Kebenaran

4 1 0
                                        

Kebenaran

 

Hari ini, rencana pulang Adhiwijaya dan Exandra ke indonesia berjalan lancar. Kini pesawat yang dinaiki oleh Exandra dan Adhiwijaya telah mendarat di indonesia. Exandra dan Adhiwijaya melakukan perjalanan lagi ke rumahnya tersebut bersama dengan asisten pribadinya. Mereka pulang dengan menggunakan kendaraan yang psebelumnya sudah di pesan menggunakan sistem online.

Mereka sampai di rumah. Adhiwijaya bergegas keluar dari mobil dan langsung menuju kedalam rumah. Asisten pribadi Adhiwijaya yang mengurus semua barang barangnya sedangkan Exandra juga ikut membantunya. Adhiwijaya mengambil kunci mobil didalam rumahnya lalu segera ke garasi untuk mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Adhiwijaya memutarkan steering wheel yang tertempel di bagian tempat sopir dalam mobilnya. Dia mengendari mobil tersebut dengan agak laju. Melewati jalanan luas lurus tak beraspal bewarna hitam kombinasi dengan abu abu sepanjang perjalanannya tersebut. Akhirnya dia sampai di tempat tujuan. Yaitu, rumah Heroen. Adhiwijaya memencet bel mobilnya seraya menandakan dia menamu di rumah tersebut. Naretha yang mau berangkat ke sekolah tersebut mengetahui bahwa ada tamu yang datang. Dia membukakan gerbang rumahnya dan mempersilahkan pengendara mobil tersebut untuk memasuki area halaman rumahnya. Adhiwijaya turun dari mobil dan menyapa Naretha. Naretha kaget terhadap adhiwijaya yang tiba-tiba datang ke rumahnya.

“Naretha” ucap Adhiwijaya menyapa.

Naretha menyalami tangan adhiwijaya tersebut dengan berkata sewajarnya kalimat menyapa

“Om Adhiwijaya? Ada apa ya Om?  

“Om ada urusan sama Ayah Kamu. Apa ayah kamu di rumah? Tanya Adhiwijaya dengan baik.

“Ayah dirumah Om, mari Saya antar ke ruang tamu. Tapi saya minta tolong untuk tidak menyakiti Ayah ya Om” pinta Re

“Tenang, Om nggak akan ngelakuin itu”

Naretha mengantarkan Adhiwijaya ke ruang tamunya. Mempersilahkan untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Naretha memanggil kedua orang tuanya seraya memberi tahu bahwa ada tamu di rumahnya.

Setelah mendapatkan informasi dari Naretha bahwa Adhiwijaya kesini, Heroen melangkahkan kakinya menuju ruang tamu tersebut. Begitu juga dengan Harina. Mereka saling bersalaman sebelum memulai percakapan. Diantara perkumpulan itu, Naretha meminta izin untuk berangkat ke sekolah. Re keluar dari ruang tamu melewati pintu yang sedang terbuka itu. Dan melanjutkan perjalanannya menuju ke sekolah.

Adhiwijaya secara cepat mendahului dan memulai percakapan tersebut dengan tuan rumah dengan ekspresi merasa bersalah.

“Pak Heroen, kedatangan Saya kesini Saya ingin meminta maaf kepada Pak Heroen yang sebesar-besarnya. Saya sekarang sudah mengetahui siapa yang mengambil berkas Saya. Yaitu Pak Ergar bukan Pak Heroen”

“Apa??” Ucapan Harina dan Heroen bersamaan.

“Pak Ergar? Pak Ergar yang megambil berkasnya. Tapi, kenapa dulu dia juga ikut menuduh Saya?” Balas Heroen.

“Betul Pak, Pak Ergar menuduh Bapak supaya tidak ketahuan bahwa dirinya yang mengambil berkas itu. Sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besarnya Pak”

“Syukurlah Pak kalo semua sudah ketahuan, terus bapak konsep Bapak untuk masalah ini gimana?

“Saya sudah mengikhlaskan berkas itu pak. Saya ingin mencoba mengelola perusahaan itu di indonesia saja. Agar Saya juga bisa dekat sama Exandra. Nah, Saya juga ada tawaran buat Pak Heroen. Apakah mau, jika kita berdua mengelola kerjaan kita di indonesia?” Adhiwijaya memberitahukan konsepnya dan rencana kedepan.

“Ide yang bagus Pak, disisi itu kita juga bisa dekat dengan keluarga. Kalo memang itu jalan terbaik, saya mau bekerjasama dengan Bapak” ucapan Heroen yang menenangkan susana.

Cool and Care (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang