BAB 5

4 1 0
                                    

Usia kehamilan Miranti memasuki bulan ketiga

Setelah morning sickness yang dialami Stevi selesai, sekarang Mimi berkutat dengan ngidamnya.

Di dalam penthouse sendirian, karena pelayan akan kembali ke rumah utama menjelang petang, Mimi mengelus perutnya yang kelaparan. Padahal ia baru saja makan 2 jam yang lalu.

Stevi jarang datang, selama 1 bulan ini Mimi bahkan tidak bertemu secara langsung. Stevi benar benar menyembunyikan status mereka.

Poppy selalu hendak berbicara, tapi selalu ia urungkan ketika menatap Mimi.

Jenuh karena lapar dan belum bisa tidur. Ia mengambil cemilan dan membuka browser internet di laptop.

Entah karena apa, tiba tiba ia menulis nama lengkap Stevi di kolom pencarian.

"Sepertinya aku mencari luka lagi." Gumamnya ketika membaca sederet gosip teratas yang membahas suaminya dan presenter Rossa.

Mereka sedang berlibur ke Hawai.

Stevi yang tidak suka di photo atau publikasi, terlihat nyaman diluaran sana.

Mimi menghela napas, ada sengatan ngilu di dadanya. Sesak.

Ia tutup laptopnya. Sepertinya ia harus jalan jalan sebentar. Suasana rumah ini tidak bisa membuatnya tidur nyenyak.

_______________________________________________

Menggunakan taxi, Mimi berhenti di sebuah kedai makan tengah malam.

Kedai khusus bagi pegawai2 yang pulang larut malam.

Kedai ini cukup terkenal dikalangan karyawan butik Poppy. Ia belum sempat kesini. Entah tiba2 atau karena kehamilannya, ia benar2 harus ke kedai ini. Lain kali ia akan ikut pulang bersama  dan makan disini. Ia terlalu tertutup dengan karyawan lain.

Mengambil tempat duduk paling pojok, ia menikmati suasana kedai itu.

Seorang pelayan pria menghampirinya.

"Mau pesan apa Nona?"

"Aku mau steak dan es jeruk."

Pelayan itu mengernyitkan dahi.

"Ini sudah malam, dan kau pesan es?"

Mimi mengangguk.

Pelayan itu masih menatapnya.

"Aku tidak tahu kamu bekerja dimana Nona, tapi sepertinya usiamu masih dibawah umur."

Oh ternyata pelayan ini curiga.

"Nona tidak sedang kabur?"

Mimi tergelak. Tentu saja orang akan mengiranya dibawah umur. Lihat saja ia hanya mengenakan kaos dan celana training berwarna ungu muda. Dan biasanya orang akan pesan bir, tapi ia justru pesan es.

"Aku tidak dibawah umur dan tidak sedang kabur, bisakah anda membawakan makanan segera? Aku sudah lapar." Pintanya.

Pelayan itu tersenyum lalu undur diri.

Cukup tampan. Batin Mimi.

Setelah menunggu sekitar 10 menit pesanannya datang.

"Silakan dinikmati Nona Kecil." Ucap pelayan tadi sambil menaruh sebotol susu cokelat di atas mejanya.

_______________________________________________

Setelah menikmati makanan di kedai itu, ia bergegas menunggu taksi di luar. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Perut yang kenyang membuatnya mengantuk. Masih ada sebotol susu cokelat yang ia pegang. Menimang nimangnya saat sebuah taksi datang dan ia masuk kedalamnya.

"Kemana Nona?"

"Jalan saja dulu. Aku ingin menikmati angin malam."

"Baiklah."

Setelah 10 menit berputar putar tanpa arah, Mimi memutuskan untuk pulang ke apartemennya yang lama. Karena itu lebih dekat. Ia sudah benar benar mengantuk.

Menekan pasword apartemennya, ia masuk dan menghirup aroma rumahnya.

Bergegas ia menarik selimut dan berbaring. Memberi afirmasi pada tubuhnya, esok akan baik baik saja. Esok akan baik baik saja. Dan ia pun terlelap dengan bayang bayang suaminya yang bermesraan dengan kekasihnya.

_______________________________________________

Setelah tahu makanan di kedai itu enak. Mimi akhirnya sering datang kesana, dengan Poppy atau karyawan lainnya.

Dan lagi selalu pelayan itu yang melayaninya.

Sekarang ia percaya, kalau Mimi bukanlah anak dibawah umur lagi.

Dan selalu ia memberikan bonus sebotol susu cokelat.

Tapi malam ini berbeda, karena ada kartu nomor telepon pria itu.

_______________________________________________

Sementara itu..

Stevi yang mendadak pulang ke penthouse, benar benar tidak mendapati istrinya di rumah.

Menurut pelayan sudah hampir satu minggu nyonya mereka tidak pulang dan mereka tidak tahu pergi kemana.

Stevi membawa mobilnya ke arah butik Poppy.

Pegawai disana mengira Stevi adalah kekasih Poppy awalnya, tapi begitu gosip beredar, mereka akhirnya tahu bahwa itu tidak benar.

Bahkan Stevi sempat membawa kekasihnya di butik ini.

"Dimana nona Wilmer?" Tanyanya kepada salah satu pegawai.

"Nona sedang pergi tuan."

"Lalu Miranti?"

"Mbak Miranti sedang menjahit baju di lantai dua." Stevi mengangguk lalu naik ke lantai dua, mencari istrinya.

Setelahnya ia menemukan Miranti yang sedang tertidur di lantai diantara kain dan potongan baju. Tampak wajahnya kelelahan dan ada kantung mata hitam dibawahnya.

"Kalau jadi kamu, aku tidak akan membangunkannya." Poppy berbisik dibelakang Stevi.

Stevi menoleh. "Kau paksa dia lembur?"

Poppy mengedikkan bahu. "Bukan aku yang memaksa, tapi dia bilang masih punya cicilan rumah."

Stevi mengernyit.

"Rumahnya sendiri, bukan penthouse mewah milikmu."

Stevi kembali melihat Mimi yang tertidur pulas.

"Sepertinya ia kurang istirahat."

"Aku menawarinya tidur di rumahku, tapi tidak mau, akhirnya dia pulang ke apartemennya sendiri. Mungkin dia banyak pikiran, memikirkan suaminya yang sedang berlibur." Sindirnya.

Stevi tidak membalas ucapan Poppy.

"Ingat ya Stepi, Mimi sedang hamil hormonnya naik turun. Selama beberapa hari ini aku sering menemaninya makan malam, karena ia sedang ngidam."

"Meskipun nanti kamu menceraikan Mimi, setidaknya rawat dia saat ini karena mengandung anakmu." Poppy keluar ruangan sambil membawa setumpuk kain. Dan membiarkan Stevi sendiri.

_______________________________________________

12/04/2024

BUMI DAN LANGIT MIRANTITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang