✧˚ ʚɞ˚ ༘✿ ♡ ⋆。˚
"Tidak semua kehidupan harus terlihat semuanya."
-Asya.
Happy Reading!!
🖇✎ᝰ
4 tahun yang lalu....
"Asya, Kamu pilih ikut papah atau mamah?" Pertanyaan itu keluar dari mulut orang tuanya, bernama Tia.
"Mah, Asya gak mau kalian pisah," ucap Asya dengan isak tangis terus menerus.
"Kamu gak ngerasain gimana jadi mamah. Mamah capek Asya! Kamu tinggal pilih aja ikut mamah apa papah, apa susahnya?!" Bentak Tia kepada Asya.
Asya yang dibentak pun hanya bisa terdiam, ini pilihan yang sangat sulit.
"Kenapa harus cerai mah? Mamah gak kesian sama kita?" Ucap Bella. "Asya masih kecil mah. Tolong pikirin Asya," lanjut Bella dengan menangis.
"Sudah cukup Bella! Mamah sudah bertahun tahun mengalah demi anak, mamah udah gak sanggup. Kemas barang-barang kalian, lusa kita berangkat ke Jakarta. Kalo kalian pilih tinggal dengan mamah." Ucap Tia sambil meninggalkan Asya dan Bella yang masih menangis.
Bella menghampiri Asya yang sedang menangis dan lalu memeluknya.
"Kak, Asya gamau papah sama mamah pisah." Ucap Asya dengan kedua bahu yang bergetar.
*****
Hari demi hari sudah berlalu, kini keputusan Asya sudah bulat. Dia akan tinggal bersama ayahnya yang berada di Bandung. Hanya Bella saja yang akan ikut dengan ibunya.
"Kamu yakin gamau ikut mamah aja? Mamah khawatir ninggalin kamu, kakak kamu aja ikut mamah," ucap Tia dengan raut muka yang khawatir.
"Gamau mah," ucap Asya sambil menggelengkan kepalanya. "Asya mau tinggal sama papah aja dulu. Nanti kalo Asya udah lulus SMP, Asya bakal susul mamah ke Jakarta,"
Tia langsung memeluk putrinya dengan sangat erat, "Mamah akan tunggu kamu, jaga diri ya sayang, jangan sampe kamu sakit." Ucap Tia.
"Iya mah, mamah sama kakak sehat-sehat ya disana, jangan lupain Asya," jawab Asya dengan isak tangis.
Tia memeluk Asya begitu lama. Rasanya berat meninggalkan anak bungsunya, meskipun dia tinggal bersama ayahnya, ibu mana yang tidak merasa sedih bila anaknya jauh dari dirinya.
"Mamah pergi dulu ya sayang? Mamah bakal tunggu kamu ke Jakarta, nanti kita tinggal bersama-sama ya sayang,"
Asya mengangguk dalam pelukan Tia. Asya melepaskan pelukannya lalu beralih memeluk Bella dengan erat.
"Kak, jangan lupain Asya ya? Asya bakalan kangen kakak, kayanya di rumah bakal sepi, gak bakal ada yang ledek Asya sampe nangis," ucapnya dengan tangisan yang semakin deras.
"Iya, kakak ga bakal lupain kamu. Kakak akan selalu hubungin kamu, kamu jangan ngerasa sepi ya? Ada kakak," jawab Bella dengan mengelus punggung Asya.
"Mas, aku tunggu surat perceraian dari pengadilan. Jangan lupa kirim ke aku, supaya aku bisa tanda tangan." ucap Tia kepada Heru.
Heru menanggapi ucapan Tia hanya dengan anggukan. Sebenarnya Heru tidak ingin bercerai dengan Tia, pernikahan bukanlah untuk main main. Heru hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Hanya saja Tia selalu mendesak Heru untuk menceraikan dia. Karena masalah ekonomi yang menurun sangat drastis sejak beberapa tahun kebelakang dan masalah yang merembet kemana mana. Dan terjadilah perceraian.
