Suasana rumah tanpa papah malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya suara televisi kecil dari ruang tengah yang menemani.
Merasa jenuh hanya berdiam diri di rumah, Sean memutuskan keluar untuk berjalan-jalan sebentar. Begitu melangkah melewati pagar, udara malam langsung menyapa wajahnya. Jauh lebih sejuk dibandingkan terik matahari yang ia rasakan sejak pagi.
Awalnya, ia hanya berniat berkeliling area kompleks. Namun, tanpa benar-benar disadari, langkahnya terus membawanya semakin jauh hingga keluar dari kawasan perumahan.
Sean berjalan santai menyusuri trotoar. Sesekali kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket, sesekali matanya mendongak menatap langit malam yang hanya terlihat di sela-sela kabel listrik dan deretan pepohonan. Tidak ada musik yang mengalun dari earphone, tidak ada teman mengobrol. Yang terdengar hanya derap langkahnya sendiri, ditemani suara kendaraan yang sesekali melintas di jalan utama.
Malam itu, ia hanya ingin menikmati ketenangan yang belum sempat ia rasakan sejak pindah ke kota ini.
Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan.
Setelah merasa cukup, Sean memutuskan untuk pulang. Saat melewati jalan menuju gerbang kompleks, ia menyadari tempat yang tadi masih sepi kini mulai ramai.
Beberapa remaja berkumpul di bawah lampu jalan. Ada yang duduk di atas motor, ada yang mengobrol santai, dan ada pula yang sibuk memainkan ponselnya. Tawa mereka sesekali memecah keheningan malam.
Entah mengapa, Sean mendadak merasa tidak nyaman. Ia tidak mengenal mereka, tapi instingnya berkata untuk tidak terlalu lama di situ. Sayangnya, jalan pulang satu-satunya memang melewati titik itu.
Sean menurunkan pandangannya sedikit, mempercepat langkah tanpa terlihat mencolok. Ia mencoba bersikap seolah tidak memperhatikan mereka.
Tapi justru itu yang membuatnya semakin sadar—bahwa ia sedang diperhatikan.
Salah satu dari mereka bersiul pelan sementara yang lain tertawa kecil. Suara itu tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat dada Sean terasa berat.
"Anak baru, ya itu?"
Ia tidak merespons. Sean terus berjalan, berusaha tidak menoleh.
Percakapan mereka makin samar di belakang, tapi suasananya terasa menekan. Seolah ada sesuatu yang mengikuti langkahnya, meskipun ia tidak ingin memastikan.
Saat ia hampir melewati area itu, Sean tanpa sadar menoleh sekilas. Di kejauhan, ia melihat tiga orang mulai berdiri dan berjalan ke arahnya.
Detik itu juga, rasa takut muncul begitu saja tanpa sempat ia kendalikan. Jantungnya seperti jatuh ke perut.
Tanpa pikir panjang, Sean langsung berlari.
Langkahnya cepat, napasnya mulai tidak teratur. Jalanan malam yang tadi terasa tenang berubah jadi lintasan kabur yang hanya berisi suara langkah dan detak jantungnya sendiri.
"Woi!" teriakan itu terdengar dari belakang.
Sean tidak tahu apakah teriakan itu benar-benar ditujukan kepadanya. Ia juga tidak ingin mencari tahu. Yang ada di kepalanya hanya satu—segera sampai di kompleks perumahan secepat mungkin.
Setelah cukup jauh berlari, ia mulai merasa suara di belakangnya mengecil. Nafasnya sudah tersengal, dadanya naik turun cepat.
Ia berhenti sejenak di dekat tikungan yang hanya berjarak beberapa meter dari plang kompleks perumahannya. Dengan ragu, Sean menoleh ke belakang.
Kosong. Tidak ada siapa pun.
Sean mengembuskan napas lega. Bahunya yang semula menegang perlahan mulai rileks. Ia mengira semuanya sudah berakhir.
Namun, saat kembali melangkah dan mengalihkan pandangannya ke depan—
Brug!
Tubuhnya menabrak seseorang yang berdiri tepat di jalurnya. Benturan itu membuat mereka berdua kehilangan keseimbangan. Sean jatuh ke depan, hampir sepenuhnya menimpa orang itu.
Dalam sepersekian detik yang kacau itu, wajah mereka terlalu dekat. Posisi yang tidak seharusnya terjadi dalam keadaan apa pun. Dan tanpa sengaja, bibir mereka bersentuhan singkat—tidak lama, tapi cukup untuk membuat otak Sean berhenti bekerja sesaat.
Semuanya terjadi terlalu cepat. Tidak ada suara lari lagi. Tidak ada teriakan dari belakang. Hanya keheningan yang tiba-tiba terlalu keras di telinganya sendiri.
Sean membeku.
Matanya melebar, tubuhnya kaku, pikirannya kosong total.
Apa yang barusan terjadi?
Beberapa detik berlalu seperti waktu yang berhenti.
Begitu kesadarannya kembali, Sean langsung tersentak bangun. Wajahnya panas, panik, dan kacau dalam waktu yang sama. Ia bahkan tidak berani melihat orang yang ia tabrak.
"Ma-maaf!" suaranya nyaris pecah karena panik.
Tanpa menunggu jawaban, tanpa memastikan siapa orang itu, tanpa berani menatap wajahnya, Sean langsung berdiri dan berlari.
Kali ini, langkahnya terasa lebih kacau. Bukan lagi karena takut dikejar, melainkan karena kepalanya dipenuhi kejadian yang baru saja terjadi.
Sesampainya di depan rumah, napasnya masih memburu. Dadanya naik turun cepat ketika ia mendorong pintu dan masuk ke dalam.
"Sean, dari mana?" tanya Mamah dari ruang tengah.
Sean menghentikan langkahnya sesaat. Bibirnya terbuka, seolah ingin menjelaskan sesuatu, tetapi tidak satu pun kata berhasil keluar. Semua yang baru saja terjadi masih berputar-putar di kepalanya.
"Habis jalan-jalan, Mah."
Tanpa menunggu pertanyaan lanjutan, Sean langsung berjalan cepat menuju kamar. Langkahnya terburu-buru, seperti ingin menghindari seluruh dunia sekaligus.
Pintu kamar tertutup. Sean menjatuhkan dirinya ke kasur, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Gila..." gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Ia sama sekali tidak memikirkan segerombolan remaja yang tadi membuatnya panik. Yang terus menghantui benaknya justru benturan itu—pertemuan yang berlangsung hanya dalam hitungan detik, tetapi cukup membuat pikirannya berhenti bekerja.
Orang itu. Sean bahkan tidak sempat melihat wajahnya.
Di luar, malam tetap berjalan seperti biasa. Tapi di dalam kamar itu, Sean baru saja kehilangan ketenangan yang sebelumnya ia kira masih tersisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)
General FictionAda orang yang kita kenal lewat tatapan. Ada orang yang kita kenal lewat percakapan. Dan ada orang yang tanpa sadar sudah menjadi bagian dari hidup kita, bahkan sebelum kita mengetahui siapa mereka sebenarnya.
![Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)](https://img.wattpad.com/cover/367594146-64-k388941.jpg)