"Dengan Lo nyerah bukan berati Lo kalah."
Banyak hal yang harus kalian syukuri dalam hidup. Entah bahagia atau tidak, jalani saja. Bohong! Udah cukup. Gue nyerah. Gue tau kedengarannya menyedihkan, jujur semuanya bikin gue muak. Boleh gue marah? Boleh gue benci? Nyatanya gue gak berhak lakuin itu. Gue harus terus-terusan jalani kehidupan sialan ini dan bertingkah seolah baik-baik aja. Gue capek. Definisi capek yang gak akan bisa gue ungkapin ke dunia, dan Lo gak akan ngerti.
Orang bilang rumah tempatmu berpulang, mereka bilang keluarga adalah sandaran terbaik. Gimana kalo gue gak punya keduanya? Gimana kalo gue sendirian? Haha, ironisnya satu-persatu hal berharga gue hilang. Gue gak pantes dapetin itu ya?
Derap langkah kaki ricuh mulai terdengar. Isakan bercampur teriakan meminta tolong pun menggema di koridor rumah sakit. Dua pemuda sibuk berlarian menggendong seseorang dibalik punggungnya. Sesekali membenarkan posisi korban sekiranya tubuh itu merosot. Tampak jelas keadaan mereka jauh dari kata baik.
"SUS, TOLONG!!"
Suster yang melihat itupun segera berlarian mengambil dua bangsal kosong dan menghampirinya. Keringat panas dingin mengucur di dahinya. Rambut yang tadinya kering kini ikut lepek karena itu. Bercak kemerahan jelas terlihat dimasing-masing baju keduanya. Kejadian tak mengenakkan benar-benar menimpa mereka.
Marvel menurunkan tubuh Saga perlahan, dibantu oleh suster. Begitu pula dengan Jendral yang membopong tubuh Arga. Keduanya kini sama-sama tak sadarkan diri. Menambah kepanikan manusia yang mendampinginya.
"Mas, tolong tunggu diluar. Pasien segera kami tangani."
"Gue mau masuk."
"Tolong patuhi prosedur kami, Mas. Lebih cepat Mas nurut, lebih baik."
"LO BUDEG? SAHABAT GUE MATI-MATIAN DIDALEM SANA DAN GUE CU—
Ucapan Jendral terpotong. Marvel mendorong tubuh Jendral menjauh dengan susah payah.
Pintu ruangan segera tertutup. Tanda lampu menyala seolah menandakan sedang ada hal mendesak didalam sana. Ada dua nyawa yang mati-matian berebut kehidupan didalam sana.
... Lo apa-apaan sih, Bang. Lepas!" Ucap Jendral dengan tatapan tak bersahabat.
Bukannya menjawab, Marvel kini sibuk mengobati memar ditubuh adiknya. Mengompres dahi adiknya yang sempat kena pukulan. Hanya luka kecil, namun sayang jika dibiarkan. Marvel kini membawanya masuk ke salah satu ruang inap. Mencegah tindakan bodoh lainnya.
"BANG. LO BUDEG? LEPAS!" Jendral menepis tangan Marvel kasar. Bahkan kursi yang Marvel duduki ikut terjatuh. Untungnya Marvel sigap berdiri. Jendral benar-benar mendorongnya keras.
"Jen, duduk."
Hening
Jendral masih tak bergeming. Matanya menatap lurus kearah luar jendela. Masih dengan pikiran yang bercabang.
"Jendral! Duduk dan dengerin gue."
Jendral masih diam dengan tatapan kosongnya.
"Jen, Saga aman disini. Lo gak perlu khawatir." Marvel sedikit mencondongkan tubuhnya, menatap lekat mata adiknya. Tangannya kini memegang kedua bahu rapuh adiknya.
"Bang, gue takut. Hiks.. Dia gak baik-baik aja, Bang. Hiks.."
Marvel segera merengkuh tubuh adiknya. Tangannya bergerak membawa kepala adiknya menuju dekapannya sembari mengelus surainya. Juga semakin mengeratkan pelukannya enggan melepaskan.
"Jen. Mau denger cerita?"
Jendral mendongakkan kepalanya, mulai tertarik.
"Gue minta satu hal. Jangan benci gue, Jen. Bisa?"
Jendral mengangguk mantap.
"Dulu gue benci Lo lebih pentingin Saga daripada gue...
—Aksa. Lo tau? Gue yang hasut dia."
"Bang?" Jendral menatapnya tak percaya.
"Gak lucu Lo, Bang. Sumpah." Ucap Jendral disertai tawa diakhir kalimatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA | Lee Haechan (END)
Short StoryDengan Lo hidup di dunia, Lo ada diantara kesulitan-kesulitan itu. Capek. Tapi, mati juga bukan jalan yang mudah. Gak perlu muluk-muluk gua cuma mau jalani hidup semestinya, ngalir gitu aja. Wajar kan? Tak ada kebahagiaan tanpa kesedihan, pun sebali...
