Para tetangga keluar dari rumah mereka setelah mendengar suara berisik. Langit malam yang gelap menjadi saksi bisu atas kegaduhan di desa kecil itu. Mereka berdatangan dengan kebingungan dan kekhawatiran yang melintas di wajah mereka.
Di antara kerumunan, Salah satu dari mereka adalah wanita yang baru saja melahirkan, yang beberapa hari lalu dilihat oleh Yohana.
Namun, kegaduhan tak berujung ketika mata mereka tertuju pada sosok yang melayang di atas wanita itu. Seorang Kuntilanak merah dengan rambut panjang yang menjulang, mengambang di udara dengan menakutkan. Ketakutan merebak di antara para tetangga, dan wanita yang baru saja melahirkan itu pingsan di tempat.
Yohana, Kuntilanak yang mengamuk itu, menyaksikan adegan tersebut tanpa ekspresi di wajahnya. Namun, ketika matanya jatuh pada bayi yang menangis, ada getaran yang tidak biasa dalam dirinya. Dengan gerakan yang tiba-tiba penuh kelembutan, Yohana meraih bayi itu dari pelukan wanita yang pingsan.
Bertindak dengan kelembutan yang tak terduga dari sosok Kuntilanak yang menyeramkan itu, Yohana membawa bayi itu melayang pergi dari tempat itu. Langit malam menyaksikan kejadian yang tak terduga ini, sementara desa kecil itu tenggelam dalam ketakutan dan tanda tanya yang tak terjawab.
Yohana melayang perlahan dengan bayi menangis di pelukannya, terselip kebingungan di matanya. Di bawah, para warga desa berkumpul membawa obor, mencari jejak Yohana dan bayinya yang hilang. Slamet, yang telah menemukan Yohana, mendekatinya dengan hati-hati, Yohana terlihat mencoba menenangkan bayi dengan lembut dan suara yang penuh kasih.
Namun, bayi itu tetap menangis, bahkan lebih keras, membuat Yohana semakin bingung.
Yohana: "Mengapa anakku menangis begitu keras?" batinnya, sementara matanya memandang bayi itu dengan campuran cemas dan kelembutan. Dalam benaknya, Yohana tetap yakin bahwa bayi itu adalah anaknya.
Yohana, dengan hati penuh kasih, mencoba menyusui bayi itu, tetapi Slamet tiba-tiba menghentikannya dengan tegas.
Slamet: "Bayi ini bukan anakmu, Yohana. Dia memiliki orang tuanya sendiri yang merindukannya," ujar Slamet dengan serius, mencoba meyakinkan Yohana.
Kata-kata Slamet memicu kemarahan dalam diri Yohana. Dia merasa tersinggung dan marah atas pernyataan Slamet yang menyangkal ikatan ibu dan anak yang diyakininya. Dengan geraman, Yohana melayang menjauh dari Slamet, memeluk bayi itu dengan erat, dan bersumpah untuk melindungi sang bayi dari siapa pun yang mencoba merebutnya darinya.
Yohana: "Hmph! Slamet! dasar bacot! Shhh diam anakku cintaku ibu disini.."
Dalam kegelisahan yang mendalam, Yohana merasa semakin terganggu oleh tangisan tak henti dari bayi itu. Penuh dengan frustrasi dan kebingungan, dia mulai meragukan apakah bayi itu benar-benar anaknya. Tangisan yang tak berhenti membuatnya merasa semakin marah.
Dalam keputusasaan, Yohana menjerit dan menangis dengan keras. Suaranya meluncur di malam yang sunyi, memanggil perhatian warga desa yang berdekatan. Mereka datang dengan cepat, ditarik oleh keanehan suara tersebut.
(Sfx: Suara Kunti Nangis)
Dalam amarahnya yang meluap, Yohana hampir saja membanting bayi itu ke tanah. Namun, tepat pada saat yang genting, Slamet muncul di bawahnya, menyelamatkan bayi itu dari bahaya. Matanya bertemu dengan Slamet yang penuh perhatian, memberikan bayi itu dengan lembut kepada ibu kandung dari bayi itu yang sedang cemas.
Yohana: "Bayiku.."
Melihat tindakan Slamet yang penuh belas kasihan, Yohana merasa seakan ditampar oleh kesalahannya sendiri. Rasa bersalah merayapi hatinya ketika dia menyadari bahwa dia hampir melakukan hal yang tak termaafkan. Dengan sedih, dia mengerti bahwa sebagai seorang ibu, dia memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan merawat, bukan menyakiti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuntilanak X Vampir
HorrorNovel ini mengisahkan tentang Yohana, seorang wanita muda yang kehidupannya berakhir tragis akibat pembantaian pada tahun 1691. Dia meninggal bersama bayinya yang belum lahir dalam peristiwa mengerikan itu. Namun, kini rohnya bangkit kembali dalam...
