Stevi mengajak Mimi kembali ke penthouse mereka. Sepanjang perjalanan gadis itu hanya diam.
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Masih lapar?"
Mimi menggeleng.
Stevi menghela napas.
"Miranti, saya bukan orang yang suka basa basi menanyakan sudah makan atau sedang apa, bisa kamu menjaga diri kamu sendiri? Ada anak saya di dalam tubuh kamu."
Mendengar itu Mimi menggigit bibirnya menahan tangis. Ia menoleh ke arah jendela. Hormon di tubuhnya sungguh kacau.
_________________________________________________
"Miranti?"
Mimi menoleh saat ada orang memanggilnya.
Dan mendapati Rossa sedang berdiri dihadapannya.
"Mbak Rossa?"
"Kamu belanja?" Rossa menilik keranjang Miranti yang berisi underwear diskon.
"Ii..ya mbak Rossa."
"Ya sudah aku duluan." Rossa melambaikan tangan lalu pergi.
Mimi menaruh kembali dalaman yang sedang diskon itu, hendak dibeli nya karena semua dalamannya terasa sesak. Tapi urung, karena malu ketahuan kekasih suaminya, malu karena ia membeli barang barang murah.
Entah kenapa ia bisa bertemu Rossa di tempat ini. Sepengetahuannya, Rossa tidak tinggal di area ini. Ia tahu karena memang beberapa kali mereka keluar bersama Hans atau Poppy, dan tentu saja ia yang memilih duduk di pojokan seperti biasa. Hanya mengamati para Old Money itu mengobrol.
Rossa tentu saja tinggal dikawasan elit. Tapi bukan di area ini. Andaikan berbelanja pun Rossa tidak akan memilih blok Mall ini, karena barang2nya yang dijual murah.
_________________________________________________
Miranti membuka pintu penthouse, dan mencium aroma masakan. Ia mengikuti arah dapur dan mendapati Stevi sedang menyiapkan makan malam.
Stevi melirik Miranti yang berdiri, masih menggunakan kemeja putih dan celana kerjanya.
Tadi Rossa menghubunginya ketika bertemu Miranti di Mall. Tapi sekarang ia mendapati gadis itu pulang tanpa membawa apapun.
"Darimana?" Stevi menaruh makanan diatas meja.
"Hanya jalan jalan." Jawabnya pelan.
"Kemari dan cepat makan."
Miranti tertegun sebentar, Stevi menoleh kearahnya sambil menaikkan sebelah alis.
"Ya." Miranti segera berjalan ke arah meja makan.
Ternyata masakan Stevi lebih enak dari yang ia duga.
"Ini masakan para pelayan, tinggal dihangatkan saja, yang mengherankan kamu makan apa karena stok di lemari pendingin masih banyak."
Ternyata Stevi bisa banyak bicara juga.
"Ingat ya Miranti, kamu ini membawa anak saya. Jaga kesehatan kamu baik baik."
Miranti mengangguk sambil makan. Sejujurnya ia takut mengambil makanan atau apapun di rumah ini. Karena ini bukan miliknya. Berhubung sekarang Stevi memperbolehkannya, ia akan dengan senang hati.
"Enak?"
Miranti mengangguk lagi. "Enak."
Stevi menarik sudut bibirnya ketika melihat Miranti makan dengan lahapnya.
______________________________________________
Miranti segera berlari ke kamar mandi lalu melepas semua bajunya. Ia terlalu kenyang, hatinya bahagia karena bisa makan malam dengan Stevi. Jadi apapun yang ada di meja itu ia makan. Akibatnya sekarang perutnya bergejolak. Ia bingung dengan kondisi tubuhnya. Kadang terasa lapar, kadang tidak. Moodnya juga sangat sensitif.
Membuka baju hingga dalamannya, Miranti mendesah lega. Karena bra nya yang kekecilan menekan dadanya, sehingga menimbulkan bekas yang memerah. Celana kerjanya juga mulai sesak.
Selesai mandi dan memakai kaos dan celana tanpa dalaman. Ia meraih handphone dan mengecek saldo tabungannya. Menghitung apa cukup untuknya bertahan hidup, jika ia membeli baju baru.
Stevi memberikannya kartu berwarna hitam. Tapi ia tidak berani dengan sengaja membeli apapun dengan uang itu.
Jika ia mengajak Poppy, pasti ia yang akan membayarnya. Semakin membuat Miranti tidak enak hati lagi nanti.
Meskipun Poppy memberinya gaji yang lumayan, tapi ia tidak berani menyalahgunakan kepercayaan sahabatnya itu.
Butik sedang sibuk karena banyak pesanan dan juga jahitan, Poppy tidak akan punya waktu untuk menemaninya. Kemarin ia sudah lembur memotong pola dan juga merangkai payet dan manik manik.
________________________________________________
Paginya...
Stevi mengamati Miranti mulai dari atas sampai bawah. Hari ini akhir pekan, dan mereka libur.
Miranti meremas ujung kaosnya yang kebesaran. Diamati seperti itu mana ada yang tidak gugup.
"Kamu agak gendutan."
Mata Mimi membola ketika mendengar itu.
"Kemarin malam bajumu kelihatan sesak. Kamu belum membeli baju baru?" Tanyanya.
Miranti menggeleng.
"Ck, sebentar lagi tubuh kamu mirip bola, jadi butuh baju baru."
"Nanti aku akan beli bang." Cicitnya.
"Pakai kartu atm yang kemarin, isinya bisa untuk membeli satu unit rumah. Sekedar membeli baju tidak akan menghabiskan isi kartu itu."
Stevi memahami kalau ternyata Miranti ini sok jaga image atau apalah istilahnya.
"Tapi bang..."
"Lekas ganti baju, saya antar kamu belanja."
________________________________________________
Stevi mengajaknya masuk ke sebuah toko untuk ibu dan bayi.
"Rossa merekomendasikan tempat ini." Gumam Stevi.
"Oh." Akhirnya Miranti tahu bagaimana seorang Stevi bisa tahu toko seperti ini.
"Masuklah, saya akan menunggu disini. Jangan lihat harga, cepat pilih." Ucapnya sambil duduk di sofa yang ada di dalam toko itu.
Miranti akhirnya memilih baju dan dalaman yang sekiranya nyaman untuknya. Ia juga memilih baju bayi berwarna biru lembut yang lengkap dengan topi dan sepatu. Belum saatnya belanja baju bayi, pamali kalau belum 3 bulan lebih. Tapi entah kenapa ia suka dengan motif baju bayi itu. Jadi ia membelinya.
Ibu hamil dan mood nya.
13/04/2024

KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI DAN LANGIT MIRANTI
ChickLitMenyelamatkan nyawa seorang gadis dari keluarga kaya membuat kehidupan Miranti berubah menjadi 180°. Dia yang seorang yatim piatu sedari kecil akhirnya merasakan hangatnya persahabatan. Sudah terbiasa susah dan tertolak sedari kecil membuat Miranti...