*****
Hari ini adalah hari kelulusan Asya di SMP, hanya Heru saja yang hadir di acara itu. Meskipun hanya Heru saja yang hadir setidaknya ada yang melihat Asya berhasil lulus.
Kini acara kelulusan Asya sudah selesai. Heru dan Asya pergi dari halaman sekolah menuju parkiran untuk mengambil mobil dan pulang ke rumah.
"Asya, kamu mau mampir kemana dulu gak? Biar sekalian," tanya Heru.
"Nggak pah, Asya mau pulang aja," jawab Asya.
Heru menanggapinya hanya dengan anggukan.
Kini posisi Asya menghadap ke arah luar jendela mobil dengan melamun, memikirkan tinggal beberapa hari lagi dia akan pergi ke Jakarta. Asya mengingat kejadian saat ibunya berpamitan untuk pergi, dia berjanji setelah lulus SMP, Asya akan menyusul ibunya untuk tinggal bersama-sama.
Meskipun Asya akan meninggalkan Heru, rasanya sangat berat sekali. Rasanya tidak sanggup akan kehilangan peran sosok ayah. Sama halnya saat dia tinggal bersama ayahnya, dia kehilangan peran sosok ibu.
"Pah? Gapapa kan kalo Asya pergi ke Jakarta?" Tanya Asya dengan ragu.
"Papah gapapa. Mau gimana lagi, papah gak bisa larang kamu. Keputusan ada di kamu Asya," jawab Heru tanpa menoleh.
"Papah kenapa gak nikah lagi aja? Biar ada yang urus papah kalo Asya pergi ke Jakarta. Ekonomi papah udah jauh lebih baik kan dari tahun-tahun lalu?" Usul Asya.
Heru terdiam sejenak saat putrinya mengusulkan untuk menikah lagi. Sebenarnya tidak ada dalam pikiran Heru untuk menikah lagi, cukup satu kali saja, meskipun itu gagal.
"Papah gak ada pikiran ke sana Asya. Papah mau fokus pada anak anak papah aja,"
"Kenapa pah?"
"Cukup satu kali saja," tegas Heru.
"Kalo papah butuh sesuatu saat Asya gak ada, gimana?" Ucap Asya dengan menunduk dan memainkan ujung bajunya.
"Masih ada yang bantuin papah bi Sumi, kalau pun nggak ada bi Sumi papah masih bisa lakuin sendiri. Kamu jangan terlalu khawatirin papah, papah bisa jaga diri baik-baik." Jawab Heru dengan memastikan anaknya.
******
Setibanya di rumah, Asya memutuskan untuk menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke Jakarta. Asya menyisakan beberapa baju di lemarinya, jaga-jaga siapa tahu dia akan main ke Bandung dan menginap.
Asya melihat sekeliling kamarnya yang mulai kosong, rasanya berat sekali harus meninggalkan tempat dimana dia lahir, dengan begitu banyaknya kenangan yang tidak akan bisa untuk dilupakan.
Dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, Asya pun menjatuhkan diri ke kasur dan memikirkan apa keputusan yang dia ambil adalah hal yang tepat.
"Semoga keputusan yang gua ambil sekarang itu hal yang baik buat gua."
*********
HAIII AKU KEMBALIIIII
Aku munculnya lama banget ya? Wkwk
Sebenernya aku udah simpen di draf si, tapi aku baru bisa up sekarang, baru ada waktu.
JANGAN LUPA VOTE AND KOMEN YAAA TERIMAKASIH!!!
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Dasya
Teen Fiction"Seharusnya, aku hanya mengagumi. Bukan ingin memiliki." Pria yang memiliki tubuh tinggi, pemilik mata yang sangat indah, dan senyuman yang begitu manis. Pemilik suara yang indah, rasanya ingin terus menerus mendengar suara itu. Rasanya aku jatuh ha...
