Jangan lupa beri 💬 dan tekan tombol 🌟
Ya!
Happy reading guys!!
****
"Ingat Ra jangan pernah kasih pistol sama Khayri, jangan, jaga aja dia baik-baik di sini."
Entah kenapa ucapan itu bagaikan keset rusak dikepala Caera, dia frustasi, bagaimana mungkin dia yang memilih misi dan sekarang malah ketiga saudara itu yang bersenang-senang! Sedangkan dia?
"Hah...gue bosan," gumam Caera bersandar ke dinding dan menatap lurus kedepan.
"Ng? Aunty bosan? Kenapa gak ikut aja sama Bunda, Om Ero sama tante Eza?" tanya Khayri ikut bersandar disamping Caera.
"Terus nanti yang jagain kamu siapa Ay," ucap Caera gemas sendiri.
"Gak ada yang jagain juga gak apa-apa kok, lagian Ay kan gak bakal kemana-mana aunty. Aunty pergi aja nyusul Bunda Ay bakal di sini kok," ucap Khayri menatap Caera dengan polos membuat Caera gemas sendiri.
"Uluh keponakan siapa sih ini, kok lucu banget sih, tapi tetap gak bisa Ay sayang, nanti kamu kenapa-napa gimana? Bunda kamu bisa ngamuk sama aunty. Ay umur kamu berapa sih?" tanya Caera sambil mendudukkan Khayri dipangkuannya dan memeluk keponakannya itu merasa gemas.
"Bentar lagi mau masuk 4 tahun. Ah iya! Minggu depan, aunty jangan lupa beliin Ay kado ya!" seru Khayri dengan mata berbinar membuat Caera tambah gemas.
"Oke! Ay tunggu aja ya kado dari aunty. Ya ampun kok kamu gemasin gini sih? Waktu gede pasti banyak yang naksir sama kamu," ucap Caera sambil mencium gemas pipi Khayri, wajahnya tiba-tiba datar saat mengingat wajah Felicia dan Alan.
"Ck, kok bisa ya kamu lahir dari mereka berdua, orangtua kamu iblis anaknya Malaikat aneh memang," gerutu Caera yang kesal sendiri.
"Aunty, aunty gak bakal nyusul Bunda? Padahal aunty tadi semangat loh mau pergi tapi malah di suruh jaga Ay," ucap Khayri dengan nada sedih.
"Aduh duh, gak apa-apa sayang, Aunty senang kok jagain kamu," ucap Caera memeluk Khayri membelai kepala anak itu dengan lembut.
"Gak bisa gitu! Aunty harus nyusul Bunda, Aunty juga harus senang-senang!" seru Khayri membuat Caera memandang terharu anak tersebut.
"Sebenarnya Aunty juga mau pergi tapi kamu...ah gini aja!" seru Caera sambil mengeluarkan pistol yang dia sembunyikan.
Caera tersenyum ceria ingin memberikan pistol tersebut pada Khayri tapi dia terdiam ketika mengingat kembali ucapan Neron sebelum pergi tadi.
"Masa bodo deh. Ay di sini ada satu peluru. Kamu diam di sini oke kalau kamu dalam bahaya tembakin keatas, biar aunty bisa cepat kesini. Paham kan Ay?" tanya Caera memberikan pistol tersebut pada Khayri.
Khayri mengangguk paham membuat Caera tersenyum mencium pipi anak tersebut lalu pamit pergi. Khayri menatap polos kearah Caera lalu pistol ditangannya. Khayri mengambil sesuatu didalam saku Hoodie yang dia kenakan. Anak itu tiba-tiba tersenyum licik dengan pandangan penuh siasat.
"Maaf ya aunty tapi Ay juga bosan," gumam Khayri sambil berdiri dengan ceria.
Anak tersebut memasukkan peluru yang ada di tangannya kedalam pistol, ya benar yang diambil oleh Khayri adalah peluru. Dari tadi Khayri memang sama bosannya seperti Caera apalagi mengingat ucapan Neron, tapi untungnya Caera mudah dikelabuhi.
"Ayah, Bunda makasih udah nurunin ke Ay sifat sama penampilan rupawan kalian," ucap Khayri penuh syukur lalu pergi dengan ceria dengan petunjuk dari alat yang dibawanya, ya yang diambilnya dari kantor Alan.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Am Felicia
ActionSatu permainan. Seribu kebohongan. Dan satu nama yang selalu ada di balik semuanya. . . . . Pandangan orang padanya agen termuda yang berbakat, gadis gegabah, polos yang terlalu naif untuk menjadi bahaya d...
