My Home 9

812 83 2
                                        

*
*
*

"Oow, kalian sudah kembali?" Yuta menyambut kedatangan Haechan yang justru menatap bingung sekitar.

"Apa mainnya seru nak?" tanya Jonhy, membawa Haechan duduk dipangkuannya.

"Emm Seru pa" seru Haechan, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah keheranan.

"Renjun mana?apa sedang ketoilet Chan? " mendengar pertanyaan Pamannya Haechan langsung turun dari pangkuan papa, berdiri tegak.

"Tidak paman, temen aku bilang tadi Renjun berpamitan padanya untuk kembali kesini,tapi kok ga ada ya? " Yuta langsung berdiri tiba tiba cemas menyeruak

"Sayang, Renjun setelah pergi denganmu tidak pernah terlihat balik kesini," Haechan menggigit bibirnya pelan..

"Apa Jaemin bohong?,kenapa?" Batinnya. Takut, merasa bersalahnya semakin besar ketika melihat Pamannya pergi begitu saja.

"Huwaaaa, Paman Marah..." tangis Haechan pecah. Dengan segera Cita menarik tangan anaknya mendekat mendrkapnya untuk menenangkan.

"Renjun pasti takut, terus nanti marah sama aku... Huwaaa" dalam tangisnya Haechan membayangkan raut wajah Renjun marah, dan menjauh.

"tidak papa, jangan menangis Mama yakin Renjun akan baik baik saja, emm, " Cita setia memgusap punggung Haechan.

"Hayoloh Chan, nanti Renjun marah kamu dicuekin. Terus gak dijajani lagi deh sama Pamanmu karena bikin anaknya Nangis" ucap Jonnhy jail.

Cita mencubit perut suaminya "Bukannya tenangin malah dibuat kejer nangisnya," kesalnya.

"Sakit Yang. cubitanmu itu loh dikit tapi nyakitin " Cita memutar bola mata malas.

"Sekarang berhenti menangis, kita cari Renjun bareng bareng?" Haechan mengangguki penawaran Mamanya.

Ditempat yang tidak Renjun ketahui namanya dia, duduk sebentar karena lelah berjalan tanpa arah. Tangannya masih meremat kuat rok selututnya hingga terlihat begitu kusut.

"Ayah, Ini dimana Injun takut. Semua lihatin injun" Batin Renjun masih terisak. Orang orang disana hanya menatapnya saja tanpa ada niatan bertanya atau menghampirinya.

Renjun sekarang tengah berada disebuah area yang terdapat panggung sedang disana.

Dari arah belakangnya tanpa Renjun sadari Yuta tengah meneriaki namanya, tapi karena Suara Sound musik yang terlalu kencang membuat suaranya samar.

"nginggg ngiiinnnggg"

Renjun mengerang memegangi kepalanya. Telinganya tiba tiba saja berdenging hingga menjalar kekepala membuatnya sangat sakit.

"Ahhh sttt Sakit..." ditengah kesakitan, Renjun semakin ingin menangis keras. Melampiaskan semuanya.

Entah apa selanjutnya yang terjadi, pandangan Renjun menjadi gelap, didetik detik akhir Renjjn akan pingsan samar samar matanya melihat Seseorang berlari kearahnya.

_______
_______

"Pasien tidak papa, hanya syok dan kelelahan, menunggu cairan infusan habis pasien bisa dibawa pulang,"

Yuta menghela nafas, mendengar penjelasan dojter yang menangani Renjun beberapa saat lalu.

"Untuk menebus obat bapa bisa meminta pada Resepsionis saya sudah memberikan catatan padanya, dan menyiapkan obat yang diperlukan,"

"Terima kasih, Dokter. Untuk itu saya undur diri," pamit Yuta, menjabat tangan dokter itu. Lalu berjalan keluar.

Setelah mengurus urusan rumahsakit, Yuta berjalan menuju kamar rawat Renjun.

Pemandangan yang pertama dilihat Renjun terbaring lemah, dengan tangan tertancap infus.

" Maafkan Ayah Renjunie, tidak menjagamu dengan baik," Ucap Yuta penuh sesal. Tangan Yuta menggapai tangan Renjun yang terbebas dari jarum, mengelusnya lembut.

"Segera sembuh, injun ingin kesekolahkan?" Yuta terus saja berceloteh, bercerita apa saja pada Renjun yang mungkin tak akan mendengar apapun.

Yuta memalingkan wajahnya menyadari dia tengah menangis sekarang. Belum lama dirinya mengenal Anak angkatnya itu tapi rasa sayangnya, besar tak terhingga.

Sambil terus mengusap tangan Renjun, Yuta menggapai ponselnya mengecek pesan masuk.

"Gimana? Udah ketemu?"

"Udah..." Singkat saja Yuta membalas, terlalu malas berbicara dengan seseorang saat ini.

Menyimpan kembali Hpnya Yuta, meneruskan kegiatannya entah, mengelus rambut, atau memberi kecupan hangat pada Anaknya.

***

" Renjun tadi bersama Ayah?" batinnya, Jaemin bersama Mama dan Abangnya berada didalam mobil perjalan pulang.

"Kenapa Ayah gak cariin aku, Mama, dan Abang, kenapa milih bersama anak itu," Jaemin terus berperang dengan batinnya, memendam kekesalannya.

Jaemin marah pada Renjun, karena berpikiran Renjunlah yang merebut Ayahnya dari keluarganya. Melihat kedekatan mereka menghadirkan iri.

Kenapa Jaemin tau, itu Ayahnya karena waktu lalu Jaemin sempat tak sengaja menemukan Foto pernikahan Mama dan seorang pria, dan pria itulah orang yang bersama Renjun.

Tadinya setelah pertemuan pertama kali, dirinya Dan Renjun, Jaemin akan meminta maaf karena memberi kesan buruk tapi tidak jadi ketika melihat semua itu,bagaimana Ayahnya memeluk, mencium Renjun dengan penuh cinta. Dan semua itu tak peenah Jaemin dapatkan.

"Mama Ayah ada dimana sekarang,?" tanya Jaemin berharap Mamanya mau menjawab untuk sekarang,dan jujur.

Winwin tersenyum lembut "Ayah sedang bekerja dikota lain," mungkin Winwin kedengarannya tenang, santai, tapi tak tau saja hatinya sakit.

Xiaojun bergantin melihat Mama dan adiknya " Ayah Gak kerja dek. Mama dan Ayah sudah berpisah sejak mengandung kamu," tentu saja Putra sulung itu tak berani mengungkap langsung, ia hanya pendam dalam hati.

Alasan Winwin tak memberi tahu Jaemin tentang perpisahan mereka, karena menjaga anak itu supaya tak membenci Ayahnya, dan menyembunyikan alasan awal perselisihan mereka.

"Jaemin tau kalo itu, dan alasannya sama terus, Mama pembohong" Ucap Jaemin santai, Winwin membulatkan matanya, sedetik kemudian memaksan senyumnya.

"Iya Mama pembohong, Maaf Sayang"

"NANA," tegur sang Kakak. Sedangkan Jaemin memilih diam,menatap keluar jendela.

Xiaojun beralih menatap Mamanya sendu, jika Mamanya tak mewanti wanti untuk merahasiakan semuanya, mungkin saat ini juga dia sudah memberitahu Nana Apa yang terjadi sebenarnya.


Tbc

HOME   [RENJUN GENDERSWITCH ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang