Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Enchanted

9 1 0
                                        

Untuk yang satu ini, aku sungguh yakin bahwa suara merdu Taylor Swift terdengar jelas di telingaku sesaat setelah kedua mataku berhasil menangkap seorang lelaki tak jauh dari tempatku duduk.

Aku yakin seratus persen-kalau perlu keyakinan tak terbatas. Sebab saat itu aku lagi kesengsem sama lagu berjudul Enchanted. Sekadar informasi bahwa meski aku bukan penggemar berat, tapi aku suka beberapa karyanya Taylor Swift.

Tak ada yang istimewa dari lelaki yang asing bagiku itu, hanya saja keberadaannya cukup membuatku mengalihkan pandangan barang beberapa detik. Bukankah sangat lazim bagi kita untuk reflek melihat ke arah orang yang sedang ada disekitar kita? Tanpa niat atau tujuan tertentu, murni hanya karena kita punya 'mata'.

Karena sekali lagi, dia orang asing. Maka aku tak menaruh penilaian atau kesan apapun, selain fakta bahwa perawakannya berhasil membuatku teringat tentang tipe ideal. Meski begitu, bukan berarti aku langsung tertarik dengannya, bukan? Oh ayolah, jangan terjebak dengan cover. Sebab belum tentu sampul yang menarik, isi bukunya juga worth-it.

Saat aku sedang fokus membaca sebuah thread Twitter yang membahas isu yang lagi trending, aku dipaksa untuk mendekat ke arah lelaki tersebut. Aku yang kebingungan hanya menurut saja sewaktu aku diperkenalkan dengannya.

"Lintang."

Kami berjabat tangan.

"Ndaru."

Senyum dan keramahan 'formalitas' langsung ku suguhkan untuk orang asing yang satu ini. Satu-dua kalimat basa-basi ku lemparkan untuknya, sekadar agar aku tampak seperti seseorang yang ramah dan bersahabat demi menciptakan kesan baik kepada orang baru.

Usai perkenalan singkat tersebut, kami berdua kembali dengan aktivitas masing-masing. Dia melanjutkan obrolan dengan orang lain dan aku kembali ke tempat semula lalu menuntaskan membaca thread yang belum selesai. 

Tak ada momen yang spesifik bisa kusebut kenangan tak terlupakan dihari itu, apalagi perkenalkan antara aku dengan lelaki tersebut. Seperti pertemuan dengan orang baru lainnya, aku butuh beberapa waktu untuk mengingat dan menghapal dengan baik nama dan wajahnya.

"Aku tahu kenapa dulu kamu gampang lupa sama namaku," tebaknya sok tahu. Terkadang aku penasaran saat dia mencoba untuk memberikan 'penilaian'nya tentangku, seperti kali ini.

"Apa?" aku sungguh penasaran.

Mukanya tampak tenang, tapi aku tahu dia sedang serius. Ekspresinya yang satu ini membuatku makin was-was, seakan dia ingin membuka pintu rumahku dan aku khawatir jika dia tahu hal apa saja yang ada di dalamnya.

"Kamu suka meremehkan orang lain."

Singkat, padat, dan agak menyakitkan. Kenapa aku jadi sebal dengan pernyataan judgemental darinya ya?

Aku tertawa tanpa suara, tak habis pikir kenapa tuduhan tersebut terasa nyata untukku.

"Aku ga pernah menilai orang lebih rendah dariku. Aku ga pernah nganggep diriku paling hebat-paling baik daripada orang lain." Aku berhak untuk membela diri, bukan?

"Tapi kamu pengin ngetes seberapa hebat orang lain di hadapanmu."

"Emang kamu siapa?" lanjutnya. "Kalo bisa ngomong, mata kamu bilang gitu pas lagi liat aku waktu itu."

I have not comment. Rasanya seperti ditikam fakta baru. Apa jangan-jangan aku emang kaya gitu, ya? Enggak deh.

"Oh iya, bagimu itu pertemuan pertama kita, ya? Aku ngga yakin."

Lah terus bagaimana?


November akhir, 2023

Janji LintangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang