Pagi yang cerah menyambut hari Sabtu.
Sinar matahari sudah menembus sela-sela tirai kamar ketika Sean perlahan membuka matanya. Selama beberapa detik ia hanya berbaring diam di atas kasur, membiarkan kesadarannya yang masih tertinggal dalam kantuk kembali menyatu dengan kenyataan. Namun begitu matanya menangkap angka di layar ponsel yang tergeletak di samping bantal, seluruh rasa santai itu langsung menghilang.
07.10.
Sean seketika duduk tegak.
Hari itu adalah hari keberangkatan menuju Gunung Feyra untuk mengikuti kegiatan simulasi rescue gabungan PMR dan OSIS. Seluruh peserta diwajibkan sudah berkumpul di sekolah pukul delapan pagi, sementara perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dengan waktu yang tersisa kurang dari satu jam, ia jelas tidak punya kesempatan untuk bermalas-malasan.
Sean segera bangkit dari kasur dan bergerak secepat mungkin. Ia langsung mandi, mengenakan pakaian yang telah dipersiapkan sejak malam sebelumnya, lalu memeriksa kembali isi ranselnya untuk memastikan seluruh perlengkapan kegiatan dua hari satu malam itu sudah lengkap.
Pakaian ganti, perlengkapan pribadi, obat-obatan ringan, senter, hingga power bank sudah berada di tempatnya masing-masing. Setelah memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal, ia kembali melirik ponsel.
07.40.
Sean langsung menyambar ranselnya dan bergegas keluar rumah. Sesampainya di depan pagar, ia baru saja membuka aplikasi ojek online ketika suara motor terdengar mendekat. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan, tetapi ketika kendaraan itu berhenti tepat di depannya, Sean langsung mengangkat kepala dan menghela napas panjang.
Zio.
Ia menurunkan salah satu kakinya ke aspal sambil tetap berada di atas motornya. Wajahnya tampak setenang biasanya, seolah tidak ada hal penting yang sedang dikejar. Rambutnya sedikit berantakan diterpa angin pagi, sementara memar di sudut bibir dan pelipisnya masih terlihat jelas sebagai sisa perkelahian kemarin.
"Ayo berangkat."
Nada suaranya terdengar santai, seakan mereka memang sudah berjanji sejak awal.
Sean mengernyit. "Hah? Nggak usah. Gua naik ojol."
"Udah dapet?"
Sean terdiam.
Melihat ekspresi itu, sudut bibir Zio langsung terangkat membentuk senyum tipis. "Dikasih gratis malah nolak."
Sean mendecak kesal. Argumen itu kembali mengenai sasaran. Seolah belum cukup, Zio justru melanjutkan dengan santai.
"Oh iya, by the way," lanjut Zio, "utang lo nambah."
Sean langsung menoleh. "Hah?"
"Gara-gara lo, gua dihukum Pak Malik kemarin."
Sean mengernyit. "Eh, apaan sih? Gua kan nggak minta ditolong."
"Tapi gua udah nolong."
Ekspresi polos Zio justru membuat alis Sean semakin bertaut. Bukannya merasa bersalah, cowok itu malah terlihat yakin dengan pernyataannya sendiri.
"Ya itu kan salah lo sendiri."
"Intinya, lo utang dua."
Sean menatap Zio tidak percaya. Sementara itu, Zio sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda merasa perhitungannya aneh.
"Udah, cepet naik," ujar Zio santai.
"Nggak mau."
"Lo mau telat?"
Kalimat itu langsung mematahkan seluruh argumen Sean.
Ia melirik layar ponselnya sekali lagi. Status pencarian pengemudi masih belum berubah, sementara waktu terus berjalan. Pada akhirnya Sean hanya bisa mendengus pelan sebelum mengambil helm cadangan yang dibawa Zio. Tindakan sederhana itu langsung disambut senyum kemenangan dari kakak kelas tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)
Aktuelle LiteraturAda orang yang kita kenal lewat tatapan. Ada orang yang kita kenal lewat percakapan. Dan ada orang yang tanpa sadar sudah menjadi bagian dari hidup kita, bahkan sebelum kita mengetahui siapa mereka sebenarnya.
![Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)](https://img.wattpad.com/cover/367594146-64-k388941.jpg)