Alarm sudah berkali-kali berbunyi, tetapi Sean tetap belum bangun pagi itu. Mamah dan Papah sedang tidak berada di rumah, jadi tidak ada yang membangunkannya seperti biasa.
Saat matanya terbuka perlahan dan melihat jam dinding, Sean langsung tersentak kaget.
"HAH?! SUDAH JAM SEGINI?!"
Tanpa membuang waktu, Sean segera berlari ke kamar mandi. Untungnya semua buku dan perlengkapan sekolah sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya, jadi ia tidak perlu repot mencari barang lagi.
Sean masih belum lancar mengendarai motor. Jadi ia buru-buru memesan ojek online untuk berangkat ke sekolah.
Begitu driver datang, Sean langsung memohon agar sedikit ngebut karena dirinya sudah terlambat.
Tidak lama kemudian, Sean akhirnya sampai di depan sekolah barunya. Namun seperti yang sudah ia duga, gerbang sekolah hampir ditutup. Sean langsung berlari menuju gerbang sambil memohon kepada satpam agar diperbolehkan masuk. Beruntung, satpam itu masih memberinya izin.
"Huh, untung aja..." batin Sean lega.
Sean berjalan cepat menyusuri koridor sambil membuka ponselnya untuk melihat jam.
"JAM TUJUH?!"
Tak pikir panjang ia langsung berlari, menutup ponselnya dan baru saja ingin menaruhnya di kantong.
Brug.
Sean menabrak seseorang.
Mereka berdua jatuh ke lantai. Sean jatuh hampir tepat di atas tubuh laki-laki itu. Dengan wajah panik, Sean langsung berdiri dan meminta maaf.
"Eh, maaf Ka. Saya nggak sengaja."
Beberapa detik, laki-laki itu hanya menatap Sean tanpa bicara. Sean yang gugup hanya bisa menunduk sampai akhirnya pria itu membuka suara.
"Lo nggak punya mata apa gimana!? Jalanan seluas ini bisa-bisanya."
"Maaf, Ka. Saya buru-buru," jawab Sean.
Sebelum suasana semakin panas, seorang guru tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Hei, hei, ada apa ini ribut-ribut?"
Laki-laki tadi langsung berubah sikap.
"Eh, nggak apa-apa, Pak. Kayaknya dia anak baru pindahan dan belum tahu kelasnya di mana. Saya mau bantu anterin."
Sean hanya bisa melirik dalam hati.
"Tadi marah-marah, giliran ada guru langsung sok baik" Batinnya.
"Oalah, ya sudah. Tolong dianter ya," kata guru itu.
"Aman, Pak."
Koridor sekolah terasa sepi karena pelajaran sudah dimulai. Hanya ada Sean dan laki-laki itu yang berjalan berdua.
"Lo kelas berapa?" tanyanya singkat.
"10.1."
Laki-laki itu kemudian menunjuk salah satu kelas di ujung koridor.
"Itu kelas lo."
Sean langsung mengangguk cepat. "Makasih"
Tanpa menunggu lama, Sean segera masuk ke kelas tersebut.
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, guru di dalam kelas mempersilakannya masuk. Sean diminta memperkenalkan diri di depan kelas.
"Hai semuanya, perkenalkan nama saya Sean Areswara Naraya. Saya pindahan dari Kota Dumoria. Semoga kita bisa berteman dengan baik."
"Baik, Sean. Kamu bisa duduk di samping Kai," ujar guru sambil menunjuk salah satu bangku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)
General FictionAda orang yang kita kenal lewat tatapan. Ada orang yang kita kenal lewat percakapan. Dan ada orang yang tanpa sadar sudah menjadi bagian dari hidup kita, bahkan sebelum kita mengetahui siapa mereka sebenarnya.
![Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)](https://img.wattpad.com/cover/367594146-64-k388941.jpg)