Sebelum Andara bertemu dengan sosok Jenagara, pandangan ia terhadap kehamilannya selalu indah. Sejak awal, Andara bahkan tidak pernah memikirkan soal bagaimana jika anaknya nanti mencari ayahnya. Atau bertanya-tanya soal siapa sosok ayahnya.
Yang ada dalam pikirannya justru bagaimana jika kelak anaknya lahir sedangkan dia tidak memiliki biaya melahirkan. Tidak memiliki penghasilan untuk menghidupi kebutuhan anaknya. Karena dia memang tidak pernah memikirkan sama sekali soal siapa ayah dari anaknya.
Pertama, karena dia sendiri tidak tahu harus menyebut kejadian itu sebagai apa. Kecelakaan pun rasanya kurang tepat karena secara teknis dia sendirilah yang membawa dirinya ke sana. Meski dalam keadaan mabuk, kembali lagi bahwa dia sendiri yang memutuskan mabuk saat itu.
Kedua, dia tidak ingin merepotkan dirinya untuk datang kembali ke club dan bertanya siapa laki-laki yang bersamanya malam itu. Selain menghabiskan waktu dengan sia-sia, rasanya tidak sopan juga bertanya hal seperti itu pada orang yang tidak dia kenal. Kedengaran tidak masuk akal sekali.
Bagaimana jika yang ditanya ternyata sudah memiliki istri dan anak? Bisa-bisa dia yang berujung terkena masalah. Maka dari itu dia sama sekali tidak memikirkan ayah dari bayinya.
Ya, itu pikirannya sebelum bertemu Jenagara.
Selain karena Andara memang tidak berharap banyak. Alasan lainnya adalah karena Andara takut kalau ayah dari si calon anaknya itu ternyata orang jahat.
Andara takut kalau orang yang harus tanggung jawab terhadapnya itu ternyata orang jahat. Bagaimana ya, fakta bahwa dia ditinggalkan begitu saja setelah malam itu agak membuatnya ragu kalau Jenagara sungguh-sungguh atas ucapannya. Karena paginya Andara bangun dalam keadaan sepi, tidak ada siapapun.
Tapi setelah bertemu dan banyak bicara bersama Jenagara. Semuanya berubah, pikiran Andara menjadi jauh lebih terbuka. Dan persepsi nya tentang kehamilan dia sekarang jadi jauh lebih indah dari pada sebelumnya.
Andara memang merasa takut karena level mereka yang cukup jauh berbeda. Tapi ketenangan yang diberikan Jenagara saat dia menjelaskan soal keadaan keluarganya sekarang membuat Andara memikirkannya lagi.
Tidak semuanya dapat diukur menggunakan uang, Andara dapat melihat sendiri kalau Jenagara bukan orang yang gila akan uangnya.
Jenagara bahkan tidak pernah menyinggung apapun soal keadaan ekonomi Andara yang sedang pada posisi krisis seperti sekarang.
Dan soal kehamilannya, Jenagara membuat Andara sadar kalau dia memang tidak cukup dengan menjaga bayinya saja. Tapi dia juga harus memikirkan perkembangan bayinya di dalam perut.
Andara sadar kalau dia butuh Jenagara. Terlebih setelah dia tau kalau Jenagara orang baik. Dan tentu saja orang kaya.
Lagipula, orang jahat mana yang memohon untuk diberikan kesempatan bertanggung jawab? Tidak mungkin Jenagara sampai mengatakan bahwa dia mencari Andara beberapa bulan terakhir kalau dia sebenarnya orang jahat.
Jenagara seharusnya menganggap ia angin lalu jika dia tidak berniat untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan lagi, ingat kan uang tunai yang sempat Jenagara tinggalkan?
Ah, rasanya Andara masih tidak bisa merelakannya begitu saja.
"Kamu serius? Kalau begitu ayo secepatnya menikah." Lamunan Andara harus berhenti begitu dia mendengar suara Jenagara.
Iya. Andara yakin dia sudah mengambil keputusan yang tepat. Bukan untuk dirinya, tapi untuk masa depan anaknya.
Andara mengangguk dan tersenyum tipis. "Aku ikut keputusan mas aja."
"Kamu yakin kamu gak akan nyesel? Saya memang akan menikahi kamu, tapi kalau kamu belum siap, saya bisa kasih kamu waktu untuk kamu belajar menerima kehadiran saya."
Andara menatap Jenagara yang sayangnya benar benar menampakkan ketulusan. Perempuan itu tersenyum.
"Aku boleh nanya sama Mas?"
Jenagara mengangguk disertai senyum tipis. Mempersilakan Andara untuk bertanya apapun yang ingin dia tau. Karena Jenagara akan dengan senang hati menjawab apapun rasa penasaran gadis di depannya.
"Mas kenapa mau tanggung jawab sama saya? Padahal Mas bisa nyuruh saya gugurin kandungan ini, atau ngasih saya uang biar gak mengganggu ketenangan hidup Mas."
"Kenapa juga saya harus minta kamu gugurin anak kita?" Jenagara terkekeh pelan. "Saya gatau kamu bakal mikirin ini atau ngga, kamu bakal percaya sama saya atau ngga. Tapi sejak saya tau mantan pacar saya selingkuh, saya udah punya niat buat ngga lagi berhubungan sama perempuan."
"Perempuan itu rumit Andara" sambungnya dengan senyuman tipis "Selama ini saya ngerasa saya udah mencintai mantan pacar saya semampu saya. Tapi ternyata untuk dia mungkin semua itu tetap kurang dan mantan pacar saya pada akhirnya selingkuh dari saya."
Jenagara menatap Andara lekat.
"Tapi Dara, ketemu sama kamu bikin saya sadar kalau gak semua perempuan itu sama. Kita memang belum lama ketemu, tapi dari awal saya udah tertarik sama kamu.
Perempuan mana yang menolak pertanggung jawaban laki-laki yang menghamilinya? Ya, orang itu kamu. Kamu aneh, tapi saya mau kamu jadi istri saya."
Andara merenggut kesal.
"Mas kenapa sih, ceritanya udah bagus ujungnya malah bilang aku aneh," katanya sambil mencebikkan bibir.
Lucu sekali.
"Tapi mas," ucapan Andara buat Jenagara diam. "Sebelum kita menikah, boleh aku minta sesuatu sama Mas?"
"Apa itu?"
Andara hembuskan nafas berat, "aku butuh diskusi mendalam soal anak kita nanti. Aku mungkin masih banyak kurang pengetahuan soal pengurusan anak, tapi aku mau kalau anak kita ada dalam pantauanku selama perkembangannya. Jadi, mungkin aku bakal minta tolong sama Mas untuk dicarikan orang yang lebih berpengalaman untuk bantu aku".
"Iya" jawab Jenagara tanpa ragu. "Saya akan berusaha buat bantu kamu sebisa saya. Kita obrolin ini nanti ya, kita butuh waktu yang cukup panjang buat bahas ini".
Jenagara tertawa, "karena sebenernya saya kesini mau ngajak kamu pergi." sambungnya yang buat Andara mengerutkan kening.
"Kemana Mas?"
"Kakak saya pengen ketemu kamu, kamu masih inget Raja kan? Ibunya dia kakak saya."
Andara mengangguk, "Inget ko Mas. Yaudah kalau gitu tapi anter saya ke rumah dulu ya. Masa saya pake baju gak rapih kaya gini. Mana belum mandi juga."
"Iya iya." Setelahnya Jenagara tertawa dan mereka pulang ke rumah Andara.
![TAKDIR [YEJENO]](https://img.wattpad.com/cover/369131909-64-k797889.jpg)