Chapter 1

429 21 2
                                        

Remaja berumur 15 tahun itu menutup gerbang, ia langkahkan kaki yang masih terbungkus sepatu futsal bewarna merah itu masuk kedalam salah satu rumah mewah sebuah perumahan elit di jakarta, Naufan namanya.

Mata itu kemudian melirik pada jam tangan yang dikenakannya, "Bang Fariz belum pulang mbak?". Tanyanya pada seorang wanita yang berada di dapur rumahnya.

Sedangkan yang ditanya hanya menggeleng singkat sembari tetap melanjutkan pekerjaannya. "Belum, kamu buruan mandi sana mas. Habis itu makan, kamu mau mbak buatin apa?". Tanya yang lebih tua atau lebih sering Naufan panggil mbak Ayuk itu, seorang wanita muda berumur 25 tahun asal Yogjakarta yang telak bekerja pada keluarga Pak Hasan ayah Naufan sejak empat tahun yang lalu.

"Mbak Ayuk masak apa emang?".

"Mbak masak sayur sop sama ikan goreng. Ndak akan kamu makan tho? nanti mbak buatin telor mata sapi aja kaya biasanya mau?". Ujar mbak Ayuk tanpa menghentikan pekerjaan menyapu lantai dapur.

Naufan terdiam sejenak, dirinya memang kurang menyukai sayuran dan hewan berprotein itu. Naufan lebih suka menggantinya dengan telur kecap kesukaannya.

Tapi dipikir-pikir ia sudah sangat jarang makan makanan sehat akhir-akhir ini. Lagipula Naufan tak mau menambah pekerjaan mbak Ayuk. Makan sayur gak bakal buat lu mati van, yang ada lu yang sekarat kurang sayur.

Mbak Ayuk yang merasa tak ada jawaban dari Naufan pun menghentikan kegiatannya. "Heh arek iki, ditanyain dari tadi malah meneng wae. Kamu mau makan apa mas Naupan?".

"Makan yang ada aja mbak".

Setelah mengatakan kalimat singkat itu Naufan bergegas menuju lantai atas kamar nya.

"Loh yang bener?". Tanya mbak Ayuk sedikit berteriak karena Naufan sudah berada di lantai atas.

iyaa!

***

Naufan turun dengan tubuh yang lebih segar setelah mandi, remaja itu mengenakan kaos putih dengan celana pendek selutut bewarna cream.

Melihat lantai bawah yang sepi sudah dipastikan art keluarganya itu telah pulang.

Naufan mengurungkan niatnya untuk makan kala melihat pintu rumah yang belum tertutup. Mbak Ayuk lupa apa gimana sih.

Namun ia urungkan kembali niatnya kala melihat sebuah kawasaki ninja bewarna hitam keluaran terbaru itu terparkir di halaman. Sudah pasti itu sang Abang Alfariza Aisy Hasan atau yang lebih akrab dipanggil Fariz.

Udah pulang ternyata.

Naufan kembali ke meja makan kemudian mengambil sebuah piring yang tersedia dengan daging ikan yang sudah terpisah dengan duri-durinya. Mbak Ayuk cukup tahu bahwa Naufan itu tidak bisa memilah tulang ikan sendiri.

Salah satu alasan mengapa Naufan tak menyukai memakan hewan berinsang itu.

Kejadian beberapa tahun lalu dimana ia menelan sebuah duri ikan sedikit membuat anak itu trauma.

Sudah lima menit sejak Naufan menghabiskan makanannya namun tak ada tanda-tanda kalau Abangnya itu akan masuk.

Naufan bangkit dari duduknya di sofa berniat melihat apa yang tengah dilakukan bang Fariz sehingga betah berlama-lama di luar.

fyuhhh

uhukk

Naufan mengibaskan tangan kala sebuah asap putih menyambutnya membuat Naufan terbatuk kecil.

sesak

Bang Fariz yang melihat Naufan terbatuk dengan segera mematikan putung rokok yang tinggal setengah itu dengan cara menginjaknya sampai padam.

NAUFANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang