Welcoming

1K 91 4
                                        

Pada akhirnya, mau tidak mau Andara setuju untuk ikut dengan pria tadi untuk berbicara berdua. Yang pada akhirnya dia ketahui bahwa laki-laki ini adalah ayah dari bayi yang ada di perutnya. Lucu sekali.

Andara masih ingat betul wangi yang sama dengan yang ada di memorinya. Dan juga, laki-laki ini mengenalnya dengan jelas sehingga dia sendiri tidak bisa mengelak.

Tunggu? Kalau begitu, berarti waktu itu hanya dia saja kah yang tidak sadar?

"Sebenernya waktu itu saya cuma minum sedikit. Tapi kamu keliatan mabok banget."

Andara mengangkat tangannya. "Kenalan dulu atuh om, nama saya Andara. Panggil aja Dara."

Laki-laki itu mendengus karena dia masih saja dipanggil om. "Iya, nama saya Jenagara. Panggil aja Jegra."

"Oke, pak Jegra"

"Mas aja deh kayanya lebih enak." Andara merotasi bola matanya. Entah kenapa rasanya menyebalkan sekali melihat ekspresi Jenagara. Tapi akhirnya,

"Iya iya, Mas Jegra."

Jenagara mengangguk, "Nah saya lanjut ya. Maaf banget, saya waktu itu baru diputusin pacar saya. Saya stres banget, terus liat kamu lagi dalam keadaan kacau, saya malah manfaatin kamu. Saya minta maaf banget untuk itu. Kamu berhak buat tuntut saya atau minta pertanggung jawaban saya. Karena saya sendiri menyesal sudah memanfaatkan kamu begitu"

"Iya udah saya maafin. Lagian saya juga emang lagi ada masalah waktu itu." Jawab Andara langsung.

"Saya ninggalin uang di kamar itu. Soalnya saya takut kamu ngerasa saya rendahin."

Sebenarnya dengan dia memberinya uang justru sama saja merendahkan tidak sih? otak Andara rasanya tidak sampai ke maksud Jenagara.

Tapi tunggu, "Mas bilang Mas ninggalin uang???"

Otak Andara yang sinyalnya seringkali lebih cepat tangkap saat mendengar uang itu agaknya kaget dengan omongan Jenagara.

Jenagara mengangguk.

"Kok gak ngasih tau saya? Tau gitu saya ambil dulu uangnya. Astaga. Mas ninggalin uang berapa?" Andara panik.

"Kamu gak ambil uangnya? Saya ninggalin 15 juta di sana. Sebenernya saya pikir itu kurang sih, abisnya waktu itu saya gak bawa uang cash lagi selain itu."

Andara rasanya ingin menangis. Dia menenggelamkan kepalanya ke atas meja. Keterlaluan, dia bilang dia hanya membawa uang tunai sebesar lima belas juta? Sementara tabungan Andara saja rasanya tidak pernah menyentuh angka sebanyak itu.

"Astaga Mas, tau gitu saya bawa uangnya." Andara betulan ingin menangis kali ini.

Entah karena mood Andara yang memang menjadi lebih sensitif. Dia merasa begitu emosional setelah mendengar perkataan Jenagara. Atau memang jiwa kemiskinannya saja yang bersedih sebab uang sebanyak itu sayang sekali dilewatkan untuk hidupnya yang serba pas-pasan.

Dan apa itu tadi? Jenagara berkata bahwa sepertinya itu kurang? Astaga, kepalanya mendadak pening. Seharusnya Jenagara memberikan uang itu langsung ke tangannya.

Kalau begini, Andara semakin tidak percaya diri untuk memberitahu Jenagara perihal kehamilannya. Perbedaan yang begitu jomplang di antara mereka membuat Andara mengelus dada dan sadar diri.

"Beberapa bulan terakhir ini saya nyari kamu. Maaf, saya kelepasan banget malem itu. Saya mau tanggung jawab."

"Mas, kita gak saling kenal."

Jenagara tersenyum menyenangkan. "Gapapa. Kita bisa mengenal satu sama lain dari sekarang."

"Ngga deh, saya gamau dianggap matre sama orang." Andara membalas tegas.

TAKDIR [YEJENO]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang