Hari Pertama

55.7K 1.4K 53
                                        

Alarm sudah berkali-kali berbunyi, tetapi Sean tetap belum bangun pagi itu.

Beberapa menit kemudian, layar ponselnya menyala. Sebuah pesan dari Mamah masuk, dikirim tak lama setelah mereka berangkat.

Mamah:

"Sean."

"Sebelum berangkat jangan lupa sarapan. Mamah sudah siapin di meja makan."

Malam sebelumnya, Mamah memang sudah memberi tahu Sean bahwa pagi ini ia akan mengantar Papah ke stasiun. Lokasi proyek yang sedang ditangani Papah berada di kota sebelah, sehingga ia harus berangkat menggunakan kereta sejak pagi buta. Karena itu, mereka pun meninggalkan rumah lebih awal dari biasanya.

Namun, Sean baru menyadari pesan tersebut ketika matanya terbuka perlahan. Begitu pandangannya beralih ke jam dinding, ia langsung tersentak kaget.

"HAH! UDAH JAM SEGINI?!"

Tanpa membuang waktu, Sean segera berlari ke kamar mandi. Untungnya semua buku dan perlengkapan sekolah sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya, jadi ia tidak perlu repot mencari barang lagi.

Setelah selesai mengenakan sepatunya, Sean segera menyambar tas dan bergegas keluar rumah. Seandainya ia sudah mahir mengendarai motor, mungkin ia tidak perlu sepanik ini. Namun, hingga sekarang ia masih belum berani berkendara sendiri di jalan raya.

Tanpa membuang waktu, Sean segera mengeluarkan ponselnya dan memesan ojek online.

Tak lama kemudian, pengemudi yang menerima pesanannya tiba di depan rumah. Sean langsung naik ke atas motor, dengan nada penuh harap meminta agar sang pengemudi itu bisa sedikit mempercepat laju kendaraan karena dirinya sudah terlambat.

Beberapa menit kemudian, Sean akhirnya tiba di depan sekolah barunya. Ia buru-buru membayar ongkos perjalanan, lalu berlari menuju gerbang. Dugaan buruknya benar—gerbang sekolah sudah hampir ditutup.

"Pak, maaf! Boleh saya masuk?" serunya sambil sedikit terengah.

Satpam yang berjaga sempat menatap Sean sejenak, lalu mengangguk dan membuka jalan untuknya.

"Cepat masuk. Lain kali jangan telat lagi, ya."

"Iya, Pak." Sean mengangguk cepat. Sementara napasnya masih memburu ketika ia kembali berlari memasuki area sekolah.

Sesampainya di koridor, langkahnya berubah menjadi jalan cepat. Sambil terus bergerak menuju gedung kelas, ia mengeluarkan ponselnya untuk memastikan waktu. Begitu melihat angka 07.15 terpampang di layar, jantungnya serasa jatuh. Ia terlambat lima belas menit.

Sean segera membuka ruang obrolan dengan Mamah. Matanya menyapu pesan berisi informasi dari pihak sekolah yang sempat diteruskan Mamah kepadanya. Sesuai pemberitahuan tersebut, pada hari pertamanya sebagai siswa baru ia diminta langsung menuju kelas X-1

Tak pikir panjang ia langsung berlari, menutup ponselnya dan baru saja ingin menaruhnya di kantong.

Brug.

Sean menabrak seseorang. Keduanya sama-sama kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai. Dengan wajah panik, ia segera bangkit sambil mengulurkan tangan.

"Eh, maaf, Kak. Saya nggak sengaja."

Laki-laki yang ditabraknya ikut berdiri sambil mengebaskan debu yang menempel di seragamnya.

"Lo nggak punya mata apa gimana? Jalan selebar ini aja masih bisa—"

Kalimat itu terputus begitu saja begitu pandangan mereka bertemu. Laki-laki tersebut mendadak terdiam dan hanya menatap Sean selama beberapa detik.

Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang