Epilog : JENDRAL

588 40 0
                                        

Semenjak melayangkan protes akan kecemburuannya karena sang ayah dibawakan bekal sementara dia tidak, Andara akhirnya membuat dua porsi bekal setiap hari untuk Jenagara dan Jendral. Dengan menu yang tentunya disamakan agar putranya tidak lagi merengut protes.

Sejak hari itu pula Jendral memiliki alasan untuk tidak pergi ke kantin di jam istirahat sekolah.

Sejujurnya, alasan pertama dia protes pada ibunya adalah karena dia merasa kalau membuatkan bekal merupakan salah satu cara ibunya menyayangi ayahnya. Oleh karena itu dia juga ingin disayang sebegitunya oleh ibunya dengan dibuatkan bekal pula setiap hari.

Alasan kedua, karena seorang perempuan yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya. Gadis itu selalu ada di mana-mana belakangan. Entah disengaja atau tidak, tapi Jendral mulai menyadari eksistensinya yang terlalu sering ia lihat.

"Lo beneran gak ke kantin Jen?" tanya Halim, teman dekatnya.

Jendral mengangguk mantap. "Dibawain bekel sama mamah" katanya beralasan.

"Yaelah, kan bisa makan di sana bareng" kata Halim lagi pantang menyerah.

Tapi Jendral tak kalah keras, dia tetap menggeleng menolak ajakan Halim untuk pergi ke kantin. Pikirnya, kalau dia tidak datang ke kantin gadis itu tidak akan muncul di hadapannya hari ini.

Ah, Jendral merasa cukup terganggu.

Halim akhirnya menyerah dengan tidak lagi memaksa Jendral. Dia memilih pergi ke kantin dan mengajak Rean yang juga teman mereka di kelas sebelah.

"Eh, lo ada minum?" tanya Halim di ambang pintu. Melihat anggukan pelan Jendral, Halim mengangguk dan meninggalkan temannya itu di kelas.

Sebenarnya membawa bekal ke sekolah itu bukan suatu hal yang aneh. Di kelas mereka pun tidak hanya Jendral yang membawa bekal ke sekolah.

Hanya saja, itu dia masalahnya. Di kelasnya Jendral itu, hanya dia saja laki-laki yang membawa bekal dan memakan bekalnya di kelas. Sementara temannya yang lain adalah perempuan. Dan mereka membuat lingkaran kecil di pojok kelas ketika makan bersama.

Jendral rasanya bingung juga haruskah dia bergabung bersama mereka, atau duduk sendiri saja di kursinya.

"Jendral! Sini gabung!"

Jendral menoleh. Alya melambaikan tangannya mengajak Jendral untuk bergabung bersama mereka.

Teman temannya yang berada di sekeliling Alya mulai melihat ke arahnya. Mereka juga ikutan melambaikan tangan mengajak Jendral bergabung.

"Sini Jen, daripada di sana sendirian" ajak Gina.

Setelah menimang sebentar, Jendral memutuskn untuk bergabung saja agar dia tidak makan sendirian.

Tapi baru juga berdiri, seruan keras mengejutkan mereka.

"EH EH MAU KEMANA???"

Jendral mengernyit melihat perempuan yang sedang berusaha ia hindari justru masuk dengan santai ke dalam kelasnya.

"Ih lagi botram yahhh? Izin masuk ya guys maaf, mau nyamper Jendral" katanya dengan begitu percaya diri.

Gadis itu mendorong pelan pundak Jendral untuk kembali duduk dan dia duduk di bangku yang ada di depan Jendral.

Sementara Alya dan yang lainnya memilih tak acuh dan mulai makan bersama.

"Ngapain lo di sini?" tanya Jendral bingung, juga kesal.

Gadis yang ditanya menampilkan cengiran yang begitu menyebalkan di mata Jendral.

"Nemenin lo makan lah" jawabnya santai. Dia mengambil alih kotak bekal milik Jendral dan membukanya.

"Nih makan, gue temenin"

"Ngga deh, gue makan sama temen temen gue aja" Jendral menolak. Tapi tentu saja tidak dihiraukan oleh gadis itu.

"Ngga ngga, sama gue aja di sini. Jangan di sana dong ntar gue cemburu"

"Dih?" Jendral mendengus. Mengalah karena tidak mau keadaan kelas semakin ribut.

"Tapi lo diem" kata Jendral akhirnya. "Gak boleh nyentuh makanan gue"

Gadis itu mencebik.

"Nyicip dikit lah"

Jendral menggeleng tegas. "Gak ada. Lo diem atau keluar dari kelas gue?"

Gadis itu mencebik lagi. "Iya iya sih, galak banget" tapi kemudian gadis itu tersenyum sumringah.

Tentu saja hal itu membuat Jendral curiga.

"Apa lo senyam senyum"

Gadis itu tertawa, "Gapapaaaaa lucu aja anak mamah" katanya menepuk kepala Jendral pelan.
Jendral menepis tangan itu cepat. Tapi memilih diam dan tidak menjawab.

"Btw, gue tau lo sadar kalau selama ini gue merhatiin lo."

Jendral menggeleng. "Pede banget"

"Ish, bener ah gue tau lo sadar kan?" Gadis itu menunjuk wajah Jendral "Iya kan? Ngaku lo!"

"Ngga"

"Ih yaudah" gadis itu merengut sebal. "Kalo gitu kenalin — "

"Udah tau" potong Jendral cepat ketika dia lihat gadis itu hendak mengulurkan tangan.

Tapi ya lagi lagi, gadis itu bukan tipikal gadis yang pantang menyerah. Jadi dia tetap ulurkan tangannya dan menarik sebelah tangan Jendral dan memaksa Jendral balas menjabat.

"Buruan kenalan yang bener. Hai Jendral nama gue Yatalana, lo bisa manggil gue Atala kaya papa, Alana kaya mama, Aya kaya si Gisel, atau mau beda sendiri manggil Ayang juga boleh"

Alya, Gina dan teman-teman Jendral yang mendengar refleks tertawa melihat kelakuan gadis itu. Sementara Yatalana malah terlihat salah tingkah tidak jelas.

"Jendral" balas Jendral yang langsung melepas jabatan tangan mereka.

Yatalana mendengus, tapi tak ayal kalau dia merasa senang sebab setelah sekian lama akhirnya dia bisa bicara langsung dengan Jendral.

Setelahnya, sesuai janjinya pada Jendral. Yatalana hanya diam di sana menemani Jendral makan tanpa merecokinya seperti biasa.

TAKDIR [YEJENO]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang