meet you again

46 5 1
                                        


Sore ini seorang pria ingin mengunjungi restoran yang baru saja dirinya coba kemarin sore. Bukan hanya karena makanannya yang enak, tetapi karena seorang gadis yang sangat  ingin dirinya temui kembali.

Mobil Ferrari merah miliknya terparkir dengan rapi di tempat parkir tang telah di sediakan untuk mobil.

Pria berbadan atletis dengan balutan kemeja putih yang lengannya telah di gulung sampai  ke siku itu, mampu membius tatapan para kaum hawa.

Pengunjung wanita di restoran itu, dengan terang terangan menunjukkan rasa ketertarikan mereka pada sang pria. Walau sebenarnya pria itu sangat membenci tatapan   kaum hawa itu padanya.

Seperti sore sebelumnya saat pertama kali dirinya datang ke restoran itu, pria itu memilih untuk duduk di samping jendela yang langsung mengarah pada jalanan kota yang padat akan pengendara.

Pria itu duduk, dan langsung memainkan ponselnya, berusaha mengabaikan tatapan tatapan memuja yang sungguh sangat mengganggu ketenangannya.

Berbeda dengan sore sebelumnya yang cukup sepi dan tenang, sore kali ini sedikit menyebalkan karena ada banyak orang terutama kaum wanita yang terlihat terang terangan memperhatikan dirinya dari kursi masing masing.

Seperti biasa, tanpa di panggil, salah seorang pelayan restoran akan datang dengan sendirinya menyambut pelanggan.

Dan entah ini sebuah keberuntungan atau hanya kebetulan, yang datang mendekati Daniel sore ini adalah gadis yang ingin Daniel temui.

Yaa, pelayan yang mendatangi meja yang di tempati Daniel adalah Anindita, gadis yang dengan beraninya mengambil hati Daniel dari tempatnya.

" Permisi pak, bisa saya catat pesanan anda?" Tanya gadis itu ramah dan dengan profesional.

Daniel yang sedari tadi menatap fokus pada ponsel pintar seharga mobilnya mendongakkan kepalanya.

Senyumnya tercetak tipis kala melihat gadis berkulit sawo matang itu berada di hadapannya saat ini.

Tampak gadis itu juga sedikit terkejut, namun dengan segera kembali menetralkan ekspresi wajahnya dan kembali menampilkan senyum manisnya.

Daniel mengambil buku menu yang berada di atas meja, lalu membacanya sebentar, "saya mau beef steak medium rare satu, lemon tea nya satu, dan jangan lupakan satu botol air mineralnya" ujar Daniel menyebutkan pesanannya.

Dita dengan cekatan dan lihainya langsung menulis semua pesanan Daniel dan juga nomor meja Daniel.

" Ada lagi pak?" Tanya Dita dengan profesional seakan tidak mengenal Daniel, dan Daniel menyukai itu.

Daniel tersenyum, ah bukan hanya satu sudut bibirnya saja yang terangkat membentuk sebuah seringaian.

Daniel mengisyaratkan pada Dita untuk menunduk dan mendekatkan telinganya, "kalo saya maunya kamu gimana?'' tanya Daniel dengan suara yang _ergh gimana ya?, Menggoda?.

Seketika bulu kuduk Dita berdiri, dirinya merinding sekarang. Wajah hingga telinganya sudah memerah.

Sedangkan sang oknum yang membuatnya seperti ini, hanya menampilkan seringai tanpa dosa.

Dita segera kembali menegakkan tubuhnya, wajahnya sudah dirinya netralkan dan kembali tersenyum manis.

" Jika tidak ada apa apa lagi, saya permisi pak, pesanan anda akan segera tiba" ujar gadis itu dan segera pergi meninggalkan Daniel yang masih terkekeh ringan karena melihat wajah gadis itu memerah malu.

Gadis itu mempercepat langkahnya, sungguh keadaan jantungnya sedang tidak baik baik saja sekarang.

' apa mau pria itu?' batin Dita, karena sungguh saja pria itu seperti sedang berusaha mendekatkan dirinya?, Entahlah itu hanya perasaan Dita saja. Mungkin.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan Daniel datang ke meja yang di tempati olehnya.

Daniel mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke seorang gadis yang sedang menata piring pesanannya di atas meja.

Satu alis Daniel terangkat naik, sebab yang mengantarkan makanan pesanannya bukanlah Anindita, melain karyawan lain yang tak bukan adalah Nadira.

Daniel diam, kemudian seringaian tipis tercetak tak begitu jelas di bibir tipisnya.

'ahh, gadis  pemalu ternyata' batin Daniel.

Gadis yang tengah menata piring di meja yang di tempati oleh daniek kembali menegakkan tubuhnya.

" Selamat menikmati makanan anda pak, jika ada suatu masalah, jangan ragu dan sungkan untuk memanggil salah satu dari kami" ujar Nadira sesopan dan se profesional mungkin. Bagaimanapun, ini bukanlah tugas dan pekerjaan yang biasa dirinya lakukan.

Setelah mengantarkan pesanan Daniel ke meja, Nadira segera kembali ke dapur dan mulai melakukan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.

Kenapa Nadira yang mengantarkan makanan pesanan Daniel?, Sebab Dita beralasan harus ke toilet dan tidak sempat mengantar pesanan Daniel.

Nadira percaya percaya saja, toh buat apa Dita membohongi dirinya bukan?, Atau mungkin memang?.

Saat kembali ke dapur, Nadira sudah berada di tempatnya dan melakukan pekerjaannya, Nadira sempat terkejut, namun keterkejutannya tidak bertahan lama.

"Loh dit, katanya tadi ke toilet?" Ujar Nadira dengan tatapan yang sedikit menyelidik.

Dita tersenyum tipis, " iya memang, gue emang dari toilet, tapi ngga lama sih" ujar Dita beralasan.

Nadira mengangguk paham, dan segera mengambil alih pekerjaannya yang telah digantikan oleh Dita.

" Udah udah, minggir Lo, mending Lo kerjain tuh pekerjaan Lo" ujar Nadira mengambil alih.

Dita memanyunkan bibirnya, dirinya sudah tidak memiliki pekerjaan. Tidak ada pelanggan baru lagi.

Dita memilih untuk duduk di kursi kecil yang berada di dapur, dirinya tak melakukan apapun, hanya melamun.

Nadira yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya, ada ada saja tingkah temannya itu.

Hari sudah semakin gelap, matahari senja juga sudah mulai meninggalkan tempatnya, digantikan oleh rembulan yang menggantung indah di langit malam.

Semua pelanggan yang berkunjung di restoran pun juga sudah mulai pergi meninggalkan restoran, kembali ke tempat tinggal mereka masing masing.

Dita, gadis itu keluar dari dapur untuk membersihkan meja meja bersama beberapa karyawan restoran lainnya.

Matanya melirik ke arah kursi di dekat jendela, yang merupakan kursi yang diduduki oleh daniel.

Ahh, tampaknya pria itu belum juga ingin meninggalkan restoran yang mulai tenang itu.

Daniel menolehkan kepalanya dari ponselnya, dan tanpa sengaja kedua netra itu bertemu dan menatap satu sama lain.

Dengan segera, dita mengalihkan pandangannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya, dengan jantung yang berdegup kencang.

Daniel mengangkat salah satu sudut bibirnya dan membentuk sebuah seringaian.



To be continued ~ byeee

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 03, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

sugar Daddy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang