Chapter 8 : Alan dan Zain

314 36 2
                                        

    Sudah beberapa hari berlalu dan Felicia menjadi pribadi yang lebih pendiam, bahkan sering tak fokus dengan yang dia kerjakan.

   "Selalu mimpi buruk yang muncul," gumam Felicia.

  Gadis itu keluar dari mobilnya, berjalan di koridor menuju kelasnya, fokus Felicia pecah melihat pria yang bersandar di dinding koridor sambil melipat tangan di depan dada.

   "Akhirnya sang pahlawan kita muncul heh," ujar pria itu.

   "Saya rasa urusan kita sudah selesai bukan Ajun Inspektur Cakra?"

   "Ya dan tidak, kau yang paling tau dimana tahanan itu bukan? Katakan padaku apa yang baru saja kau lakukan?

  Kedua saling menatap sengit sampai Felicia tersenyum dengan tatapan meremehkan yang membuat Cakra kesal, dia merasa tertantang.

  "Oh, si Aryan ya? kabur lagi? Ck, ck, keamanan kepolisian memnag kurang sih."

   "Jangan main-main bocah!"

   "Siapa yang sebenarnya bocah di sini?"

  Felicia melirik Cakra mendengus sambil terkekeh  pelan lalu menepuk-nepuk bahu Cakra.

  "Pergilah, aku sedang tak ingin bermain-main. Kau mendatangi ku begini membuat rencana kalian jadi jelas," bisik Felicia lalu pergi meninggalkan Cakra begitu saja.
  
  Cakra menegang buku kuduknya merinding, tak lama dia mengacak kasar rambutnya.

  "Aku benar-benar jadi gila," gumamnya terkekeh sendiri lalu mendengus dan pergi meninggalkan sekolah.

  ****

  "Nyebelin!" gerutu Felicia menelungkup tangan di atas meja menyembunyikan wajahnya.

  "Kenapa Kak? Sakit? Dimana yang sakit?" tanya Baim.

  Felicia melirik sekilas adiknya itu, belakangan ini Baim memang mengekorinya terus.

   "Aku tak mau menikah diusia mudaku," gumam Felicia membuat Neron yang baru datang dan mendengarnya menyerengit heran, menikah? Diusia muda? Maksudnya apa?

   "Oh! Kak Cia! Jangan-jangan Bunda mau Kakak nikah sekarang juga!" seru Baim berteriak membuat mereka menjadi pusat perhatian.

  "Jangan ngomong sembarangan!" seru Felicia kesal.

   Felicia memilih bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja membuat Baim dan Neron menjadi bingung.

   Felicia menatap pintu di hadapannya, dia kini berada di depan ruangan pemilik sekolah. Felicia menghela napas pelan, lalu meyakinkan diri dan masuk kedalam.

   Felicia tersentak merasakan tangan kekar yang melilit perutnya. Jantungnya berdebar kencang, padahal dia sudah memprediksi ini.

   Felicia berbalik menatap pria yang memeluknya dengan tatapan tajam dan juga pipi yang mengembung dengan kesal Felicia mencubiti perut pria itu.

    "Au, Cia!" seru pria tersebut meringis.

   Felicia mendengus menatap kesal kekasihnya itu, ya siapa lagi kalau bukan Alan.

    "Bagus ya! Telpon Cia nggak pernah diangkat, ngasih kabar pun jarang! Bagus banget!"

    "Mas sibuk Ci, sorry. Lagiankan sekarang kita udah ketemu hm?" ucap Alan membuat Felicia mendengus.

    "Sibuk mulu, gitu terus alasannya, ngasih kabar bentar juga, kalau nggak bisa titip sama anak buah kan bisa," omel Felicia membuat Alan tersenyum.

  " Iya, maaf, Mas salah. Kangen tau, kamu nggak kangen sama Mas?"

   "Kangen dikit," ucap Felicia lalu balas memeluk Alan erat.

I Am Felicia Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang