Sebenarnya dilihat dari sisi manapun, yang dibicarakan Raina tidak ada yang salah. Raina pasti kesal dengan apa yang dia dengar dari adiknya. Tapi juga merasa senang karena akhirnya Jenagara memiliki tanggung jawab.
Atau lebih tepatnya, senang karena adiknya itu akan melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Usia adiknya itu sudah cukup mapan untuk menikah. Raina selalu merasa takut kalau nantinya Jenagara memilih untuk sendiri sampai mati. Tapi untungnya, keadaan ini membuat Jenagara mau tidak mau harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.
Meski Raina belum mengetahui bagaimana perempuan yang harus terjebak hidup bersama adiknya. Tapi Raina berharap bahwa mereka akan menjadi kesatuan yang baik.
Lagipula, bagaimanapun juga yang terlibat nantinya dalam sebuah pernikahan kan bukan hanya Jenagara. Tapi perempuannya juga.
Dan hari ini, Jenagara berniat untuk mengenalkan Andara pada Raina. Kakaknya itu harus tau kalau perempuan yang akan dia nikahi nanti memang perempuan baik.
"Jadwal saya sudah selesai kan hari ini?" Tanya Jenagara ke sekretarisnya.
Perempuan yang biasa dipanggil Bunga itu mengangguk pelan.
"Hari ini selesai pak, tapi besok pagi bapak harus sudah ada di kantor. Bapak gak lupa kan sama janji yang kemarin batal?"
"Oh, klien yang kemarin gak jadi ketemu saya itu?"
Bunga mengangguk sopan, karena ini masih di kantor. "Oke. Saya usahakan datang pagi."
"Bapak kalau bilang usaha biasanya mencurigakan. Nanti saya telpon jam 6 pagi." Bunga menatap bos nya itu dengan berani.
Maklum, mereka sudah menjadi partner bekerja sejak 3 tahun lalu. Bunga sudah hafal betul sifat bos nya dia ini.
Bahkan sepertinya, di luar urusan kantor mereka. Bunga sudah menganggap Jenagara seperti abangnya sendiri. Abang yang kelakuan nya lebih sering membuatnya pusing.
"Apa gak kepagian kamu bangunin saya jam 6 pagi??" Jenagara protes tidak terima.
Tapi Bunga menggeleng keras. "Ngga pak, janji temu nya kan 8 jadi bapak harus bangun pagi."
"Ya ampun iya iya." Jenagara mendengus. "Kalau gitu saya pulang duluan, kamu pulangnya hati hati."
"Siap pak, bapak juga hati-hati."
Setelah itu mereka berpisah karena Bunga biasanya pulang pergi pakai kendaraan umum atau dijemput oleh pacarnya. Sedangkan Jenagara membawa mobil yang biasa disimpan di basemen kantor.
Hari ini Jenagara pergi ke kedai membawa mobilnya.
Bisa dibilang ini pertama kali Andara melihatnya membawa mobil.
Andara senyum tipis setelah menerima uang dari pembeli terakhirnya. Akhirnya dia bisa istirahat juga. Andara duduk di kursi sambil makan es krim, karena kebetulan masih ada sisa.
Sedang asik makan, pintu kedai terbuka. Andara refleks menoleh dan tersenyum saat melihat yang datang ternyata Jenagara.
"Hai mas," Andara bangkit dari duduknya. Tapi bukan untuk menghampiri Jenagara, perempuan itu kembali ke konter es krim.
Jenagara bingung, tapi dia memilih duduk saja di tempat Andara duduk tadi.
Tidak lama setelahnya Andara kembali dengan satu cup es krim vanila. "Kebetulan masih ada sisa" katanya sambil memberikan satu cup es krim pada Jenagara.
Jenagara tersenyum menerimanya. "Terima kasih".
Andara balas senyum manis. Dia kemudian duduk di depan Jenagara.
"Mas kemarin gak ke sini," kata Andara membuka pembicaraan.
Jenagara terkekeh senang. "Kamu nungguin saya?"
"Ngga sih, cuma suka was was aja takutnya dateng."
"Ko takut?"
Andara buru-buru menggeleng pelan, "Bukan bukan. Takutnya pas Mas dateng akunya udah pulang ke rumah. Gitu."
"Oh," Jenagara terkekeh lagi. "Kan saya udah tau rumah kamu. Kalau kamu gak di sini pasti saya samper ke rumah."
"Iya juga sih." Andara kehabisan kata kata untuk membalas. Jadi setelahnya ia hanya diam.
Karena es krim miliknya sudah habis lebih dulu. Andara jadi bingung saat ini. Kalau dia memperhatikan Jenagara, nanti laki-laki itu berpikir kalau dia masih menginginkan es krim.
Walaupun sebenarnya memang masih ingin sih.
"Ko kamu gak hubungin saya?" Jenagara akhirnya bertanya karena tidak nyaman dengan keadaan mereka yang saling diam.
Andara senyum sedikit meringis. "Aku belum butuh."
"Oh, jadi kamu bakal hubungin saya kalau kamu butuh aja?"
"Eh?" Andara merasa kalau dia salah bicara. Dia menatap Jenagara karena merasa bersalah. "Bukan gitu maksudnya mas, aduh, itu, ngga gitu maksud aku."
Jenagara tertawa geli melihat raut wajah panik Andara.
"Iya udah gapapa. Kamu gak usah panik gitu, saya juga ga marah. Kamu emang harus hubungin saya kalau butuh."
"Mas, gak gitu maksudnya."
"Saya gak marah Dara." Jenagara masih saja tertawa geli. Habisnya Andara ini menggemaskan sekali ya, sudah dibilang kalau dia tidak apa-apa tapi masih merasa tidak enak padanya.
Andara akhirnya menghembuskan nafas kasar. "Mas," panggilnya pelan.
"Iya kenapa?"
"Sebenernya kemarin aku nungguin Mas dateng." Andara jujur dengan malu-malu.
Jenagara mengernyit, "Kenapa? Ada yang mau kamu omongin? Kenapa gak telfon saya aja, saya pasti nyamperin kamu kalau kamu mau saya dateng."
"Iya justru itu, aku gak enak kalau nelpon. Takutnya mas sibuk."
"Padahal kemarin saya nganggur." Jenagara terkekeh geli. Mengingat kemarin itu dia memang tidak memiliki kegiatan penting dan berakhir mengganggu Raja. "Jadi, ada apa kamu nungguin saya?"
"Aku, em," Andara menunduk karena tiba-tiba tidak seberani itu untuk menatap Jenagara. "Aku gatau keputusan aku ini bener atau ngga. Tapi selama seharian kemarin aku udah mikir panjang soal ini."
"Soal apa?" Jenagara penasaran.
"Maaf kalau aku lancang, tapi tawaran kemarin masih berlaku kan Mas?"
Jenagara mengerutkan kening saking bingungnya ke arah mana obrolan Andara.
"Tawaran saya yang mana? Ayo bilang aja Dara, jangan sungkan sama saya" Jenagara menatap Andara lekat. Masalahnya, dia benar-benar tidak tahu tawaran mana yang sedang Andara maksud.
Mengingat belakangan ini dia menawarkan banyak hal pada Andara, dia jadi tidak mengerti mana yang dimaksud oleh perempuan di depannya.
Andara pun sebetulnya gugup sekali, tapi menurut dia ini keputusan terbaik untuk masa depan anaknya. Bagaimanapun, yang paling penting untuk Andara saat ini adalah anaknya.
"Ayo nikah Mas, saya mau menikah sama Mas Jegra."
Jenagara melongo. Tapi tidak lama dari itu senyumnya mengembang sempurna. Sebelum akhirnya bangkit untuk memeluk Andara yang sekarang sedang menunduk malu.
![TAKDIR [YEJENO]](https://img.wattpad.com/cover/369131909-64-k797889.jpg)