"Kalau papa sama mama masih ada, pasti dia pengen Jendral juga punya acara gede kaya Raja." Raina berujar sambil berdiri di samping Jenagara yang sejak tadi memperhatikan Jendral kecil yang sedang tidur di tempat tidurnya.
Andara sendiri sedang memasak di dapur.
Omong-omong, Jendral itu nama anaknya Jenagara dengan Andara. Tadinya mereka akan memberi nama putra mereka Pangeran karena putra dari Raina bernama Raja.
Tapi Andara menolak dengan alasan. "Aku ga suka sama namanya Mas, nama yang lain aja."
Akhirnya Jenagara memutuskan menamai putranya dengan nama Jendral. Sebenarnya Andara tidak mau memberatkan anaknya dengan nama Jendral. Tapi karena Jenagara mengatakan kalau nama itu doa, akhirnya Andara setuju saja putranya diberi nama Jendral.
Seandainya nanti putranya tidak menjadi Jendral pun, setidaknya Andara berharap putranya selalu memiliki nasib baik.
"Sayangnya Dara gak mau bikin acara gede gedean gitu. Dia bilang dia gak mau cape, soalnya emang dia juga sih yang bakal nerima tamu tamu. Soalnya dia kan ibunya."
"Iya sih, gue waktu itu aja sampe ditemenin mama."
Jenagara mengangguk pelan. "Yaudah yuk ke bawah, Jendral kayanya udah tidur pules banget ini."
Mereka keluar dan menyusul Andara yang baru selesai masak di dapur. Suaminya Raina masih di luar, katanya ia akan kesini untuk menjemput Raina kalau dia sudah mau pulang.
"Loh? Raja udah bangun ko gak nyariin mama?" Tanya Raina menghampiri anaknya yang sedang menemani Andara.
"Tadi aku liat tante Dara motong buah, jadi aku kesini karena pengen." Andara tertawa, begitu juga Raina.
Jenagara berjalan mendekat dan menarik kursi untuk duduk di samping Andara yang kini sedang merapikan piring hidangan.
"Mas mau makan apa?" Tanya Andara. Raina sendiri sudah duduk di samping Raja dan mengambilkan makan untuk ia dan anaknya.
"Aku makan sayurnya dulu aja." Andara mengangguk dan menyiapkan makan untuk suaminya.
"Ini telornya emang buat Raja apa gimana?" Tanya Raina karena telurnya dibuat seperti yang biasa diminta anaknya.
Andara mengangguk, "iya, tadi Raja yang minta".
Raina mengangguk pelan, mengambil telurnya untuk Raja.
-
Sorenya, Bunga datang ke rumah. Seharusnya dari siang, tapi katanya ada urusan yang harus dia selesaikan jadi dia baru bisa datang pada sore harinya.
Alangkah terkejutnya Bunga begitu dia datang disambut dengan pemandangan Andara yang sedang menggendong anaknya, sementara Jenagara justru sedang mencuci piring dan pakai celemek di dapur terbuka.
"Bos, boleh saya poto gak sih ini? Siapa yang bakal nyangka ini bos besar gue di rumahnya nyuci piring."
Ya siapapun kalau menjadi Bunga kemungkinan akan bertingkah sama. Seorang bos besar alias petinggi perusahaan yang biasanya kelihatan berwibawa, sekarang justru sedang mencuci piring, dalam keadaan masih mengenakan piyama tidur.
Meski begitu, bos besar juga tetap manusia. Tentu saja hal ini wajar sekali kita temukan sehari-hari. Terlepas dari apapun jabatan yang dimiliki manusia, kewajiban rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama.
Jenagara juga begitu, meski dia memang seorang pemilik perusahaan besar. Sejatinya dia tetaplah seorang suami dan seorang ayah, tentu saja menjadi kewajibannya juga untuk memastikan dua kesayangannya merasa nyaman di rumah yang mereka miliki.
![TAKDIR [YEJENO]](https://img.wattpad.com/cover/369131909-64-k797889.jpg)