ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkahnya berat, tapi penuh emosi. Dengan cepat, ia menuju kamar yang ada di dalam ruang kantor itu.

Brak!

Pintu kamar dibuka dan ditutup dengan hentakan yang sama kerasnya. Ara mengunci pintu dari dalam.

Di ruangan itu, Ethan yang sedang menunggu Aksa hanya bisa mematung. Suara pintu yang keras dan wajah Ara yang penuh kemarahan membuatnya ragu untuk bertanya. Pria itu bahkan hanya bisa menelan ludah, berharap tidak terlibat dalam masalah yang sedang terjadi.

Beberapa menit kemudian, Aksa muncul dengan langkah tergesa-gesa. Nafasnya sedikit tersengal seperti habis berlari. Wajahnya cemas saat melihat pintu kamar yang tertutup rapat.

"Ara! Buka pintunya, Sayang!" suara Aksa terdengar keras, mencoba mengatasi batas pintu.

"Tidak mau! Jangan dekati aku lagi!" Suara Ara terdengar serak, diiringi isak tangis yang samar. "Kau sudah tidak peduli lagi denganku, kan? Kau bahkan tidak menginginkanku karena tubuhku mulai membesar!"

Aksa menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Ara, apa yang kau bicarakan? Kau tahu apa kata dokter minggu lalu. Bahkan hentakan kecil bisa membahayakan kandunganmu."

"Kau menyebalkan!" suara Ara meninggi. "Apa suami yang baik akan berbicara frontal tentang kehidupan ranjangnya di depan temannya?!"

"Astaga, Ara... Kau tahu aku tidak bermaksud seperti itu."

"Kau bahkan hanya memanggilku dengan namaku!"

Aksa menggeram pelan, mencoba menahan emosinya yang mulai memuncak. "Shit!"

"Di saat seperti ini pun kau masih berani mengumpatiku!" Aksa akhirnya menyerah untuk membalas kata-kata Ara. Ia berbalik dan berjalan perlahan menuju sofa, menjatuhkan tubuhnya dengan lelah. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini acak-acakan.

Ethan, yang sejak tadi menyaksikan drama itu dari sofa yang sama, hanya bisa menatap canggung. Ia merasa situasi ini sudah terlalu pribadi untuk dirinya.

"Kau baik-baik saja?" Ethan bertanya dengan suara pelan, nyaris berbisik.

Aksa mengangguk, meski ekspresinya menunjukkan kelelahan yang mendalam. "Aku baik-baik saja," jawabnya singkat.

"Bagaimana rasanya?" tanya Ethan lagi, mencoba memahami situasi.

Aksa mendongak, menatap Ethan dengan senyum miris. "Kehamilan keduanya ini jauh lebih berbeda daripada yang pertama. Aku tidak menyangka akan seperti ini."

Prang!

Suara pecahan terdengar dari dalam kamar. Ara tampaknya tak tahan lagi dengan situasi ini. "Jangan pernah menyalahkan kehamilanku! Kau sendiri yang menginginkannya dari awal. Dan sekarang kau merasa ini beban, huh? Kalau memang begitu, lebih baik kita bercerai saja!"

Mendengar itu, Aksa langsung bangkit dari sofa, matanya penuh amarah. "Ara! Jika kau menyebut kata cerai lagi, aku tidak akan segan mendobrak pintu itu dan menyeretmu keluar!"

"Lakukan saja kalau kau masih ingin melihatku!" jawab Ara, suaranya bercampur dengan tangis yang tak terkontrol.

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Isak tangis Ara terus terdengar dari dalam kamar, membuat suasana semakin tegang. Ethan hanya bisa duduk diam, tak berani mengatakan apapun. Ia mulai mempertimbangkan untuk pergi.....

Limerence [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang