Jengkel

32.2K 1K 12
                                        

Ayam mulai berkokok, menandakan matahari sebentar lagi terbit. Suara itu terdengar samar dari luar jendela kamar Sean, bercampur dengan suasana pagi yang masih gelap dan tenang.

Jam di dinding menunjukkan pukul 04.40.

Sean yang dari semalam belum tidur hanya menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Selimut yang menutupi sebagian tubuhnya sudah berantakan sejak beberapa jam lalu karena ia terus membolak-balikkan badan tanpa bisa benar-benar memejamkan mata.

Pikirannya kembali pada kejadian kemarin.

Ruang OSIS yang sepi.

Tatapan Zio.

Dan percakapan aneh yang terus berputar di kepalanya tanpa henti.

Semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas semuanya teringat.

Sean menghela napas panjang lalu menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Ia memejamkan mata, memaksa dirinya untuk berhenti memikirkan semuanya.

Entah kapan rasa kantuk akhirnya datang.

Yang jelas, ketika Sean kembali membuka mata, cahaya matahari sudah masuk melalui sela tirai kamarnya.

Ia langsung menoleh ke arah jam.

05.50.

Sean tersentak. Untung belum terlambat.

Tanpa banyak menunda, ia segera bangun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi. Air dingin yang membasahi wajahnya sedikit membantu mengusir sisa kantuk yang masih tertinggal.

Setelah selesai mandi dan mengenakan seragam, Sean merapikan perlengkapan sekolahnya. Buku-buku yang semalam sudah ia susun kembali diperiksa satu per satu untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

Beberapa menit kemudian, ia sudah siap berangkat. Seperti biasa, Sean pergi ke sekolah menggunakan ojol.

Udara pagi terasa cukup sejuk selama perjalanan. Jalanan belum terlalu ramai sehingga motor bisa melaju dengan cukup lancar. Di sepanjang perjalanan, Sean hanya duduk diam sambil memandang keluar.

Beberapa pedagang terlihat mulai membuka toko mereka. Ada juga anak-anak berseragam sekolah yang berjalan di tepi jalan sambil bercanda bersama teman-temannya.

Namun perhatian Sean tidak benar-benar berada di sana.

Pikirannya masih sibuk sendiri.

Setiap kali ia berhasil memikirkan hal lain, wajah seseorang selalu muncul kembali begitu saja.

Sean langsung mendecih pelan.

Tak lama kemudian, motor berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Sean turun lalu memberikan uang untuk ongkosnya.

Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dan menepuk pundaknya.

"WOI!"

Sean hampir melompat kaget.

"EH! Kai!" Sean refleks menoleh dengan kesal.

Kai hanya tertawa kecil. "Yuk ke kelas."

Suasana pagi di sekolah sudah cukup ramai. Beberapa siswa terlihat baru datang, sementara yang lain berkumpul di depan kelas masing-masing untuk mengobrol sebelum pelajaran dimulai.

Sebelum masuk kelas, Kai sempat memberitahu bahwa jadwal ekstrakurikuler PMR akan dimulai besok. Sean diminta langsung ikut oleh pembina.

Sean langsung berhenti berjalan.

"IH, BARENG LO KAN TAPI?"

"Iyee"

Sean langsung terlihat sedikit lega.

Teman Rahasiaku [BxB] (SEGERA TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang