Kegiatan bersih-bersih yang dilakukan oleh fakultas Singto itu kurang lebih hampir sama dengan yang telah Krist ikuti sebelum-sebelumnya. Edukasi, bersih-bersih, inovasi, lalu membuat cinderamata khas setempat untuk bisa di bawa pulang sebagai bukti kegiatan telah dilaksanakan secara benar dan terstruktur.
Krist telah melewati ini beberapa kali, menjadi relawan dan bertemu banyak orang sungguh melelahkan, apalagi semenjak malam itu, Krist sedikit banyak telah berubah. Yang biasanya Krist andil dalam bagian edukasi kepada masyarakat setempat, kini Krist justru lebih banyak bekerja di balik layar bersama panitia. Omega itu menjadi lebih diam, entah apa penyebabnya hanya Krist (dan sebagain kecil orang) yang tahu.
Meskipun senyum ramah itu masih menjadi ciri khas Krist yang akhirnya memikat Singto dengan caranya sendiri. Karen dan beberapa orang yang sempat ikut dalam kegiatan sosial bersama Krist sebelumnya itu menyadari banyak perubahan dari omega tersebut.
"Sendirian aja? Sini kakak bantu,"
Krist mendongak, menyipitkan matanya karena sosok tersebut berdiri membelakangi matahari sore, sedikit menyilaukan pandangan si manis, "Iya, kak?" Sahut Krist spontan, lalu tersenyum simpul masih dengan mata yang menyipit, "Gapapa, kak. Aman di sini, mending kakak cek tempat lain aja," Lalu Krist bangkit dengan kantong plastik yang telah penuh, "Nih, udah selesai!"
Yang lebih tua mengangguk, lalu mengambil alih plastik besar berisi sampah itu dan mengikatnya sebelum dijadikan satu dengan plastik sampah yang lain. Wajahnya nampak tulus dan tidak nampak memiliki maksud tertentu, tapi Krist belum yakin karena Singto yang ia tahu adalah seorang 'pemain' sama seperti dirinya. Tidak! Krist tidak boleh jatuh lebih jauh!
Di depan matanya, Singto menyelesaikan sisa pekerjaan Krist dengan cepat, lalu kembali pada omega tersebut, "Ayo ikut aku," ajaknya seraya menggenggam jemari putih susu tersebut.
Dengan selesainya tugas hari itu, berakhir juga rangkaian kegiatan bersih-bersih di hari terakhir tersebut, semua mahasiswa yang berpartisipasi akhirnya memiliki waktu untuk menikmati liburan singkat mereka, termasuk Krist dan Singto.
Hari sudah sore, matahari sudah menjorok ke barat hampir menyelesaikan tugasnya, begitupun beberapa mahasiswa yang bertugas menyalurkan sampah ke tempat lain sesuai aturan. Singto juga akhirnya memiliki waktu untuknya sendiri.
Atau mungkin kini bersama Krist.
Langkah keduanya santai menelusuri garis pantai yang bersih sejauh mata memandang, pemandangan yang Krist sukai karena ia sendiri mencintai kebersihan. Tak ada pembicaraan yang tercipta diantara keduanya, hanya sayup-sayup terdengar riuh rendah pembicaraan orang lain di sekitar mereka yang tak ingin dipedulikan, juga desiran ombak yang sesekali menyapa kaki keduanya sedikit sebelum kembali ke tengah laut.
Krist membendung sejuta tanya pada Singto atas perlakuannya beberapa waktu terakhir semenjak malam itu. Namun omega itu hanya diam saja karena tak ingin merusak suasana senja yang syahdu. Jujur saja, genggaman tangan Singto sangat pas dan nyaman menggenggam tangannya.
Sementara itu, si alpha tersenyum senang, dapat menikmati waktunya dengan si manis Krist setelah sekian lama ia disibukkan dengan acara kamp ini.
"Kak, aku haus, ayo beli minum dulu," Ajak Krist hingga akhirnya dua botol air mineral yang dingin itu menemani sunset Krist dan Singto di pesisir pantai.
Untuk beberapa saat keduanya diam, menikmati pergantian hari yang mengesankan. Lampu-lampu di rumah-rumah sekitar pantai mulai dinyalakan, menggantikan sinar matahari agar tetap memiliki cahaya, suasana pantai semakin sepi karena tempat mereka saat ini bukanlah tempat wisata, melainkan desa di sebuah Klan di pinggiran kota.
Banyak yang bersarang di pikiran Krist tentang alpha di sampingnya, seniornya yang memiliki sejuta pesona itu memilih untuk menyendiri bersama Krist di kesepian ketimbang bergabung dengan teman-teman panitianya.
Singto juga begitu, banyak sekali kata yang ingin disampaikan kepada omega manis di sampingnya ini, namun ia bingung harus memulai dari mana, karena melihat Krist sedekat ini, membuat Singto seketika teringat akan kejadian malam itu, jujur saja ia malu.
Tapi, kenapa Singto harus malu? Ini pertama kalinya ia merasa malu ketika melihat teman seksnya, padahal puluhan orang sudah menjadi teman tidurnya selama ini ia berkuliah.
"Eum... Krist,"
"Kak Singto,"
Keduanya spontan tertawa pelan, lalu salah tingkah, "Kakak duluan aja," Pinta Krist menghormati Singto sebagai seniornya.
Singto pun mengangguk pelan, dan membenarkan posisi duduknya, "Kenapa... kamu nggak malu sama aku? Maksudku, kan... kalo orang lain yang baru pertama kali..." Sial! Kenapa tiba-tiba merasa gugup? Rutuk Singto pada lidahnya sendiri.
Tetapi Krist mengabaikan kegugupan Singto dengan tertawa, "Aku bukan omega polos, kak! Walaupun aku baru pertama kali ngelakuin itu, aku anggep itu pelajaran sebagai omega di kota," Ujar Krist santai lalu menenggak air minumnya, "Yang lalu biarlah berlalu lah, kak! Toh udah mau dua bulan, nggak ada tanda-tanda aku hamil, kan?"
Singto mengangguk pelan, ia masih diam.
"Kakak suka sama aku, kah?"
"Eh??"
Krist terbahak dengan reaksi Singto yang terkejut, ia sama sekali tidak menyangka jika alpha dengan sejuta pesona itu bisa salah tingkah dengannya. Krist yakin sejuta persen, jika Singto telah jatuh sangat dalam padanya meski jarang bertemu.
"Dari reaksi kakak, aku nggak percaya kalo kakak suka sama aku beneran," Ujar Krist nampak menenangkan diri.
Namun Singto nampak hendak meyakinkan omega manis tersebut, "Kakak beneran suka kamu, gimana kalo kita pendekatan?"
"Eh?"
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
(Sebelum) Rumah Cemara [SingtoKrist]
FanfictionSide Story "Rumah Cemara" Tentang Singto si pemain omega bertemu Krist si adik tingkat yang nakal. Karena jodoh adalah cerminan diri, siapapun tak akan mampu jika harus menggantikan salah satu dari mereka. Cerita ditulis berdasarkan imajinasi penuli...
![(Sebelum) Rumah Cemara [SingtoKrist]](https://img.wattpad.com/cover/363508153-64-k558706.jpg)