Janji suci

495 51 1
                                        

Andara pikir Jenagara tidak serius dengan omongannya tempo hari. Masalahnya, Jenagara memutuskan untuk mempercepat pernikahan dalam keadaan yang menurut Andara kurang meyakinkan.

Sebab waktu itu Jenagara sedang dalam keadaan sakit. Andara jadi ragu kalau Jenagara hanya berbicara asal alih alih benar memikirkan pernikahan mereka.

Lagipula, Andara takut kalau Jenagara bilang begitu karena kebingungan yang dikeluhkannya. Tetapi ternyata tidak. Jenagara justru serius sekali dalam ucapannya.

Dia betulan meminta Andara untuk setuju kalau pernikahan mereka dipercepat.

Mengabulkan inginnya Andara, malam itu mereka mendiskusikan banyak hal. Kondisi Jenagara yang sudah membaik saat itu akhirnya membuat Andara setuju untuk membicarakan banyak topik penting dengan Jenagara.

Salah satunya mengenai pengasuhan calon anak mereka yang tidak bisa Andara lakukan sendirian.

"Aku emang pernah berpikir buat ngasuh anak kita sendirian Mas, tapi ternyata setelah aku pikir lagi aku gak akan bisa karena semisal aku gak ketemu Mas, aku pasti harus kerja dan anak aku gak akan bisa aku pantau 24 jam".

Jenagara mengangguk paham. "Saya rasa pengasuhan anak emang gak bisa murni dilakukan sendirian."

Untuk itu Andara sangat setuju. Terlebih mereka nantinya akan menikah, tentu saja peran ayah juga harus turut andil dalam perkembangan seorang anak.

Mengingat hasil dari pemeriksaan kandungan kalau anak mereka kemungkinan laki-laki, tentu Andara akan membutuhkan Jenagara sebagai sosok ayah yang akan dicontoh oleh anaknya.

"Makannya, aku mungkin bakal butuh bantuan orang lain. Tapi aku butuh orang yang mau mengikuti kehendak aku Mas, aku gak mau kalau orang yang bantu aku nantinya malah menggurui aku".

"Saya paham, mbak Raina itu ngurus Raja gak dibantu sama bibi asuh karena dulu mama masih ikut ngasuh Raja. Dan mama cukup supportif dengan menghargai semua pola asuh mbak, jadi saya paham maksud kamu. Nanti saya bantu carikan orang yang cocok ya, saya juga akan bantu kamu semampu saya. Walaupun ilmu saya juga kurang matang soal pengasuhan anak, tapi kita belajar sama sama ya? Saya juga akan carikan kelas kelas parenting buat kita berdua".

Andara mengangguk senang mendengar penuturan Jenagara. "Terima kasih ya Mas. Terima kasih karena Mas gak nolak aku ajakin diskusi soal banyak hal. Terutama soal pendidikan anak kita".

"Sama sama sayang, saya yang terima kasih. Kamu bilang ke saya kalau kamu gak lanjut kuliah waktu itu, tapi saya rasa justru kamu yang lebih paham soal aturan aturan mendidik anak". Jenagara kemudian usap surai perempuan itu dengan lembut. Memberi tepukan halus sebab bangga pada tekad Andara untuk menuntut ilmu meski dalam kondisi ekonomi yang kurang mampu.

Andara tersenyum, merasa senang sebab usahanya yang belum seberapa begitu dihargai oleh Jenagara.

Setelah malam itu, mereka akhirnya benar benar memutuskan untuk mempercepat waktu pernikahan.

Hari ini, Andara bahkan mendapat kabar kalau Jenagara baru saja selesai mengurus segala berkas yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pernikahan. Andara sebenarnya terkejut, tapi juga berterima kasih.

Karena sampai saat ini, dia masih tidak menyangka kalau Tuhan menggariskan takdir nya di jalan yang begitu baik. Memang tidak sempurna, tapi Andara bahagia.

Bertemu Jenagara, berhasil mengubah pandangan Andara mengenai kehidupan.

Dulu, Andara sering berpikir kalau dia bisa saja hidup sendirian. Lagipula dia juga sudah terbiasa mandiri. Segalanya dia lewati sendiri setelah dia pamit pada saudaranya untuk merantau ke kota ini.

Tapi ternyata dia salah. Manusia itu tidak bisa hidup sendirian. Andara ternyata butuh seseorang untuk menjadi teman hidupnya. Menemaninya dan tentu saja membimbingnya. Dan juga, ya, tentu saja untuk menopang kehidupannya sih.

Mungkin karena itu juga dia senang saat dia tahu ada calon bayi di dalam perutnya. Dan mungkin, karena itu juga akhirnya Andara sadar bahwa dia sudah ketergantungan pada Jenagara.

-

Sebulan kemudian, pernikahan mereka dilangsungkan. Dengan tamu yang tidak banyak karena Jenagara sengaja mengadakan private party. Hanya orang orang yang katanya dekat dengan Jenagara yang datang.

Andara tidak tahu harus senang atau sedih. Karena di pernikahannya ini tidak ada sama sekali yang dia kenal. Karena ya, sekali lagi, undangan ini hanya untuk orang orang dekat nya Jenagara saja.

Sampai akhirnya, seorang gadis cantik menghampiri mereka bersama seorang pria yang menggandengnya. Awalnya sih Andara pikir dia ini temannya Jenagara.

Tapi ternyata salah, apalagi waktu perempuan itu mengenalkan diri.

"Lo Andara kan ya? Dar, ini gue Clara, lo inget gue ga?" Jenagara yang dari tadi tidak pernah pergi dari sisi Andara ikut menoleh bingung.

"Kamu kenal Clara?"

Andara yang mengernyit menjadi jawaban kalau perempuan itu lupa pada Clara. Lagipula, seingat Andara dia tidak pernah mempunyai teman perempuan.

"Masa lo gak inget gue? Gue yang sering dateng ke toko bunga tempat lo kerja dulu." Ah ternyata memang bukan temannya. Dia ini pelanggan tetap di toko bunga tempat Andara bekerja dulu.

Tapi perasaan, itu sudah lama sekali karena seingatnya terakhir Andara bekerja di sana sudah beberapa tahun lalu.

Andara meringis pelan. "Maaf ya, abisnya saya ketemu banyak banget pelanggan di toko bunga."

Clara terkekeh pelan. "Ya gapapa, kalo gitu kita bisa temenan mulai sekarang." Senyumnya mengembang, menular pada Andara.

"Oh iya, kenalin ini cowo gue. Sebenernya dia sih yang diundang ke sini, hehe. Namanya Abas."

Andara mengangguk sopan. "Saya Andara."

Setelahnya mereka berpisah karena masih banyak tamu yang harus Jenagara sapa.

"Kamu kalau cape duduk aja, mau saya ambilin makan gak?" Tawaran Jenagara sebenarnya terdengar menggiurkan. Tapi Andara cukup tahu diri untuk tidak merepotkan di saat seperti ini.

"Ngga deh, Mas di sini aja temenin aku. Mas masih mau ketemu temen temen?" Tanya Andara pelan.

Jenagara menggeleng. "Kamu beneran gak cape?"

Andara ikut menggeleng. "Ngga papa Mas, biar sekalian aja. Biar istirahat nya ngga nanggung."

"Ya sudah kalau gitu." Jenagara akhirnya duduk di samping Andara.

Sebenarnya dia masih harus menyapa orang-orang yang datang. Tapi melihat Andara yang sepertinya begitu lelah, dia jadi tidak enak hati untuk meninggalkan istrinya.

Jenagara tersenyum lebar. Istrinya.

Entah kenapa, kata itu seolah berhasil membuatnya berbunga bunga. Jenagara merasa dia habis melakukan hal yang sangat baik di kehidupan yang lalu. Makannya dia dapat istri seindah Andara di kehidupannya sekarang.

Dia bahkan tidak menyangka kalau dia akan berada di tahap ini. Menikahi seorang perempuan yang nantinya akan menemani dia menghabiskan sisa waktu di hidupnya.

Selama ini, Jenagara memang bukan tipe laki-laki yang suka gonta ganti pasangan. Dia ini sebenarnya terlalu sibuk bekerja dan mencari uang. Padahal tidak tahu juga uangnya dihabiskan untuk apa.

Dia juga bukan laki-laki yang rutin menghabiskan waktu di club. Sesekali datang saja kalau dia merasa kelewat penat dengan pekerjaannya. Ataupun, yang kemarin mungkin termasuk. Karena dia juga frustasi setelah diselingkuhi oleh mantannya.

Tapi setidaknya Jenagara punya alasan untuk mensyukuri perselingkuhan itu karena dia akhirnya bisa bertemu dengan Andara.

Dan setelah ini, Jenagara akhirnya mempunyai alasan lain kenapa dia selalu bekerja keras mencari uang. Karena sekarang dia mempunyai Andara dan tentunya calon anak mereka.

Ya, dua orang kesayangannya yang nanti akan memanfaatkan uang yang selama ini dia kumpulkan.

TAKDIR [YEJENO]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang