Extra : Amorfati [I]

518 42 0
                                        

Hari libur biasanya menjadi hari yang menyenangkan bagi Jenagara karena dia memulai hari yang berbeda dari hari-hari biasa. Kalau biasanya dia akan terbangun cukup siang dengan perlengkapan yang hampir delapan puluh persen sudah disiapkan istrinya, maka berbeda dengan hari ini.

Jenagara bangun pagi dan langsung pergi ke kamar putranya setelah ia membersihkan diri. Sengaja tidak membangunkan Andara agar istrinya memiliki waktu lebih lama untuk tidur.

Jendral sudah tidur terpisah semenjak usia tujuh bulan. Setelah mengikuti berbagai macam kelas parenting, konsultasi dengan dokter pribadi Jendral dan juga psikolog mereka, keduanya memutuskan untuk mulai tidur berpisah dengan Jendral.

Di awal mereka mamulai kebiasaan ini memang cukup sulit membiarkan putranya tidur sendirian meski semua saran yang dianjurkan dokter sudah dilakukan. Terkadang Jenagara menemukan istrinya sedang duduk memperhatikan pintu kamar putranya di tengah malam. Yang lebih parah adalah ketika Andara ditemukan sedang tidur di depan kamar Jendral.

Padahal tiap kali menyiapkan Jendral untuk tidur, Andara lah yang seringkali menenangkan Jenagara kala dia merasa tidak enak membiarkan putranya tidur sendirian.

"Gapapa Mas, lagian masa transisi dari kebiasaan lama ke kebiasaan baru emang susah, jadi biarin aja Jendral nangis. Nanti kalau udah biasa juga gak akan" katanya setiap kali Jenagara berkata kalau dia ingin putranya tidur dengan mereka.

Tapi begitu lah, malam harinya justru dia yang melihat kalau istrinya itu menunggu putranya di luar kamar semalaman.

"Selamat pagi jagoan" sapa Jenagara melihat putranya menggeliat pelan.

Jenagara mengangkat putranya dari tempat tidur dan mencium ubun-ubun Jendral. "Anak ganteng papah udah bangun" katanya kemudian cium kedua pipi gembil putranya gemas.

Jenagara menggendong Jendral di tangan kirinya sementara dia membereskan tempat tidur Jendral. Menyiapkan keperluan mandi untuk putranya dan mulai memandikan Jendral di kamar mandi.

Hal yang ia sukai dalam mengasuh Jendral adalah, putranya termasuk anak yang cukup tenang. Hal ini juga yang memudahkan Jenagara selama memandikan, memakaikan pakaian dan juga merapikan rambut putranya.

"Kita bikin sarapan dulu ya jagoan, baru habis ini kita bangunin mamah" Jenagara membawa Jendral di tangan kirinya.

Mereka berjalan menuju dapur. Sebenarnya Jenagara sedikit bingung apa yang harus ia masak untuk mereka sarapan. Dia hanya akan membuat tiga porsi makan karena untuk Jendral sendiri, biasanya Andara atau Mbak yang membuatnya.

Berbicara soal Mbak, Andara dibantu oleh suster yang pemilihannya diperiksa juga oleh Raina. Mereka cukup kesulitan mencari orang untuk membantu Andara karena beberapa kali menemukan orang yang sayangnya tidak cocok.

Sampai akhirnya Raina mendapatkan kabar soal suster yang kini ikut tinggal di rumahnya. Mereka semua memanggilnya Mbak Ais. Mbak Ais sebelumnya bekerja dengan teman Raina, dan dia memang cukup bisa diandalkan.

Sayangnya teman Raina harus pindah karena suaminya dipindahtugaskan dan Mbak Ais memutuskan untuk berhenti sebab dia tidak bisa kalau harus ikut pindah ke luar negeri. Memang tidak lama setelah itu, Raina baru mencoba menghubungi Mbak Ais yang kebetulan belum mencari pekerjaan lain.

"Loh, Pak?" Jenagara menoleh pada Mbak Ais yang baru saja turun dari tangga dengan keranjang di tangan. "Mau masak apa Pak, biar saya bantu".

"Abis jemur Mbak?" Mbak Ais mengangguk, menaruh keranjang di kaki meja dan mendekati Jenagara untuk membantu.

Selain membantu Andara untuk mengasuh dan mendidik Jendral. Mbak Ais ini menawarkan diri untuk membantu meringankan pekerjaan rumah tangga. Padahal sejak awal Andara hanya meminta untuk dibantu soal urusan Jendral saja, tapi Mbak Ais ini berbaik hati ikut membantu pekerjaan rumah.

TAKDIR [YEJENO]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang