Janhae terisak pilu, mendengar cerita Krist yang baru saja terusir dari rumah dan Klan-nya sendiri. Menjadi asing dari keluarganya, hidup hanya berdua dengan sang alpha.
"Ya gitu deh, sementara ini kita tinggal di kondo kak Singto dulu, nanti kalo kita ada rejeki lebih, kita baru keluar dari kondo," Jelas Krist menutup ceritanya.
Sementara Gun mendengarkan dengan serius, menanggapi sahabatnya, "Terus sekarang lo mau kerja dimana? Kondisi lo lagi nggak boleh kerja berat gini," Tanya Gun.
Krist menghela nafas, "Kemarin gue udah diterima kerja di resto yang di pantai, nggak jauh kok dari sini, gue kerja full time."
Kawasan universitas tempat mereka berkuliah itu tak jauh dari pesisir pantai, begitu strategis sehingga wisatawan pun berdatangan. Kota ini rasanya penuh, banyak tujuan untuk orang bergantung hidup, termasuk Singto dan Krist.
"Terus alpha lo? Nggak kerja?" Tanya Gun lagi.
"Kak Singto staff fakultas," Ujar Krist, "Dan gue baru tau itu kemarin waktu pindahan,"
Janhae menyahut, "Gajinya kan lumayan gede, kenapa lo ikut kerja juga?"
"Banyak tanya lo pada!"
Krist dan Singto sadar, mereka berdua baru saja memulai hidup, sebagai orang dewasa, dan juga calon orang tua. Kebutuhan hidup semakin meningkat, tuntutan materi tak terhindarkan, sebentar lagi Krist akan melahirkan, tentu omega itu juga harus ikut berjuang.
"Gue cuma mau yang terbaik buat anak gue nanti, hidup orang tuanya udah susah, jangan sampe anak gue juga susah."
***
Rumah makan olahan laut itu tidak terlalu besar, tapi cukup ramai, sehingga sang pemilik membutuhkan seorang pekerja tambahan, begitu pas dengan Krist yang tengah mencari pekerjaan. Seolah-olah Dewi tengah memberi jalan bagi hamba-Nya yang ingin memperbaiki kesalahan, Krist diterima baik oleh sang pemilik, meskipun Krist membeberkan kondisinya yang tengah mengandung.
"Tugasmu bantu cuci piring dan terima pesenan, sama nanti pas penutupan bantu bersih-bersih, semangat kerjanya!"
"Makasih banyak, kak Off!"
Namanya Off Jumpol, si pewaris perusahaan elektronik, namun ia memilih untuk membuka rumah makan. Kecintaannya terhadap olahan makanan laut itu menjadi dorongannya ketika ia meminta izin untuk membuka rumah makan tersebut di pinggiran kota. Seorang alpha yang di cap manja, dan ingin membuktikan bahwa dirinya adalah seseorang yang dapat berdiri di atas kakinya sendiri.
Ia menaruh iba ketika mendengar cerita Krist yang harus hidup sendiri di tempat lain, tidak dibantu siapapun, hanya dengan alphanya. Maka dari itu, Off mengizinkan Krist bekerja di tempatnya.
Pekerjaan Krist sederhana, namun dengan pelanggan yang datang silih berganti, lama-lama Off khawatir juga dengan kandungan karyawannya itu.
"Masih kuat dek? Kalo enggak, kamu istirahat aja dulu," pinta Off merasa kasihan.
Namun Krist tersenyum seraya menggeleng pelan, "Gapapa kak, tanggung bentar lagi toko mau tutup, jadi sekalian."
Maka Off terus mengizinkannya untuk bekerja, Krist benar, restoran sudah sepi pelanggan karena sudah hampir jam tutup. Bahkan sebentar lagi suami Krist datang menjemputnya.
Kandungan Krist masih tergolong muda, dan ia diberkati Dewi dengan kekuatan, ia tidak mengalami gejala kehamilan yang parah seperti apa yang dikatakan dan dialami omega kebanyakan. Entah sebuah anugrah atau kutukan, karena konon katanya, kehamilan dari hasil di luar pernikahan telah terkutuk, nikmat kehamilannya telah di cabut Dewi.
"Kak, Krist udah selesai?" Singto muncul dengan setelan uni-nya, datang menjemput Krist tepat pukul 7 malam.
Krist mengangguk seraya tersenyum, ia berpamitan kepada bosnya lalu pulang dengan Singto.
Keduanya pulang dengan menggunakan motor pemberian mendiang ayah Singto, semua harta yang keluarg Singto berikan di kota tidak dikembalikan, termasuk tempat tinggal yang telah dibayar lunas sampai Singto lulus di tahun ini.
"Hari ini capek kerjanya?" Tanya Singto lembut, mengemudikan motornya dengan pelan, mengingat ia membawa orang hamil sebagai penumpangnya.
Yang lebih muda menggeleng kecil, "Enggak begitu capek, tapi kakinya pegel-pegel," Keluh Krist, "Kalo kakak gimana? Skripsinya lancar? Tadi gimana bimbingannya?"
Singto mendapatkan kesempatan untuk lulus lebih cepat, ketika ia berada di tahun ketiga perkuliahannya, ia telah mulai menyusun tugas akhirnya, sehingga kini ia tinggal menyelesaikan tahap akhirnya.
"Kakak bisa ikut sidang bulan depan, dan lulus tahun ini."
***
Entah apa yang tengah Dewa rencanakan untuk mereka berdua, Singto mendapatkan banyak sekali kemudahan di dalam urusan akademik dan pekerjaannya. Ketika ia akhirnya menerima dirinya yang harus bertanggungjawab atas Krist, ia langsung dipermudah dalam penyusunan tugas akhirnya. Kemudian ia diberikan pekerjaan untuk menjadi tenaga pendidik dengan gaji setiap bulan. Tak hanya itu, ia pun diberikan beasiswa pendidikan selanjutnya atas dedikasinya kepada yayasan Universitas.
"Kak, kayaknya Dewa emang lagi bantuin kita lewat kakak! Sebentar lagi aku mau lahiran dan ada aja rejeki yang dikasih ke kita. Kakak yang bisa lulus tahun ini, dan langsung dapet kerja, bahkan sambil kuliah! Aku bangga banget sama kakak!" Seru Krist ketika mendengar kabar yang alphanya berikan.
Lain dengan Krist yang bahagia, Singto begitu tertekan dengan apa yang ia terima, "Tapi kuliah sambil kerja itu berat, Kit! Kakak kaya enggak bisa buat ngejalaninnya," Alpha itu mengeluh.
Pernyataan Singto tentu membuat Krist sedikit tersinggung, "Terus... Gimana sama aku yang nggak kuliah, kak?" Tanyanya terbata, Krist menunduk seraya menatap perutnya yang telah membuncit. Tatapannya begitu sedih, karena ia ingin melanjutkan kuliahnya, namun terhalang biaya, ia harus bekerja demi membantu sang alpha yang membutuhkan uang untuk mereka berdua. Tapi Singto justru ragu, terkesan tidak ingin bekerja keras demi masa depan yang masih bisa mereka usahakan.
"Kamu nggak kuliah kan enak! Cuma kerja, dapet uang! Bahkan lebih banyak daripada aku yang cuma staff fakultas!"
"Tapi bukan itu yang aku mau, kak! Emang iya aku bisa hasilin lebih banyak uang! Tapi itu buat anak kita! Buat makan kita sehari-hari! Buat–"
Singto menyela dengan jengah, "Kamu pikir aku mau kayak gini?!"
"TAPI KAKAK YANG BIKIN KITA KAYAK GINI!" Krist mulai tersulut emosi, ia berdiri menantang alphanya.
"KOK NYALAHIN KAKAK?! KMU YANG SALAH! UDAH TAU LAGI HEAT! MALAH AJAK KAKAK MAIN!"
"TERUS AKU GITU YANG SALAH?! KAKAK–ADUH!" Omega itu meringkuk, memegangi perutnya yang terasa kram, ia seketika menangis, dan Singto juga berusaha mengusap perut omeganya khawatir.
Singto menuntun omeganya duduk di ranjang sempit kamar mereka, memastikan omeganya baik-baik saja, "Kita ke rumah sakit, ya?" Tanya Singto lembut, melupakan perdebatan yang ia lakukan dengan Krist.
"Ga perlu kak, aku udah gapapa," Ujar Krist lemah, ia bersandar pada sang alpha di sampingnya. Ia tertawa pelan, "Kayaknya adek negur kita supaya nggak berantem deh," Krist menggenggam erat tangan alphanya.
Tangan Singto yang mengusap perut Krist tak berhenti, ia menanggapi omeganya dengan kekehan pelan, "Kayaknya iya, kita cuma punya satu sama lain, harusnya kita nggak berantem," Ujar yang lebih tua, mengecup rambut Krist yang terasa kasar, "Maafin kakak ya Kit? Harusnya kakak nggak egois, kamu mau kakak lanjutin sekolah dan dapet pekerjaan bagus supaya kita bisa hidup enak."
"Maafin aku juga ya kak, kayaknya emang kita lagi sama-sama capek aja, jadinya kita berantem," Tambah Krist.
Keduanya terdiam beberapa saat dan saling bersandar satu sama lain, tiba-tiba Singto berujar, "Kakak ambil semua kesempatan yang mungkin buat kita hidup lebih baik, kakak sayang kamu, jadi tolong kita hidup untuk satu sama lain."
Bersambung, Hai! Sudah lama ya nggak ketemu?
KAMU SEDANG MEMBACA
(Sebelum) Rumah Cemara [SingtoKrist]
FanficSide Story "Rumah Cemara" Tentang Singto si pemain omega bertemu Krist si adik tingkat yang nakal. Karena jodoh adalah cerminan diri, siapapun tak akan mampu jika harus menggantikan salah satu dari mereka. Cerita ditulis berdasarkan imajinasi penuli...
![(Sebelum) Rumah Cemara [SingtoKrist]](https://img.wattpad.com/cover/363508153-64-k558706.jpg)