Chapter 16 : Terungkap

100 8 0
                                        

"Yoon, bangun, Yoon."

"Eunghh..."

"Yoongii..."

"Emmh, hyung, ini masih pagi."

"Kita harus pergi dari sini, Yoon. Ayo!"

Yoongi mengucek matanya, tak ikhlas. Matahari saja belum bangun, mengapa hyung biru tua ini malah membangunkannya?

"Ck, ada apa, hyung?" gerutu Yoongi, tetapi bibir kecilnya dengan cepat dibekap Taehyung.

"Mmhh? MMPHH UNGH FHUMMHH!"

"SST! Vi dan Pak Theo ternyata bagian dari suku yang tidak jelas itu," bisik Taehyung dengan tatapan galak kepada Yoongi.

Yoongi terdiam, bukan karena takut pada Taehyung, tetapi terkejut oleh ucapan Taehyung.

Pak Theo? Apa Taehyung sudah gila? Jelas-jelas mereka mengalami kecelakaan di laut. Mengapa tiba-tiba Pak Theo mengenal Vi dan suku yang tidak jelas itu? Apa mungkin...

"Aku curiga ini bukan kecelakaan, Yoon, tapi direncanakan," jelas Taehyung, seolah dapat membaca pikiran Yoongi.

Yoongi terdiam saat Taehyung menatap sela-sela jendela. Terlihat banyak siluet yang berjaga di luar sana.

"J-jadi, apa yang akan kita lakukan, hyung?" tanya Yoongi sambil meremas selimut yang tadi ia pakai untuk terlelap setelah Taehyung perlahan melepas bekapannya.

Taehyung tidak menjawab. Ia menghela napas.

"Jujur, Yoon, aku tak tahu," ucapnya pelan.

Tampaknya Taehyung kecewa dengan dirinya. Rasanya ini adalah akhir dari perjalanan mereka. Apakah mereka benar-benar tidak akan keluar dari pulau ini?

Melihat itu, Yoongi merasa tidak enak. Perlahan, ia mendekatkan diri pada Taehyung dan memeluknya.

"Tak apa, hyung. Pasti ada jalan keluarnya," ucap Yoongi berusaha menenangkan.

Taehyung tersenyum kecil, membalas pelukan Yoongi. Oh, astaga, wangi lembut khas Yoongi membuatnya semakin tenang.

"Ia... aku harap seperti itu juga, Yoon," bisik Taehyung tepat di telinga Yoongi, membuat Yoongi merasa geli.

Keduanya melepaskan pelukan setelah beberapa saat. Yoongi lalu melihat sekeliling kamar itu.

"Apa yang kau cari, Yoon?" tanya Taehyung penasaran melihat Yoongi yang kini mulai meraba-raba setiap inci tembok.

"Mungkin saja tembok kamar ini terbuat dari bahan yang mudah rapuh, hyung," ucap Yoongi pelan.

Taehyung memiringkan kepalanya. Mustahil, mengingat Vi tampaknya adalah seseorang yang memiliki kekayaan, bukan kaleng-kaleng.

Click...

"Huh?"

Taehyung segera mengalihkan perhatian kepada sesuatu yang ditekan Yoongi. Nampaknya bagian tertentu dari tembok itu adalah tombol.

Krek...

Taehyung segera menghampiri Yoongi lalu menariknya. Yoongi yang terkejut tidak menyadari tembok tersebut bergerak di depannya, hampir mengenainya.

Keduanya menatap tembok yang tadinya terpasang rapi kini menepi ke arah kiri, membuka jalan masuk ke dalam suatu ruangan.

"I-ini kan..."

Taehyung terbatuk saat aroma tak sedap menyeruak ke dalam indera penciumannya.

"Aku tak akan pernah terbiasa dengan bau-bau ini."

Pandangan Yoongi lalu menangkap sesuatu.

Sebuah gerobak besar berisi kepala manusia dan bagian-bagian tubuh mereka.

"H-hyung..."

Yoongi menunjuk salah satu dari banyak kepala itu.

Taehyung yang melihat ke arah tunjuk Yoongi pun terkejut.

Itu adalah kepala dari beberapa guru yang menemani mereka.

Yoongi mencoba menyembunyikan wajahnya, menutupi pandangannya dengan kedua tangan mungilnya. Melihat itu, Taehyung segera menarik Yoongi ke dalam pelukannya, membisikkan kata-kata penenang.

"It's okay, Yoon. It's okay. Aku di sini, hyung di sini, oke?" bisik Taehyung, tetapi hanya dibalas anggukan oleh Yoongi.

Sambil menutup hidungnya, Taehyung melihat sekeliling. Apakah hanya ini yang dibuka oleh tombol itu? Jika memang demikian, maka hanya ada satu jalan keluar bagi mereka.

"H-hyung, apa yang harus kita lakukan?"

"Hanya ada satu cara."

Yoongi membulatkan matanya. Tatapan mereka kini tertuju pada gerobak besar itu.

"Persembahannya ada di dalam kamar tempat mereka berada. Ambil persembahan itu dan kurung dua orang itu bersama yang lain."

Survival - Taegi [Complete✔️]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang