Langit malam yang tenang dan berbintang menjadi latar sempurna untuk momen kebahagiaan mereka. Setelah acara kelulusan dan perayaan di pantai bersama Jungkook dan Jimin, Yoongi dan Taehyung memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua. Mereka kini duduk di sebuah taman kecil di tengah kota, yang dihiasi lampu-lampu gantung kuning redup.
Yoongi menyandarkan kepala ke bahu Taehyung, menikmati keheningan yang nyaman di antara mereka. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga melati dari taman sekitarnya.
“Gi,” panggil Taehyung pelan, memecah kesunyian.
“Hm?” Yoongi mendongak sedikit, menatap Taehyung yang terlihat serius namun tetap lembut.
“Aku ingin bicara sesuatu yang penting.”
Yoongi mengerutkan kening. “Apa lagi sekarang, Hyung? Jangan bilang ini tentang pekerjaan atau keluargamu.”
Taehyung tersenyum kecil, mengacak pelan rambut Yoongi. “Bukan. Ini tentang kita.”
Yoongi menatapnya dengan bingung, tapi ia tetap diam, menunggu Taehyung melanjutkan.
“Aku tahu selama ini, kau sering berpikir bahwa aku terlalu jauh dari jangkauanmu. Kau selalu merasa aku terlalu sibuk dengan tanggung jawab keluarga dan perusahaan, sementara kau hanya... kau.”
“Bukannya itu memang benar?” Yoongi memotong, mencoba tersenyum meskipun terdengar getir. “Kau dari keluarga kaya, Hyung. Kau punya segalanya, sementara aku—”
“Tidak,” Taehyung menyela dengan tegas, lalu menggenggam tangan Yoongi erat. “Jangan pernah meremehkan dirimu sendiri, Gi. Kau adalah orang yang membuatku tetap berdiri sampai hari ini. Kau adalah alasan aku menentang perjodohan yang direncanakan keluargaku. Kau adalah alasanku melawan semua ekspektasi mereka.”
Yoongi terdiam, hatinya bergetar mendengar kata-kata itu.
“Saat kita di pulau itu,” lanjut Taehyung dengan suara yang sedikit serak, “aku melihat sisi dirimu yang luar biasa. Kau menjaga aku, bertarung demi kita, dan tidak menyerah meski situasinya sangat sulit. Kau membuktikan bahwa aku lebih berarti dari apa pun di dunia ini. Jadi, bagaimana mungkin aku memilih orang lain selain kau?”
Yoongi hanya bisa menatap Taehyung, matanya mulai berkaca-kaca. “Hyung, aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Aku tidak ingin kehilanganmu.”
“Dan aku juga tidak ingin kehilanganmu,” jawab Taehyung sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya. “Aku ingin kau tahu, Gi, tidak ada apa pun—tidak ada orang, tidak ada status, bahkan tidak ada dunia—yang bisa memisahkan kita.”
Taehyung berlutut di hadapan Yoongi, membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin berlian kecil yang elegan.
“Min Yoongi,” suara Taehyung penuh emosi, “maukah kau menikah denganku?”
Yoongi terdiam. Detak jantungnya berpacu cepat, seakan waktu berhenti. Taehyung menatapnya dengan mata penuh harap, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yoongi merasa benar-benar dihargai, seolah-olah ia adalah pusat dunia seseorang.
“Hyung... kau serius?” suara Yoongi nyaris berbisik, penuh keraguan sekaligus haru.
Taehyung mengangguk tegas, senyuman lembut menghiasi wajahnya. “Aku tidak pernah lebih serius dari ini, Gi.”
Air mata mulai menggenang di mata Yoongi, tapi ia mencoba menahannya. “Tapi... keluargamu? Perusahaanmu? Bagaimana jika mereka menentang? Aku tidak ingin menjadi bebanmu.”
“Yoongi,” potong Taehyung dengan suara lembut tapi tegas, “aku sudah berbicara dengan mereka. Kupastikan mereka tahu bahwa ini bukan tawar-menawar. Aku mencintaimu, Gi, dan aku tidak akan menyerah hanya karena mereka memiliki harapan lain. Kau adalah pilihanku, dan aku akan mempertahankan kita, apa pun yang terjadi.”
Yoongi menggeleng pelan, setengah tidak percaya. “Hyung, aku bahkan tidak tahu apa yang bisa kuberikan padamu. Aku tidak punya apa-apa dibandingkan kau.”
“Kau sudah memberikan segalanya, Gi. Kau memberikan hatimu, waktumu, dan keberanianmu. Itu lebih berharga dari apa pun yang ada di dunia ini,” jawab Taehyung, matanya tidak pernah lepas dari Yoongi.
Yoongi akhirnya tertawa kecil, meskipun air mata mulai mengalir di pipinya. “Kau terlalu pandai berkata-kata, Hyung.”
Taehyung tersenyum, menunggu jawaban yang dinantikannya.
Yoongi menghela napas dalam, lalu mengangguk pelan. “Ya. Aku akan menikah denganmu.”
Mata Taehyung berbinar penuh kebahagiaan. Ia segera memasangkan cincin itu di jari Yoongi, lalu menariknya ke dalam pelukan erat. “Terima kasih, Gi. Aku berjanji akan membuatmu bahagia.”
Yoongi tertawa kecil di bahunya. “Kau sudah melakukannya, Hyung.”
Malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama di taman kecil itu, berbicara tentang masa depan mereka—impian, harapan, dan rencana. Yoongi menyadari, Taehyung bukan hanya seorang kekasih, tapi juga sahabat, pelindung, dan tempat ternyaman untuk kembali.
Langit malam yang dihiasi bintang seolah menjadi saksi atas awal perjalanan baru mereka, sebuah janji untuk bersama, apa pun yang akan terjadi di masa depan.
End.
Ending cerita ini menutup penantian pembaca yang setia menunggu author satu ini yang (nampaknya) mager update 🫣. Saya mengucapkan banyak banyak terimakasih karena sudah menyempatkan waktu membaca dan memberikan vote serta komen, yang secara tidak langsung menyemangati saya untuk menyelesaikam cerita ini. Thank you so much and hopefully, this ending matches your expectation.
Hasta luego and good day. See you again on my upcoming stories ~
KAMU SEDANG MEMBACA
Survival - Taegi [Complete✔️]
FanfictionKatanya sih field trip, kok gini? Taegi Kookmin #1 On Kookmin
![Survival - Taegi [Complete✔️]](https://img.wattpad.com/cover/360674386-64-k997937.jpg)