Pagi hari di Gunung Feyra datang lebih cepat daripada yang Sean harapkan.
Rasanya baru beberapa saat lalu ia kembali ke tenda setelah duduk sendirian di dekat api unggun, tetapi kini suara aktivitas sudah mulai terdengar dari luar. Resleting tenda terbuka, udara dingin langsung masuk, dan Kai yang sejak tadi sibuk membereskan barang-barangnya tanpa ragu membangunkannya.
"Bangun."
Sean mengerung singkat, lalu menarik sleeping bag hingga menutupi sebagian wajahnya.
Beberapa menit berlalu, Sean masih bergelung dalam sleeping bagnya saat Kai kembali membangunkannya.
"Bangun woi!"
Kai menggoyang-goyangkan tubuh Sean.
"Seann."
Akhirnya, dengan mata yang masih setengah tertutup, Sean duduk perlahan sambil mengusap wajah. Di sudut lain tenda, Nino juga ternyata sudah lebih dulu bangun dan sedang merapikan barang-barangnya dalam diam.
Seluruh peserta hanya diberi waktu sekitar satu jam untuk mandi, sarapan, membereskan perlengkapan, dan mempersiapkan diri sebelum agenda pagi dimulai. Karena suhu di Gunung Feyra jauh lebih dingin dibanding kota, sebagian besar siswa memilih jalan aman: mencuci muka, menyikat gigi, lalu berganti pakaian tanpa mandi.
Namun Sean termasuk golongan yang nekat.
"Lo serius mau mandi?" tanya Kai tidak percaya saat melihatnya mengambil perlengkapan mandi.
Kai menatapnya beberapa detik sebelum menggeleng pasrah.
"Gila, master limbad aja kalah sama lo gua rasa."
Sean hanya menyeringai kecil lalu pergi.
Lima belas menit kemudian, keputusan itu terasa seperti kesalahan terbesar yang ia buat pagi itu.
Saat keluar dari kamar mandi, seluruh tubuhnya menggigil hebat. Rambutnya masih basah, sementara udara pegunungan yang dingin membuat tangannya nyaris mati rasa. Kai yang kebetulan melihatnya dari kejauhan langsung tertawa tanpa ampun.
"Kedinginan?"
Pertanyaan konyol itu sukses membuat Sean jengkel.
"Diem lo."
Alih-alih berhenti, Kai justru tertawa semakin keras hingga beberapa siswa lain ikut menoleh ke arah Sean. Kesal, Sean memilih mengabaikannya dan berjalan cepat kembali ke tenda.
Namun langkahnya terhenti sesaat ketika melihat sesuatu yang tergantung di samping tasnya.
Hoodie oranye.
Sean melepaskan hoodie itu dari tasnya. Ia sempat berniat mencari pemiliknya saat itu juga, tetapi suara peluit dari lapangan utama lebih dulu terdengar memanggil seluruh peserta untuk berkumpul. I
Rencananya pun terpaksa ditunda.
Pagi itu ternyata masih ada satu agenda terakhir sebelum kepulangan.
Sesuai yang dijanjikan para pembina malam sebelumnya, seluruh peserta lebih dulu mengikuti kegiatan ringan untuk menutup rangkaian simulasi rescue yang telah berlangsung satu hari penuh kemarin. Tidak ada lagi tugas lapangan ataupun simulasi penyelamatan. Sebagai gantinya, mereka diajak mengikuti senam bersama dan beberapa permainan kelompok sederhana.
Meski sebagian besar siswa masih mengantuk, suasana perkemahan kembali ramai oleh suara tawa dan keluhan dari berbagai arah.
Terutama saat sesi senam dimulai. Beberapa orang sesekali menguap, Kai bahkan hampir kehilangan keseimbangan karena masih setengah tertidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)
Fiksi UmumAda orang yang kita kenal lewat tatapan. Ada orang yang kita kenal lewat percakapan. Dan ada orang yang tanpa sadar sudah menjadi bagian dari hidup kita, bahkan sebelum kita mengetahui siapa mereka sebenarnya.
![Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)](https://img.wattpad.com/cover/367594146-64-k388941.jpg)