SMA Negeri 1 Surakarta adalah saksi bisu bagaimana Raya menutupi perasaannya pada Aksa yang selalu menanyakannya tentang proposal kegiatan.
Raya menyukai Aksa, Aksa menyukai Prajna. Kisah yang dianggap Raya sangat klise ini ternyata justru menusukn...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah hampir seminggu sejak kepergian Aksa.
Smansa turut berduka. Program kerja yang diketuai Aksa juga diundur. Karangan bunga di mana-mana. Sekolah ini telah kehilangan salah satu muridnya yang emas.
Tak ada yang menyangka akan kepergian si lelaki. Terlebih, saat itu adalah H-1 diadakannya proker. Tak sedikit anggota organisasi yang merasa bersalah atas kepergian Aksa, karena proker inilah yang menahan Aksa di sekolah sampai sore hingga ia kecelakaan.
Jangan tanya bagaimana perasaan Raya.
Gadis itu juga merasa bersalah setengah mati. Aksa pergi tepat setelah ia mengungkapkan semuanya. Ada kemungkinan lelaki itu terlalu memikirkan apa yang Raya katakan, sehingga terjadi kecelakaan.
Tak ada satu kata pun yang bisa mendeskripsikan seberapa hancurnya Raya. Kepergian Aksa membuat Raya tak akan pernah tahu bagaimana perasaan lelaki itu yang sesungguhnya.
Kini, ia terduduk sendirian di kursi taman tepat depan XII Mipa 2. Kursi di mana ia menemukan jaket Aksa yang tertinggal dulu. Matanya masih sembab, Raya merenungi semuanya di sini.
"Maaf menunggu lama," suara yang begitu lembut terdengar. Raya mendongak dan melihat sesosok gadis tengah tersenyum dan duduk di sebelahnya. Itu adalah Prajna. Gadis yang pernah menjadi pujaan hati Aksa.
"Tak apa. Aku memintamu kemari hanya untuk memberi ini," Raya mengambil sesuatu di saku roknya. Amplop itu, amplop milik Aksa. Ia memberikannya ke Prajna.
Prajna sama sekali tak menunjukkan ekspresi. Ia menerima amplop itu, kemudian membuka dan membaca isinya sekilas. Benar-benar sekilas sebab setelah itu Prajna langsung mengembalikan surat itu kepada Raya.
"Darimana kamu tau surat ini untukku?" Prajna tersenyum dan bertanya perlahan.
Raya mengernyit. Ia justru menatap surat itu tanpa menerimanya. "Sudah jelas siapa yang selalu ada di hati Aksa, Na. Bahkan seluruh Smansa tau itu."
Prajna masih tersenyum, lantas ia meletakkan surat itu di genggaman Raya dan berkata, "Kamu dihancurkan oleh pikiranmu sendiri, Raya."
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, Ray. Kamu benar-benar pandai menyembunyikan dan mengontrol semuanya."
Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Raya pada Aksa yang sesungguhnya. Hanya Belva dan Raya sendiri yang tahu itu. Bagaimana mungkin Prajna bisa mengetahuinya?
"Tapi Aksa tidak. Ia sama sekali tak pandai menyembunyikannya."
"Rumor yang menyebar itu salah. Semuanya salah. Kita memang dekat, namun tak sedekat yang mereka kira."