Jangan cuma baca, wajib Vote!
Pastikan untuk follow terlebih dahulu! Lebih bagus kalo ngasih komentar atau request cerita bisa langsung DM yaww!
Cerpen dewasa, bocil dilarang mampir. hanya untuk 21+ dosa tanggung sendiri.
Diusahakan update setiap ha...
Jangan lupa votenya ya! Lengkapnya ada di link di kolom komentar!
. . .
Ting tong.... Ting tong.... Ceklek!
"Akhirnya Dateng juga, gue tunggu daritadi." Aku membuka pintu dan melihat kedatangan Nanda.
Hari ini kami berencana mengerjakan tugas kelompok. Sesuai kesepakatan, kami mengerjakan di rumahku. Nanda telat 15 menit dari waktu yang dijanjikan.
Aku melihat Nanda hanya mematung berdiri tanpa merespon ucapanku. Terlihat ada pergerakan di jakunnya. Aku menyentuh bahunya untuk mencoba menyadarkannya dari lamunan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lu kenapa?"
"Ekhem! Gapapa, lu nggak berencana ganti baju?" tanya Nanda sambil memasuki rumahku.
"Buat apa? Lagian ini di rumah."
Nanda diam saja. Aku membawanya ke ruang keluarga, di sana adalah tempat paling nyaman untuk mengerjakan tugas. Aku meminta Nanda untuk duduk di sofa panjang saat aku hendak membuat minuman dan cemilan untuknya.
Saat aku kembali, terlihat Nanda yang sudah sibuk dengan buku catatan dan laptop yang terbuka. Aku menyimpan nampan berisi makanan itu dan segera duduk tepat disampingnya. Awalnya tubuh Nanda seolah terlonjak kaget.
"Tiara, baju lu terlalu pendek. Jangan nempel ke gue, atau gue nggak akan tanggung jawab."
"Sorry deh ..."
"Ortu lu kemana?"
"Oh iya, gue lupa bilang. Tadi siang tiba-tiba mereka ngabarin kalo bakalan lembur. Jadi gue di rumah sendiri deh. Untung lu udah Dateng ...."
Setengah jam berlalu sejak kami mulai fokus mengerjakan tugas. Tugas yang awalnya banyak dan sulit jadi lebih mudah saat dikerjakan bersama dan mempersingkat waktu.
Kami membagi dua tugasnya, sebelum nanti akan di cek oleh Nanda tugas yang aku kerjakan. Karena Nanda adalah orang yang paling pintar di kelas, jadi aku beruntung bisa berkelompok dengannya.
Hingga setengah jam berlalu lagi, aku sudah selesai dengan tugasku begitu juga dengan Nanda. Aku menyerahkan buku catatanku untuk Nanda koreksi. Aku menatap Nanda yang 100 kali lebih tampan saat sedang serius mengoreksi tugas.
"Nanda ...." Aku sedikit mencondongkan tubuhku ke arah Nanda, membuat belahan dadaku tidak sengaja terlihat.
"Hmmm"
"Lu tahu rasanya ciuman? Lu pernah?" Nanda langsung menatap ke arahku setelah mendengar pertanyaanku. Ia lebih terkejut melihat dadaku yang sedikit terekspos itu berada tepat di depan wajahnya.
"Lu lagi godain gua?"
"Eh! Eng .... Bukan gitu. Gua ...." Tiba-tiba Nanda bangkit dan membopong tubuhku ke atas sofa. Tubuhku diletakkan di pangkuannya. "Nanda! Lu mau ngapain?" Aku panik tapi juga penasaran apa yang akan Nanda lakukan.
"Mau coba?"
Satu tangan Nanda digunakan untuk menahan tubuhku dan satu lagi untuk mengarahkan wajahku. Jarak wajah kami semakin dekat. Tiba-tiba tatapan intens diperlihatkan oleh Nanda yang membuatku terpesona.
Cup!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bibir kami bersentuhan. Nanda tidak langsung menarik kembali wajahnya. Aku melihat matanya terpejam.
"Tutup matanya ..." Nanda memberi instruksi tanpa menjauhkan wajahnya, membuat gerakan bibirnya terasa di bibirku.
Aku menurutinya, tiba-tiba aku merasa jika jarak kami semakin dekat. Beberapa detik kemudian, aku merasakan sedotan lembut di bibirku. Sensasinya membuatku merasa ingin lebih.
Nanda terus mengemut bibirku, hingga aku merasa lidahnya seolah meminta akses untuk masuk ke mulutku. Aku segera membuka mulut dan kemudian ciumannya menjadi sangat memabukkan. Aku terbuai, ditambah dengan tangannya yang sebelumnya memegang wajahku, kini sudah meraba payudaraku.
Aku tidak bisa menolak sensasi yang luar biasa ini. Hingga cukup lama kami berciuman dan nafasku seolah ingin habis. Aku menepuk-nepuk dadanya meminta selesai.
Nanda yang mengerti itu segera melepaskan pagutan kami dan menciptakan bunyi yang khas. Dengan wajah yang masih sangat dekat, nafas kami memburu.
Tangan Nanda masih setia memegangi payudaraku sebelum ia mulai bergerak ke arah pinggang. Dan srett! Satu-satunya tali pengait dress dilepas olehnya membuat dress luruh begitu saja ke lantai karena bahannya yang licin. Kini terpampang jelas tubuhku yang hanya ditutupi oleh bh dan celana dalam.
"Nanda?!"
"Ssttt! Ikuti aja permainan gue ..."
. . .
Versi lengkap ada di karyakarsa, link ada di kolom komentar yaa!