10-Kecewa

225 22 4
                                        

BRAK!!

Krist terperenjat kaget ketika sang ayah membuka pintu dengan kuat, karena selama ini ayahnya tak pernah berbuat kasar kepadanya.

"Kasih tau ayah, siapa dia?!"

Air wajah yang tak ramah lagi, Krist mengerti, ah, bangkai yang ia sembunyikan ternyata tercium juga.

"Krist, kasih tau ayah, siapa dia?!" Todong sang ayah, "Siapa yang udah hamilin kamu dan rusak masa depan kamu?!"

Nafas sang ayah memburu, wajahnya memerah marah disertai feromon yang terasa mencekik. Seketika membuat Krist tertunduk takut.

"Dia... kakak tingkat Krist di kampus," Gumam Krist yang masih didengar sang ayah, "Maafin Krist, karena Krist yang maksa dia,"

Sang ayah bukan lagi terkejut, alpha itu telah mencari pegangan untuk menopang tubuhnya yang limbung, nafasnya tiba-tiba sesak akan pengakuan bungsunya.

***

Suasana malam di kediaman keluarga Sangpotirat tak sehangat biasanya, meskipun ada cucu-cucu dari anak pertama tuan Sangpotirat, namun keadaan para orang dewasa begitu menegangkan.

Tee Jaruji, kakak satu-satunya yang paling memanjakan Krist, yang biasanya memiliki sorot teduh, kini tatapannya pada Krist hanya sebuah kekecewaan yang mendalam.

Malam ini, meja makan yang biasanya pejuh canda tawa itu, beralih menjadi suasana hening dan mencekam, tak ada aura baik di sana, bahkan si sulung yang biasanya mengajak Krist mengobrol panjang, menatap adiknya saja enggan. Sampai makan malam usai, tak ada yang berbicara meskipun sang kepala keluarga masih duduk di sana.

Krist makin ketakutan, dirinya hamil diluar pernikahan dan langsung diketahui oleh keluarganya. Hancur sudah harapan mereka pada Krist.

"Ayah, ngomong dong, jangan diem gini," Bujuk Krist.

Alpha tua itu berdeham kecil, "Udah lama pacaran sama dia?" Tanya sang ayah datar.

"Aku... nggak pacaran sama dia,"

Tee berdiri dari kursinya, "Aku mau nemenin anak-anakku," Ujar Tee cuek, "Dan Krist bukan adek aku lagi,"

Krist ungkin mengerti kekecewaan keluarganya. Mereka yang menjaga dan menyayangi Krist sepenuh hati, namun balasan yang mereka dapatkan justru menggores luka yang dalam untuk mereka.

"Maaf," Tak tahu apa lagi yang harus ia katakan, bahkan saat ini kata maaf pun tak berguna sama sekali. Krist telah membuat masalah besar.

Tak ada jawaban dari yang lebih tua. Ayah Krist nampak diam berpikir keras. Langkah kecil yang ia lakukan takutnya bisa mencoreng nama keluarganya.

Krist adalah anak yang ceria, penuh cerita, murah senyum dan ramah kepada siapa saja. Membuat  semua orang di Klan tempat Krist tinggal menyukai omega itu. Bahkan telah banyak lamaran yang datang untuk Krist semenjak omega manis tersebut dinyatakan lulus sekolah menengah, namun semua ditolak sang ayah dengan alasan pendidikan si  bungsu.

"Kit, semua kasih sayang dari ayah, papa, sama kakak kamu itu apa masih kurang? Apa kami kurang bebasin kamu, ya? Sampe kamu cari perhatian ke alpha lain? Kami kurang apa, nak?" Tanya sang ayah pertama kali.

Sang kepala keluarga menyalahkan dirinya sendiri, membuat hati Krist semakin ngilu, "Ayah sama papa nggak salah apa-apa, ini murni kesalahan Kit, ayah," Tutur Krist dengan suara bergetar.

"Ayah... aku bakal tanggungjawab sama anak ini, aku bakal berusaha jadi orang tua yang baik sama kaya kalian,"

Namun sang papa menggeleng, "Kita bukan orang tua yang baik, kalo kita orang tua yang baik, kamu nggak akan begini, nak..."  Ia lalu menanggis sendu, mengatur nafasnya  sedemikian rupa agar asma nya tidak kambuh.

Sedangkan Krist makin menunduk, pertama kali baginya membuat air mata untuk omega yang telah melahirkannya. Tak ada yang baik di sini.

"Besok kita ke Klan alphamu, kasih tau ayah nama belakang dia, ayah cari tau malam ini juga,"

***

Klan Singto dan Klan Krist ternyata bertetangga, Klan mereka benar-benar sering berhubungan dalam ranah perdagangan. Bahkan ayah Krist mengenal baik ketua Klan sebagai sahabatnya. Yang sialnya ia adalah ayah Singto.

"Wah, tumben nih pak dateng ke sini dadakan, ada pesenan mendadak apa gimana?" Sang ketua klan menyambut kedatangan tamunya dengan ramah seperti biasa.

Berbeda dengan Krist dan ayahnya yang muram masam, namun mereka terpaksa tersenyum kepada sang tuan rumah, "Bukan pak, kami kesini karena ada hal penting yang mau kami obrolin sama bapak," Ayah Krist mendapati kedua putra sang tuan rumah yang tengah berkebun bersama, "Dan anak bapak juga,"

Meski kebingungan, Asnee, ayah Singto tetap mempersilahkan tamu-tamunya masuk dan juga memanggil kedua putranya. Kini mereka telah duduk bersama di pelataran rumah sang ketua Klan yang masih asri dan sejuk meskipun matahari telah naik.

"Preed, sebenernya ini ada apa?" Tanya Asnee pada ayah Krist.

Preed menghela nafas lelah,  "Pak, salah satu anak kamu, ngehamilin anakku," Jelasnya, "Aku ke sini nggak minta pertanggungjawaban, aku cuma mau tau siapa ayahnya, biar dia tau kalo omega yang ditidurinya sekarang udah hamil," 

"APA?!" Asne berseru marah, emosinya  meluap begitu saja, menatap kedua anaknya penuh amarah, "Siapa dari kalian yang mau ngaku? Kalo enggak ada, kalian berdua ayah keluarkan dari Klan ini!"

Suasana berubah menjadi tidak kondusif, banyak orang datang berkerumun di luar pagar semenjak seruan pertama sang ketua Klan, sedangkan Krist yang berada di sana menangis karena tercekik feromon amarah alpha di sana. Sebagai satu-satunya omega, Krist tak sepatutnya berada di sekitar mereka.

Namun untungnya si bungsu dengan cepat mengaku, "Itu anak aku, yah..." Ujar Singto tegas, menatap sang ayah penuh keyakinan, "Aku yang bakalan tanggungjawab,"

Satu tamparan keras dilayangkan pertama kali oleh Asnee, alpha yang terkenal mencintai keluarganya itu kini memukul putranya sendiri di depan banyak orang. Namun Singto tak membalas, ia cukup tahu diri dengan konsekuensi yang ia terima, bahkan pukulan tadi belum seberapa dibanding nama keluarga yang telah tercoret di muka umum.

"Keterlaluan! Siapa yang ajarin kamu begitu ke omega?!" Cerca Asnee marah, "Terlepas omega yang kamu tidurin itu anaknya temen baik ayah atau bukan, perlakuan kamu udah tercela!"

"Pak, tolong jangan salahkan kak Singto aja, saya juga salah di sini," Krist buru-buru mengaku, bersimpuh di kaki Asnee memelas, bahkan Preed sang ayah sudah tidak peduli lagi tentang bungsunya itu.

Namun Asnee tidak menghiraukan omega manis itu, rasa malunya kini telah menjadi bahan bakar amarahnya yang membesar.

"Mulai hari ini, kamu bukan anakku lagi," Ujar Asnee sebelum jatuh dengan memegangi dadanya yang mendadak sakit seperti ditusuk jarum beribu kali.

"AYAH!"



















Bersambung, gimana chapter ini?

(Sebelum) Rumah Cemara [SingtoKrist]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang