Haii, selamat datang di bab 2
Budidayakan vote sebelum membaca yaa..
•
•
•
HAPPY READING"BUNDA YUHU NARA KOMBEK BUNDA, " Pekikan kencang Nara nyaring terdengar di setiap sudut ruangan rumah ini. Gadis itu masih dengan seragam sekolahnya melangkah girang memasuki tempat kediaman Tuan Biranata, alias Ravello.
"HEH YAMPUN, WELCOME PERI CANTIK KESAYANGAN BUNDA," Pekikan Nara di sambut dengan pekikan yang juga sama nyaringnya dari seorang wanita tengah baya, yang tiba-tiba saja menyembulkan kepala dari arah dapur.
Wanita dengan dress berwarna hijau mint itu, dengan segera mematikan kompor dan berlari kecil menghampiri Nara dan juga Ravel--putranya.
Kedua perempuan itu--Bunda Mariana dan Nara--sama-sama melepas rindu lewat pelukan yang erat. "Udah lama banget kamu ga main ke sini Nar." celetuk wanita itu, sembari mengurai pelukan mereka berdua.
"Lama dari mana-nya sih bun? Dua hari lalu sebelum lomba Nara baru aja ke sini, masa udah lupa aja," sahut Nara dengan wajah sedikit di buat sebal, gadis itu melipat kedua tengan tepat di depan dada, sembari memanyunkan bibir.
Ya memang benar dua hari lalu sebelum lomba, Nara menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Bunda Ana untuk sekedar memberitahu dan meminta restu juga semangat.
Bunda Ana, tersenyum gemas melihat tingkah sahabat putranya ini plus gadis kesayangan-nya. Wanita itu dengan gemas, mencubit kedua pipi berisi Nara, membuat gadis itu menjerit histeris karena merasa terkejut.
"Aaa ... Bunda sakit pipi Nara. " pekik gadis itu manja, seraya berusaha melepaskan cubitan di pipi-nya.
"Bunda, udah ah sakit itu pipi nya si Nara. " tegur Ravel yang langsung di turuti oleh sang Bunda. Lelaki itu sangat senang bisa melihat bunda nya begitu akur dengan Nara sahabat-nya. Wajar saja bisa akur, Nara dan Ravel telah bersahabat dari jaman SD hingga masa kini.
"Eh... Tapi bentar, ini teh pelipis kamu kenapa Nar? " tanya bunda Ana. Pertanyaan itu sudah Nara tebak sebelum Ravel sengaja mengajak nya berkunjung ke sini. Untungnya Nara sudah memiliki alasan yang tepat untuk pertanyaan ini.
"Oh ini bunda, anu kepentok lemari kemarin malem. Nara mau jalan ke kamar mandi, eh malah kepentok lemari," sahut gadis itu, terdengar meyakinkan. Namun bunda Ana malah memicing intens.
"Masa sih Nar? ... Emangnya lemari kamu dekat kamar mandi?... " lagi, petanyaan kembali bunda Ana lontarkan, seakan ia belum percaya dengan perkataan Nara.
"Ya namanya juga ngantuk bun... Jadi set, ya kepentok aja begitu." kali ini bunda Ana hanya berdeham singkat tanda ia mengerti. Sementara Nara langsung melirik Ravel, seakan meminta lelaki itu untuk mengganti topik pembicaraan dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat Nara terpojok.
"Kalau gitu ya udah, ganti baju dulu sana... Bunda udah masak tau, nanti kita makan sama-sama ya... "
Nara dan Ravel mengangguk mantap, tanpa berbicara sepatah kata lagi, kedua remaja itu segera menaiki gundukan tangga guna sampai di lantai atas, tepatnya lantai dua dimana kamar Ravel berada.
Membuka pintu kamar, Nara dengan lincah sudah berada di atas kasur tidur Ravel yang bersih, asri dan berkilau. Kamar ini masih sama seperti lima tahun yang lalu. Saat mereka masih berumur dua belas tahun, tepatnya kelas enam SD.

KAMU SEDANG MEMBACA
Akhir Juni
Teen Fiction⚠️Follow akun ini sebelum membaca⚠️ saya berjanji akan membaca sampai selesai, vote dan juga comment✌. Hayoloh udah janji, jangan di ingkari ya ;) •••••••••••••••••••• Bagaimana rasanya menjalin hubungan persahabatan dengan seorang lelaki selama ku...