Terimakasih sudah membaca cerita saya sampai sejauh ini. Dukungan kalian sangat saya butuhkan! Silakan tinggalkan jejak berupa vote dan komentar yaa!
Happy reading!
__________
Terlihat seorang gadis sedang sibuk menata barang miliknya. Memasukkan pakaian ke lemari, menata buku di rak, dan banyak lagi. Kamar itu cukup besar, jadi untuk membereskan barangnya memerlukan waktu cukup lama.
Namanya Ara. Ia memutuskan pindah ke kota masa kecilnya setelah kelulusan SMA. Ia pindah seorang diri, meninggalkan orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaan di tanah orang. Alasan ia pindah adalah karena ia menyukai suasana di kota kelahirannya, lagi pula ia juga lolos di kampus cukup ternama di kota itu.
Ia sibuk membereskan kamarnya, ruangan lain sudah dibereskan oleh suruhan orangtuanya. Ia tidak diizinkan menyewa pembantu, segalanya harus dilakukan sendiri termasuk membersihkan rumah. Ia sedikit mengeluh, bukan karena tidak bisa tapi entah bagaimana dengan kesibukannya kelak.
"Oke, gue harus belanja bahan makanan. Bisa-bisa gue mati kelaparan dan nggak mungkin selalu pesan makanan di luar dengan uang jajan segini."
Ara menuruni anak tangga, menggunakan jeans setengah paha dan kaos over size. Tidak lupa membawa handphone dan keperluan lain. Ia masuk ke mobil miliknya, melajukan mobilnya sambil mencari lokasi pasar di google map. Masih pukul 09.00 seharusnya masih bisa belanja ke pasar.
Sayangnya jarak pasar terlampau jauh, akhirnya Ara memutuskan untuk pergi ke toko swalayan. Mungkin lebih mudah dan cepat belanja di sana. Terbukti setelah sampai, Ara tidak perlu repot mencari dan menawar.
Saat hendak mengambil cumi yang hanya tersisa satu bungkus, ternyata berbarengan dengan orang lain yang hendak mengambil cumi itu juga.
"Eh, maaf. Silakan Tante, biar saya ambil yang lain saja." Ara menunduk meminta maaf, tidak sempat melihat siapa orang yang ada di hadapannya.
"Lho, Ara, ya? Dari kapan kamu di sini sayang?" Suara yang cukup familiar di telinga Ara.
"Eh, Tante Reni. Baru tadi pagi, Tante. Tante gimana kabarnya?" Ara sedikit bernafas lega begitu mengetahui siapa yang sempat berebut cumi dengannya.
"Tante, baik. Kamu makin cantik aja ya setelah besar." Reni tersenyum, Ara sedikit tak percaya, bahkan setelah enam tahun orang di hadapannya ini tidak berubah. Tetap terlihat cantik. "Oh iya, kamu mau bikin cumi ya? Gimana kalo kamu main ke rumah Tante, ada Riko juga. Nanti Tante masakin cuminya."
"Nggak usah, Tante. Merepotkan."
"Kamu ini, kayak sama siapa aja. Tante tunggu di rumah yaa." Ara mengangguk, setelahnya Reni pamit meninggalkan dirinya.
Ara bergegas menyelesaikan belanjanya. Ia tidak hanya membeli kebutuhan dapur tapi juga cemilan untuk dirinya. Setelahnya ia kembali ke parkiran dan melajukan mobil menuju rumahnya. Rumah Reni tidak jauh dari rumahnya. Hanya berjarak sepuluh langkah. Ara segera membereskan barang belanjaannya, kemudian pergi mandi dan bersiap ke rumah Reni.
Ting tong!.... Ting tong!....
Ara membunyikan bel, terdengar teriakan dari dalam memintanya untuk masuk. Ara segera masuk dan berjalan ke arah dapur, tempat di mana pemilik rumah berada.
"Tante, Ara bisa bantu apa?"
"Nggak perlu, sayang. Kamu ke atas aja samperin si Riko kayaknya dia kangen sama kamu. Dia ada di kamarnya, kamu masih ingat kamarnya kan?"
"Eh, masih, Tante."
Ara bergegas naik ke lantai dua, menuju kamar Riko. Kamar yang dahulu sering ia kunjungi. Tanpa pikir panjang, Ara langsung membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk.
"Aaa.. mmmm" Teriakan Ara yang segera ditahan oleh tangan kekar si pemilik kamar.
Riko menarik tubuh Ara, masuk ke kamarnya dan segera menutup kembali pintu kamar itu.
"Ssstt! Lu ngapain teriak? Berisik banget di rumah orang." Riko melepaskan tangannya dari mulut Ara. Menatap sebentar wajah perempuan yang sangat ia rindukan.
"Lu kenapa nggak pakai baju!" Ara menutup mata dengan tangannya. "Mama... Mata Ara ternodai.... Hiks!" Ara berpura-pura menangis mendramatisir keadaan.
"Lebay, lu. Bilang aja lu suka kan liat badan gue sekarang? Lagian salah lu sendiri main masuk aja." Riko menarik tangan Ara dan mengarahkannya ke perut sixpack miliknya.
"Hah?! Lu ngapain?" Ara panik karena tangannya tidak bisa ditarik, genggaman Riko cukup kuat. "Eh, keras banget perut lu." Ara melupakan situasinya. Ia justru menekan tangannya di perut Riko, seperti mainan baru. "Ahhh!"
Tanpa aba-aba, Riko menggendong tubuh Ara dan membawanya ke kasur king size miliknya. Riko menindih tubuh Ara, meletakkan wajahnya di ceruk leher Ara. Menghirup kuat aroma tubuh itu.
"Kenapa balik ke sini?" Tanya Riko tanpa mengangkat tubuhnya. Ia masih betah menghirup dan menciumi ceruk leher Ara.
"Ngghhh Riko... Lu ngapain?" Ara merasa geli sekaligus basah di ceruk lehernya.
.
.
.
.
Selengkapnya bisa kalian baca di karya karsa yaa
Link: https://karyakarsa.com/Nisayy/sahabat-kecil-752739
KAMU SEDANG MEMBACA
One/Two Shoot [END]
RomanceJangan cuma baca, wajib Vote! Pastikan untuk follow terlebih dahulu! Lebih bagus kalo ngasih komentar atau request cerita bisa langsung DM yaww! Cerpen dewasa, bocil dilarang mampir. hanya untuk 21+ dosa tanggung sendiri. Diusahakan update setiap ha...
![One/Two Shoot [END]](https://img.wattpad.com/cover/363969115-64-k366972.jpg)