rasa itu
___
---
🦋 : wahh masih setia yaa sama LL, 🤧 love deh, follow aisyh yaa buat yang mau mengenal aisyh hehe🙃
Lanjut gassss👋🏻
---
Ana pun melanjutkan perjalanannya ke sekolah, yang hampir saja gerbangnya ditutup. Dengan malas, Ana melewati koridor.
Brak!
Dengan malas, Ana meletakkan tasnya yang begitu berat di atas tempat duduknya. Ana pun langsung menutupkan mukanya dengan buku novel yang ia ambil dari dalam tasnya.
Setelah beberapa jam kemudian yang penuh jam kosong, benar-benar membuat kelas X-a Ipa meronta-ronta dengan kebosanan ini. Ana, Yora, dan Zura pun keluar kelas berniat ke taman belakang sekolah yang belum mereka kunjungi.
"Kaa Arsen..." ucap Ana spontan tanpa dasar.
"Kenapa kamu, Naa, ngomong kaa Arsen terus?" ucap Zora yang sedang mendengarkan musik.
"Gak apa kok, cuman penasaran aja dia itu siapa sih."
"Owalah, Anaa! Kamu gak tahu lagi, padahal satu kompleks klohh."
Ana pun menggelengkan kepalanya.
"Dia itu..."
"Anak Pak Kyai Hasan, iya sih baru pindah dua minggu di komplek kita," ucap Yora. Ana pun berteriak kaget.
Hingga melanjutkan kegiatan santainya di taman belakang, berbicara berbagai macam hal, hingga jam pulang.
"Anaaa, duluan ya!" ucap Yora dan Zura yang pulang terlebih dahulu. Ana pun mengangguk dan menuju ke parkiran sepeda.
Ana pun mulai mengayuh sepedanya menyelusuri sepanjang perjalanan dengan pemandangan langit sore hari. Saat sudah sampai di depan rumah, Ana pun merasa heran melihat banyak mobil di depan rumah Oma-nya.
Saat meneliti sebentar, Ana pun langsung cepat-cepat masuk ke dalam ruang tamu, "Akhhhh Olla!!!" ucap Ana dengan semangat.
"Astaghfirullah!!!" ucap seluruh orang yang ada di ruang tamu. Ana pun ketawa kecil malu, "Assalamualaikum..." ucap Ana lagi dengan pelan dan langsung menarik tangan Olla menuju kamarnya.
"Ana, permisi ke kamar dulu ya."
Buch...
Dengan spontan, Ana memeluk Olla dengan erat beberapa saat hingga Olla melepas pelukannya, membuat Ana terdiam saat.
"Naa... kamu gak apa kan?" Ana yang mendengarkan ucapan Olla tertunduk diam, yang lalu melontarkan topik lain.
"Ihh, apa sih ya? Gak apa-apa lah. Eh, btw kamu di sekolah baru kamu gimana nih?" ucap Ana. Ola pun menggelengkan kepalanya dan melupakan pertanyaannya yang belum dijawab oleh Ana.
Percakapan pun menjadi panjang hingga jam menunjukkan pukul 10.00. Ana dan Ola pun memutuskan untuk tidur. Namun, sepertinya hanya Ola yang bisa tidur nyenyak, membuat Ana yang enggak bisa tidur keluar dari kamarnya menuju halaman belakang.
Melihat indahnya gelap langit yang hanya diterangi oleh satu bulan dan satu bintang, iya, satu bintang itu yang membuat Ana terdiam terpaku.
Langit tetap indah meskipun hanya satu bintang yang tidak seperti biasanya. Ana pun terus terdiam beberapa saat hingga tidak menyadari bahwa air matanya turun tiba-tiba begitu saja.
Ana pun mengambil selembar kertas di sakunya yang sedikit kusut. Jemari-jemari Ana mulai bergerak.
🖤
Aku...
Dari arah mana kamu melihatku?
Dari luka ku?
Atau dari serpihan anganku?
Kamu...
Pandanganmu selalu terngiang.
Namun, apakah takdir bersama mu?
Rasa ini sangat sulit untuk dilupakan.
Jauh...
Di sini aku menatap langit.
Akankah kau juga menatapnya?
Menanti akan hal yang mustahil.
🖤
Ana pun menggenggam selembar kertas di tangannya yang telah dibaca, dengan air mata yang masih terus mengalir, mulai mencekram dengan kuat... dan melemparkan kertas tersebut. Ana pun mulai menenangkan dirinya dan menghapus air matanya.
"Sudah..." ucap yang spontan dari arah belakang Ana, dengan cepat Ana berbalik badan dan melihat tiga orang laki-laki, iyaa mereka, Jean, Seno, dan Sean. Ana pun langsung menundukkan kepalanya dan langsung pergi menghiraukan mereka ber-3.
"Yu..." Tangan Jean, Seno, dan Sean menahan menengang tangan Ana dengan lembut, "pliss yu..." ucap Sean, dan teruskan dengan berbagai rayuan, hingga Ana tak bisa membantah dan duduk kembali.
Ana yang hanya terdiam, Ana dah terbiasa dengan situasi ini, setiap ada masalah pasti begini. Namun, masalah kali ini tak ada yang mengetahuinya, yang membuat Ana hanya bisa terdiam.
Jean, Seno, dan Sean yang melihat Ana hanya diam melihat sekeliling dan matanya terarah ke suatu kertas yang kusut. Seno pun mengambil selembar kertas tersebut dan memberikannya ke Jean, saat Jean mulai membukanya, Ana hanya terdiam.
"Gill... astaghfirullah" ucap Jean telah selesai membaca selembar kertas tersebut sambil mengembuskan napas kasarnya.
"Menangislah kalau yayu~" dengan cepat Ana menggelengkan kepala pelan.
Ana pun bersender di ke-3 pundak adiknya menemani malam yang sunyi.
Pov Andra On
Keramaian, keberisikan, kerisian... iyaa, kini meliputi Andra yang sedang di tengah kerumunan keramaian mall yang hampir berjam-jam, membuatnya merasa jenuh.
"Sayang, menurutmu cocok mana yang pas untukku?" ucap Nara yang kini sedang mencari baju pengantinnya. Emang begitu alay bagi Andra, dan seluruh dunia mungkin. Orang pengantin mana yang hanya memilih mencoba pakaian yang sudah dipilihkan sampai harus ke mall?
"Gilaaa!" ucap Andra dalam hati dengan jijik. "Gak, gak bisa," lanjut Andra dengan menggelengkan kepalanya. Lalu langsung keluar mall, menghiraukan Nara, dan menatap ke arah langit dengan tertegun.
Pov Andra Off
"Anaaa!!"
"Sini, jangan diam-diam saja, atuhh!" ucap Olla dengan semangat yang kini sedang berada di tempat wisata.
"Sabar!" ucap Ana yang lalu mematikan teleponnya setelah menelpon seseorang. Ana pun langsung menyusul Olla yang di ruang tunggu.
"Dah semua, yuk masuk!" ucap Pak Luwis. "Bentar, bi..." ucap Ana spontan melihat sekeliling dan lalu melambaikan tangannya melihat dua orang yang berjalan ke arahnya.
"Assalamualaikum, Om, Tante..." ucap Zura dan Yora yang dijawab, "Umi, Abi, dan semua, Ana boleh kan ajak teman baru Ana?" ucap Ana sambil tersenyum kaku.
"..."
"..."
"Iyaaa, boleh lahhhh!" ucap mereka semua dengan serentak, yang membuat Ana sangat gembira.
Dengan semangat, mereka memasuki tempat wisata hingga menjelajahi seluruh lantai, dari lantai permainan, pakai-pakaian, hingga kini di tempat taman dengan pemandangan yang indah akan lahan hijau dan beberapa penjual.
Ana, Olla, Zora, dan Yora duduk melingkar di atas lahan perumputan hijau berhadapan dengan Jean, Seno, dan Sean, sementara Bu Lisa berhadapan dengan Pak Luwis.
"Yeyyy!"
___
NEXT !!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Anandra | univ 1 Laksana Langit
De Todokata 'cinta' memang dapat ditafsirkan berbagai cara Namun... akankah cerita ini bisa di sebut dengan CINTA ✧ke ambiguan - - - Cinta langit yang selalu ada, namun tak pernah terlihat dengan jelas-hanya sebatas kabut yang menghalangi pandangan, men...
