BAB 33 ~ Kerinduan

6.9K 142 8
                                        

Beberapa minggu telah berlalu, setelah insiden itu mereka berdua tidak pernah bertemu, bahkan sekembalinya Vera ke rumah, Ara tidak berani untuk menyeritakan kejadian itu kepada sahabatnya secara langsung.

Namun Aksa yang seolah tanpa kabar membuat cobaan yang dialami Ara semakin menjadi-jadi karena berada jauh dari pria itu. Mual yang tak henti-hentinya telah merampas kenyamanannya.

Ara berkonsultasi dengan Rea, temannya yang ahli kandungan, dan bahkan mencari nasihat dari dokter kandungan di kota ini. Namun, baik Rea maupun dokter kandungan memberikan jawaban yang serupa, yaitu bahwa rasa mual yang Ara alami merupakan bagian dari proses kehamilan yang semakin mendekati persalinan, dan hal ini bisa terjadi pada beberapa kehamilan dengan kondisi fisik yang berbeda.

Vera, sahabat dekat Ara, yang selalu menjadi sosok yang bisa diandalkan, bahkan merasa bingung dan tak berdaya dalam menghadapi kondisi yang semakin meresahkan ini.

Saat malam tiba, atmosfer semakin tegang di dalam kamar Ara. Jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam, dan suasana malam yang sunyi seolah turut meresapi kegelisahan di hati Vera.

Dengan tubuh yang lemas dan mata yang sembab akibat menangis, Ara duduk di tepi ranjangnya. Perutnya terasa tak nyaman, sementara muntahan cairan bening kembali muncul, menjadi bukti dari kesakitan yang terus-menerus dia rasakan.

Vera, yang mencoba menjadi penopang Ara, merasa putus asa melihat kondisi sahabatnya yang semakin lemah. Dengan tekad yang kuat, dia mencoba menelepon Aksa, harapannya agar kehadiran pria itu bisa memberikan kekuatan dan dukungan yang Ara butuhkan.

Namun, ponsel Aksa tampaknya sedang bermasalah. Vera, meski frustasi, tidak menyerah begitu saja. Dia mencoba berkali-kali dengan harapan untuk mendapatkan bantuan dari Aksa.

Beberapa kali mencoba, akhirnya Aksa mengangkat teleponnya. Vera, yang berada di balkon, merasa lega karena Aksa memutuskan untuk menjawab panggilannya.

"Syukurlah kau mengangkat teleponku, Aksa," ujar Vera dengan nada khawatir, wajahnya terpancar ketegangan.

"Maaf, ponselku memang sedang bermasalah. Dan beberapa minggu ini, aku sedang sibuk dengan proyek perusahaan yang tidak bisa aku tinggalkan. Bagaimana keadaan Ara?" jawab Aksa dengan suara yang terdengar lelah, mencoba memberikan klarifikasi atas ketidakmampuannya merespon sebelumnya.

Vera dengan hati berat memberitahukan, "Dia sangat buruk, Aksa. Berulang kali muntah dan hanya bisa makan bubur. Dia menangis terus karena perutnya tak nyaman."

"Aku akan ke sana segera setelah menyelesaikan proyek ini," jawab Aksa, karena merasa khawatir pria itu mencoba memberikan jaminan pada Vera.

"Bisakah kau datang sekarang juga? Aku tak yakin bisa menunggu lebih lama. Ara benar-benar membutuhkanmu."

Aksa berpikir sejenak sebelum akhirnya memberikan jawaban, mencari solusi yang terbaik di tengah-tengah keterbatasan waktunya.

"Baiklah, aku akan datang. Proyek ini hampir selesai, jadi aku akan menyerahkan sisanya pada bawahanku."

Percakapan di telepon berakhir, dan Vera kembali ke sisi Ara yang terbaring lemah. Ara, yang lelah menangis, akhirnya tertidur, melepaskan diri dari rasa sakit dan kekhawatiran.

Sementara itu, Aksa memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan segala sesuatu. Setiap detail diperhatikan dengan seksama, termasuk memesan penerbangan yang akan membawanya ke sana dalam waktu dua jam. Setiap detik terasa berharga, dan Aksa tidak ingin menunda lagi saat-saat genting seperti ini.

🍁🍁🍁

Malam telah melingkupi kota dengan cahaya remang-remang dari lampu jalan yang menyinari jalanan sepi. Langkah Aksa yang lelah terdengar di antara gemerisik angin malam. Ketika dia tiba di depan rumah Ara, pandangan matanya tertuju pada cahaya kecil yang menyala di dalamnya.

Limerence [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang