"Ya ampun MIMII!!!! STEVIIIII!!!!!
Suara nyaring melengking itu membuat dua orang yang sedang berbaring tanpa busana di kamar hotel itu terbangun dengan linglung dan kedua pasang mata yang memerah khas orang mabuk.
Lekas Poppy menuju ranjang dan menggaet selimut yang terjatuh di kaki ranjang, dengan cepat menyelimuti tubuh sahabatnya. Matanya yang cokelat melotot marah pada pria yang tampak kebingungan sambil meraih apa saja untuk menutupi tubuhnya.
Dua orang pelayan hotel yang tampak kikuk segera keluar setelah mengantarkan Poppy yang kehilangan teman sekamarnya itu.
"Stevi bajingan!!" Ia ambil bantal dan memukuli pria yang baru setengah sadar itu.
___________________________________________
"Mi, jadi hamil?" Miranti yang sedang duduk merangkai payet desain baju menengok ke arah bos yang juga sahabatnya.
Poppy meletakkan tas dan kunci mobil diatas meja kerjanya.
Mimi menggeleng. Jujur ia belum menggunakan tespack yang diberikan Poppy beberapa hari yang lalu.
Selama dua minggu ini Poppy merasa bersalah, karena lalai menjaga Miranti, saat pernikahan kakaknya di Hotel beberapa waktu yang lalu.
Miranti mencoba baik baik saja dihadapan sahabatnya itu. Ia tidak enak hati membuat Poppy terbebani oleh ulahnya.
"Kamu hamil atau tidak, Stevi harus bertanggung jawab!" Poppy meremas tepi meja kerjanya sembari menatap Miranti.
Miranti menghela napas lalu meletakkan jarum jahitnya. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati mimik muka Poppy yang tegang. Miranti tahu ia adalah penyebabnya. Dan ia juga tahu kalau Stevi sudah punya kekasih hati, seorang produser di salah satu televisi kenamaan.
Hubungannya dengan Stevi sejak awal juga tidak baik, entah kenapa pria itu selalu memandangnya acuh terkadang ia mendapatinya mengerutkan hidung ketika bertemu tanpa sengaja. Kadang Miranti berpikir apa selama ini ia bau keringat.
"Boss, I am okay. See?" Miranti mengangkat kedua telapak tangannya. Mencoba tidak melontarkan kalimat yang salah. Ia takut kalau Poppy akan mengamuk.
Poppy tidak menjawab dan hanya memutar telunjuknya ke arah Miranti. Tanda ia masih belum selesai, tapi lihat saja nanti.
___________________________________________
Miranti masuk ke dalam apartemen kecilnya yang sudah 4 tahun ia tempati. Tempat yang ia beli atas bantuan Poppy dan kakaknya, Hans, yang baru menikah beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya Poppy ingin apartemen yang agak luas, tapi Mimi menolak dengan alasan terlalu mahal dan gajinya tidak cukup untuk mencicilnya. Mimi memilih apartemen ini, dan mereka tentu saja tidak bisa memaksanya lagi.
Menaruh kunci motor dan meletakkan tasnya di meja, Mimi menghela napas menuju lemari pendingin. Membukanya dan meraih sebotol air mineral. Sambil mengamati isi kulkas itu yang hanya ada telur dan beberapa jenis sayuran. Selebihnya hanya botol air mineral. Ia mencoba hidup hemat, karena harus melunasi apartemen ini yang tinggal 3 kali angsuran.
Berjalan ke arah sofa kecilnya yang menghadap ke jendela, memandang gelap malam bertabur lampu kota. Inilah alasan ia membeli apartemen ini. Hidden gem yang tidak terlihat oleh manusia lain. Dari apartemennya ia bisa melihat pemandangan malam yang indah. Dan termasuk sepi dari lalu lintas kendaraan.
Ia duduk sambil meneguk air dari botol. Memandang langit langit apartemennya. Sembari merenungi hidupnya yang hampa. Terkadang ia masih berpikir kenapa ayah dan ibunya meninggalkannya sendirian. Kenapa tidak membawanya. Dan juga alasan kenapa ia harus hidup selama 26 tahun ini. Jika ia sudah menemukan jawabannya, mungkin ia bisa mati dengan tenang.
Dari usia 5 sampai 13 tahun ia diasuh oleh bibinya, Gayatri, karena ada permasalahan dengan suaminya, bibinya terpaksa pernah menitipkannya ke dinas sosial selama 6 bulan.
Menurut cerita bibinya waktu itu, ia sudah berpisah dengan suaminya yang terlibat jual beli narkoba. Ia tidak ingin keponakannya terlantar karena bibi mengurusi pamannya yang dipenjara.
Kembali mereka hidup berdua. Saat sekolah menengah pertama ia bertemu dengan Poppy. Waktu itu Poppy yang sedang di bully oleh geng sekolah mereka terlibat adu mulut. Mimi yang tidak sengaja melihatnya, bersembunyi di balik semak semak. Ia melihat geng bully itu menarik tas Poppy dan menjambak rambutnya. Setetes darah terlihat keluar dari hidung Poppy. Seorang dari mereka pasti memukulnya. Mimi yang melihat kiri kanan yang sepi sempat meneguk ludah sebelum berteriak.
"Ada Polisi. Ada Polisi!!!"
Serempak mereka berlari ketakutan dan menjauh dari Gang itu. Meninggalkan Poppy sendirian yang terduduk kelelahan sembari memeluk tasnya.
Mimi mendekat dan duduk berlutut sambil memegang bahu gadis itu.
"Kamu baik?" Tanyanya.
Poppy mendongak sambil tersenyum lebar memperlihatkan kawat giginya. Ia mengangguk pelan.
Mimi menghela napas, lalu memapahnya berdiri.
"Ayo ke ruang BK. Kita laporkan kejadian ini."
Kembali Mimi di jaman sekarang, sambil menekan pangkal hidungnya. Sudah 13 tahun dari ia bersahabat dengan Poppy, yang ternyata anak dari salah satu Old Money Pengusaha Rokok terbesar di negara itu.
Karena pernah di bully itu, Poppy sempat ikut pelatihan taekwondo dan akhirnya tidak ada yang berani membully. Poppy tumbuh menjadi gadis yang cantik sampai sekarang. Sudah berapa laki laki yang ia tolak. Termasuk Stevi, yang notabene adalah teman Hans.
Mimi mengingat pertama kali ia bertemu Stevi atau Steven Darwis. Kala ia diajak tinggal di rumah Poppy, karena bibinya menikah dan ikut suami ke kota lain. Poppy tidak ingin berpisah dengannya, jadi ia memaksa Mimi tetap tinggal dan meminta ayahnya untuk mengadopsinya.
Tentu saja Mimi menolak untuk diadopsi. Tapi papa dan mama Poppy memaksanya untuk tinggal bersama. Mereka senang Poppy punya teman, karena membuat anak gadis mereka tidak sembarangan bermain keluar rumah. Karena pergaulan remaja di kota benar benar membuat orang tua resah. Orang tua Poppy diam diam mendukung pendidikannya. Dengan memberikan beasiswa sampai jenjang kuliah melalui yayasan keluarga mereka.
Hans juga sangat baik. Beberapa kali ia membawakannya Cokelat saat pulang dari sekolah. Katanya itu dari salah satu penggemarnya. Poppy yang melihat itu hanya memutar kedua matanya.
Hans berbisik. "Jangan kau kasih Poppy. Dia bawel."
Mimi cekikian mendengarnya. Tapi senyumnya hilang saat melihat orang yang ada dibelakang Hans. Wajahnya tanpa senyum dengan alis yang hampir menyatu.
Ya, dia Stevi.
Entah kenapa, laki laki itu selalu memandangnya seperti itu. Bahkan sampai sekarang. Jarang mereka mengobrol meskipun sering bertemu karena circle pertemanan mereka.
Mimi selalu sesak napas jika melihat Stevi, lambat laun ia menyadari itu rasa suka terhadap lawan jenis. Tapi tentu saja Mimi memendamnya. Ia sadar posisi dan juga sadar diri. Seperti Hans dan Poppy, Stevi juga salah satu Old Money. Pantasnya Mimi menjadi pelayan mereka.
Stevi.
Mimi mendesah putus asa. Ia teguk lagi air itu sampai tandas.
12/04/2024

KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI DAN LANGIT MIRANTI
ChickLitMenyelamatkan nyawa seorang gadis dari keluarga kaya membuat kehidupan Miranti berubah menjadi 180°. Dia yang seorang yatim piatu sedari kecil akhirnya merasakan hangatnya persahabatan. Sudah terbiasa susah dan tertolak sedari kecil membuat Miranti...