Sesilion Brigita Widjaja POV
~Amerika Serikat, 2022~
Di sebuah kamar gelap tanpa adanya penerangan sedikitpun hanya ada sinar bulan yang membantu menerangi kamar itu, aku meringkuk di dekat jendela sambil melamun melihat pemandangan bulan purnama dengan menggunakan headshet yang beberapa tahun ini sudah menjadi temanku, headshet yang ku gunakan untuk menghalau suara teriakan dan pecahan barang diluar pintu kamarku itu.
Setelah beberapa saat aku hanya dapat berdiam diri melihat pemandangan yang terlihat dari jendela kamarku, disana mamaku sudah bersiap dengan koper besar yang ditariknya menuju mobil hitam yang sedang menunggunya. Sepersekian detik aku masih berharap mama berbalik melihat kearah jendela kamarku untuk sekedar berpamitan denganku. Tapi semua yang ku harapkan sudah pasti tidak akan terjadi karena disaat mama masih di rumahpun dia tak pernah mengganggap ku ada. Entah sejak kapan air mata ini sudah tidak dapat ku tahan lagi.
Namun tiba-tiba saja saat aku baru berdiri dari tempatku tadi, pintu kamarku sudah terbuka dengan keras, dan pelakunya adalah papaku sendiri lalu aku yang tidak tahu apa-apa ditarik secara paksa olehnya hingga aku hampir terjungkal jika saja aku tidak dapat menyeimbangkan tubuhku. Papa menarikku hingga keruang tamu, lalu melemparku begitu saja sampai badanku terantuk ujung pegangan sofa dan itu sangat menyakitkan.
Karena rasa nyeri di daerah pinggangku membuatku tidak dapat berdiri tegak, di posisiku yang meringkuk ini aku melihat papa membuka ikat pinggangnya saat itu yang bisa ku lakukan hanya berdoa kepada-Nya agar apa yang ku pikirkan tidak benar-benar terjadi.
Namun apalah daya setelah papa membuka ikat pinggang yang di gunakannya dia langsung mengayunkannya kearahku dengan keras berkali-kali, aku sudah mencoba berteriak untuk meminta tolong dan berusaha untuk mendorong tubuh papa yang sudah menghimpit badanku sambil berusaha untuk membuka semua pakaian yang ku kenakan.
Sekeras apapun aku berteriak tetap tidak ada yang datang, saat aku sudah merasa lelah dengan semua ini, aku mulai pasrah dengan hal yang akan terjadi selanjutnya karena papa sudah berhasil membuka hampir semua pakaianku.
Tapi Tuhan masih mengijinkanku untuk tetap hidup di dunia ini dengan mengirimkan malaikat tak bersayapnya kepada ku di waktu yang tepat, dialah nenek ku.
Ku lihat nenek berusaha untuk menarik papa untuk menjauh dari tubuhku yang sudah hampir polos ini, saat berhasil dia langsung menampar wajah papa dengan keras lalu menarik sebuah selimut tebal dan langsung digunakannya untuk membungkus tubuhku.
"Kau akan baik-baik saja sekarang Sil, maaf nenek telat datang." Setelah kalimat ini terdengar di telingaku dan pelukan nenek yang membuatku nyaman tiba-tiba saja kegelapan menghampiriku dan aku pingsan saat itu juga.
~ Rumah Sakit ~
Besok paginya saat ku terbangun aroma obat-obatan langsung menyerang penciumanku dari situ aku sadar sedang berada di rumah sakit.
Namun saat aku mencoba menggerakkan badanku hanya rasa sakit di sekujur tubuhku yang ku rasakan.
Saat ku perhatikan kembali baru ku sadari betapa mengerikannya kondisi tubuhku saat ini, hampir disemua bagian tubuh ku terbalut perban.
Ku hanya dapat meratapi kondisi ku sambil berusaha untuk menguatkan hatiku sendiri.
Namun tiba-tiba saja bayangan kemarin malam terlintas kembali di ingatanku, saat itu juga aku merasa kotor dan hina, pemikiran itu membuat ku ingin menghilang saja dari dunia ini.
Tepat saat aku sudah bener-benar merasa lelah dengan semua yang terjadi padaku selama ini, ku lihat pisau buah yang berada tepat di nakas samping bed ku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Stay With Me [HIATUS]
FanfictionFanfiction pertama aku tentang E-Sport, semua ceritanya gak ada sangkut pautnya dengan kehidupan asli, hanya untu hiburan semata, jangan dianggap serius karena aku sendiri gak terlalu paham tentang e-sport dan cuma coba menuangkan ide ku ke cerita i...