Bab 4 (Rahasia Yang Hanya Mereka Ketahui)

27 4 0
                                        

Keesokan harinya, ketika matahari mulai meningkat di langit, warga desa berkumpul di sekitar pohon beringin yang besar itu. Mereka datang dengan hati yang penuh tekad dan gergaji di tangan, siap untuk menjalankan misi mereka untuk menebang pohon tersebut. Namun, sebelum mereka memulai tugasnya, mereka berdiri bersama di bawah bayangan pohon itu untuk berdoa bersama-sama.

Dalam keheningan yang hening, suara doa-doa mengalir keluar dari bibir para warga desa, memohon perlindungan dan keselamatan dari yang Maha Kuasa. Mereka memohon agar tugas mereka dilakukan dengan lancar dan tanpa hambatan, serta agar mereka terhindar dari segala bahaya yang mungkin terjadi.

Warga desa kemudian mulai bekerja. Dengan setiap gerakan gergaji, mereka mengarahkan tekad mereka untuk menghapuskan sumber ketakutan dan kegelapan dari desa mereka. Meskipun tantangan mungkin besar, mereka bersatu dalam tujuan mereka untuk menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masa depan desa mereka.

Dari kejauhan, warga desa dapat melihat Buyut Kakung yang telah lanjut usia duduk di kursi roda kayu. Wajahnya yang keriput mencerminkan sejarah panjang yang telah dilaluinya, dan tubuhnya yang rapuh menandakan usia yang telah memudar. Meskipun usianya sudah sangat tua dan gerakannya terbatas.

Dengan tegas, Buyut Kakung meminta beberapa warga untuk membantunya sampai ke lokasi penebangan pohon beringin yang angker itu. Meskipun sulit bagi mereka untuk menggerakkan kursi roda yang berat, mereka dengan penuh kehormatan menerima tugas tersebut. Mereka menganggap kehadiran Buyut Kakung sangat penting, sebagai simbol kebijaksanaan dan ketegasan dalam menghadapi peristiwa besar yang akan terjadi.

Saat pohon tersebut ditebang, terdengar suara jeritan wanita yang sangat keras, menciptakan getaran di udara yang mencekam. Meskipun terkejut dan ketakutan, para warga desa tetap teguh pada keimanan mereka. Mereka segera membaca ayat-ayat suci Alquran dengan penuh keyakinan, memancarkan cahaya keberanian di tengah kegelapan yang menakutkan.

Dalam suasana  yang tegang dan menakutkan, Buyut Kakung diam-diam menitikan air mata. Ekspresinya yang penuh rahasia mencerminkan beban masa lalunya yang dalam, sebuah rahasia yang mungkin hanya dia yang mengetahuinya. Meskipun diam, kehadirannya mengisyaratkan bahwa ada lebih banyak cerita yang tersembunyi di balik kedamaian desa yang tampaknya tenang itu.

Buyut Kakung: "Yohana.. maafkan aku" Pikirnya di dalam hati

Setelah pohon itu roboh dan penebangan selesai dilakukan, suara jeritan dan tangisan yang mencekam tiba-tiba menghilang. Suasana desa pun kembali sunyi, hanya diisi oleh suara angin yang lembut dan gemuruh kayu yang terjatuh.

Warga desa bersyukur dan merasa lega, yakin bahwa kuntilanak pasti akan hilang sekarang karena tempat tinggalnya telah dihancurkan. Mereka merasa lega bahwa ancaman yang selama ini menghantui desa mereka telah usai, dan bahwa keamanan dan kedamaian akan kembali ke desa mereka.

[DI MALAM HARI NYA]

Di malam yang gelap, ketika keheningan mulai menyelimuti desa, sebuah siluet misterius memasuki kandang peternakan salah seorang warga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di malam yang gelap, ketika keheningan mulai menyelimuti desa, sebuah siluet misterius memasuki kandang peternakan salah seorang warga. Suara kambing yang mengembik keras memecah keheningan malam. Pemilik peternakan, yang terbangun oleh suara tersebut, melihat ke arah kandang dengan keterkejutan. Di tengah kegelapan, dia melihat secara samar-samar seseorang yang sedang menggigit kambingnya dengan ganas.

Kuntilanak X VampirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang