8

343 36 5
                                        

"Katakan siapa yang menyuruhmu melakukan ini semua?"

Samar-samar suara Joshua terdengar dari ruangan hampa yang baru saja mereka masuki. Jongin mengekor di belakang Sehun, menatap sebuah bangku yang berada di sana. Mata keduanya bersitatap. Dia tak asing dengan pria yang kini tengah duduk di sebuah kursi, pria itu salah satu anggota Black Typhon, pria itu juga yang pernah mengawalnya dari Las Vegas menuju ke mansion utama.

"Aku tanya sekali lagi, siapa tuanmu?!"

"Brengsek! Apa kau tidak mau membuka mulutmu?!" Joshua menarik rambut pria tersebut. Rahangnya mengeras saat dirinya lagi-lagi tak mendapatkan jawaban. "Kau ingin mati?"

JDAAG!

Bunyi benturan keras terdengar saat pria eropa itu tanpa segan membenturkan kening tersebut ke ujung meja. Kepalanya kembali ditarik, memperlihatkan kening yang sudah bercucuran darah. Keadaan pria itu benar-benar mengenaskan. Wajahnya penuh dengan lebam dan sobekan di pangkal hidung serta ujung bibir, pakaiannya kotor oleh tanah dan noda darah yang telah kering maupun yang masih basah, ditambah lagi dengan darah yang masih keluar dari pahanya akibat tembakan yang ia dapatkan tadi malam.

"Lord Sehun." Pria itu tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Dengan wajah mengenaskannya ia menyeringai tipis, menatap sayu ke arah belakang Joshua.

Joshua membalikkan tubuhnya mendapati Sehun, Chanyeol, serta Jongin yang kini sudah berada di dalam ruang interogasi. Ketiganya menatap apa yang terjadi di depannya dengan pandangan yang berbeda. Tentu ketiganya tak asing dengan siapa yang saat ini tengah terduduk di depan sana dengan keadaan yang bisa di bilang mengenaskan. Pria itu adalah salah satu anggota Black Typhon, ia juga yang mengawal keberakatan Jongin dari Las Vegas menuju ke Prancis.

"Lord." Joshua menunduk hormat. Pria itu sedikit menyingkirkan tubuhnya, membiarkan Chanyeol mendekati sang pelaku.

"Tahan pergelangan tangannya."

Joshua memegangi pergelangan tangan tahanan itu sampai menunggu Chanyeol berdiri di sampingnya. Membiarkan pria jangkung itu kini mengambil alih posisinya tadi.

"Harus dengan cara apa agar kau membuka mulutmu?" Sunyi. Tak ada jawaban sedikitpun. Pria itu hanya mendongak menatap Chanyeol dengan mata nyalangnya.

"AAKHH!"

Teriakan kesakitan menggema di dalam ruangan saat salah satu kuku jari tangan tahanan itu ditarik paksa hingga terlepas. Darah segar terus mengucur begitu saja dari jari tersebut tanpa ada seorang pun di sana yang berniat untuk menyekanya.

"Aku bisa melakukan ini sepanjang hari jika itu yang kau mau. Tapi aku juga berbaik hati menawarkan sedikit bantuan jika kau mau membuka mulutmu." Chanyeol menekan bibir tahanan itu menggunakan tang yang tadi dipakainya untuk menjabut kuku. Ia sengaja menekankan ujung tang itu ke cela bibir yang tertutup rapat, membiarkan noda darah tersebut masuk ke bibir.

"Jika kau tetap keras kepala, aku pun bisa lebih keras kepala darimu. Bukankah kau tahu siapa aku? Kau dulu berada di bawah komandoku, kau pasti hafal apa yang akan kulakukan agar kau mau membuka mulutmu."

"A-AARRGGHH!"

Lagi. Teriakan kesakitan menggema di ruangan tersebut saat lagi-lagi kuku jari Leon dilepas paksa oleh Chanyeol. Pria itu tertunduk lesu. Sejak semalam ia ditahan oleh Joshua tanpa diberi makan atau air sedikitpun, tubuhnya disiksa habis-habisan hingga mengeluarkan banyak darah.

"Bukankah menyenangkan dikhianati oleh orang-orang dibawahmu, Lord Sehun?" Namun, tubuhnya yang lemah tak membuat pria itu menyerah begitu saja. Leon dengan kondisi lemahnya kini malah menatap Sehun, mengejek pria yang sedari tadi hanya diam menonton.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 21, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dark HorseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang