Awal dari Segalanya

25.8K 889 12
                                        

Tring...

Tring...

Alarm di ponsel Sean sudah berbunyi sejak beberapa menit lalu, tetapi laki-laki itu masih bergelung di balik selimut. Sampai akhirnya, pintu kamarnya terbuka pelan dan Mamah masuk sambil menghela napas kecil.

"Sean, bangun yuk. Kamu sekolah nggak?"

"Emhh... iya, Mah. Bentar lagi..." jawab Sean dengan suara serak karena belum sepenuhnya sadar.

"Ya sudah, jangan lama-lama loh. Setengah tujuh."

Mamah segera keluar dari kamar. Sean yang masih setengah mengantuk hanya mengangguk kecil sebelum kembali memejamkan mata selama beberapa detik. Namun saat otaknya mulai mencerna ucapan terakhir Mamah, matanya langsung membulat.

"Hah?!"

Sean spontan bangkit dari kasur dan meraih ponselnya.

Dalam hitungan detik ia sudah berlari menuju kamar mandi. Semua dilakukan secepat mungkin, mulai dari mandi, mengenakan seragam, hingga merapikan rambut yang masih sedikit berantakan. Saat akhirnya selesai dan kembali mengecek waktu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.50.

Panik mulai menyerangnya. Sambil memasukkan buku ke tas, Sean terus mencoba mencari pengemudi ojek online. Namun setelah beberapa kali mencoba, pesanannya masih belum juga mendapat respons. Akhirnya ia duduk di teras rumah sambil menatap layar ponsel dengan gelisah.

"Duh, jangan telat... jangan telat..."

Di tengah fokusnya mencari pengemudi, suara motor tiba-tiba terdengar mendekat. Awalnya Sean tidak terlalu memedulikannya karena jalan di depan rumahnya memang cukup ramai setiap pagi. Namun ketika suara mesin itu perlahan melambat lalu berhenti di depan pagar rumah, ia refleks mengangkat kepala.

Alisnya langsung bertaut.

Zio.

"Ayo, bareng sama gua," panggilnya sambil sedikit meninggikan suara agar terdengar hingga teras.

Sean sempat mematung.

Kok dia tahu rumah gua...?

Melihat Sean tak kunjung bergerak, Zio mengangkat bahu.

"Yaudah, gua duluan."

Motor itu nyaris kembali melaju sebelum Sean buru-buru berseru.

"EH! TUNGGU!"

Sean buru-buru berdiri hingga hampir menjatuhkan tasnya sendiri.

"Yaudah, yaudah!"

Zio terkekeh pelan sebelum menurunkan footstep motor.

Sean masih dipenuhi tanda tanya saat mengenakan helm dan naik ke belakang motor, tetapi karena waktu terus berjalan, ia memilih menyimpan semua pertanyaannya untuk nanti.

Perjalanan menuju sekolah berlangsung dalam suasana yang relatif hening. Beberapa kali Sean ingin bertanya bagaimana Zio bisa tahu rumahnya atau bagaimana kakak kelas itu tahu dirinya belum berangkat sekolah, tetapi setiap kali hendak membuka mulut, niat tersebut kembali urung dilakukan.

Sementara itu, Zio terlihat fokus menyetir tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin menjelaskan apa pun. Namun senyum tipis masih tersisa di balik helm yang dikenakannya.

Begitu sampai di sekolah, Sean yang sempat berharap masih bisa masuk tepat waktu hanya bisa menghela napas panjang saat melihat gerbang sudah tertutup rapat.

"Duh..." keluh Sean lemas dari atas motor.

Zio memarkirkan motornya di dekat gerbang. Sean turun sambil masih sibuk mengecek ponsel. Saat itulah Zio mendekat, membuka kait helm yang masih dikenakan Sean, lalu meletakkannya kembali di dudukan helm cadangan di samping motornya.

Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang