I Got U II

433 29 9
                                        

Lee Haechan, Jeno bilang dia teman Na Jaemin yang paling-paling di jaga si Na. Katanya, Jaemin bakal berada di barisan terdepan kalau Haechan di ganggu. Sedangkan Jeno tidak akan tinggal diam kalau ada yang menyentuh Jaemin-nya. "Susah pdkt sama Haechan, soalnya Jaemin rese." Begitu yang Renjun dengar, bukan karena Haechan, tapi karena Jaemin dan Lee Jeno.

"Licik lu, bangsat."

"I never play nice." Jeno memutar gelas wine miliknya dengan gerakan anggun, senyum tipis terukir di sana, seakan menyatakan dia sudah menang. Yah, karena apapun yang akan Renjun lakukan, Jeno akan tau dari Jaemin.

"Tapi, yah.. boleh lah." Renjun mengeluarkan ponselnya, menunjukan beberapa dirinya dan Haechan di atas ranjang. "I'm the winner."

"What?! How...!" Gelas yang semula di bingkai jemari panjang Jeno tersentak ke atas meja, bunyinya cukup nyaring sampai mengisi sudut ruangan VIP yang Jeno pesan.

"Well, I never played nice either." Ujar Renjun dengan senyum yang menyatakan dirinya puas. "Kartu lu sama mobil punya gue sekarang." Jemari Renjun mengetuk meja kaca didepannya, meminta Jeno meletakan hadiah.., tidak, tapi barang yang sudah mereka pertaruhkan. Kini Renjun yang mengangkat gelasnya, senyum kemenangan terukir dengan amat menyebalkan. Dia menyenggol gelas Jeno hingga terdengar dentingan, baru kemudian meneguk wine dalam gelas.

Jeno melempar kunci mobil, kemudian disusul kartu hitam, suara gebrakan meja terdengar nyaring. Nampak jelas Jeno tidak suka kemenangannya beralih, tapi, siapa yang sangka Renjun bisa mendekati Haechan tanpa sepengetahuan Jaemin?! Itu aneh!! "Gimana bisa lu deketin Haechan?" Tanyanya dengan gurat kesal.

"Gue gak deketin dia." Sahut Renjun, guratan kesal pada kening Jeno kian bertambah, terlihat juga rahang lelaki itu kian keras. Masih menanti jawaban lengkah dari Renjun. "Dia yang dateng sendiri." Sambung Renjun, dia meneguk wine-nya lagi, kemudian memutar gelas.

Itu terlihat amat menyebalkan di mata Jeno!

.

.

.

Haechan memasuki kelas dengan riang, mengingat pagi tadi dia berada di kelompok yang sama dengan Renjun. Nilai Haechan akan sempurna sepanjang semester ini, meski didapatkan dengan cara yang bisa dikatakan curang. Tapi siapa peduli? Selama itu menguntungkan, kenapa tidak?

Sudah ada beberapa mahasiswa di sana, duduk berpencar; ada yang duduk didepan, biasanya mereka yang duduk didepan itu golongan ambis. Yang di tengah, biasa saja. Yang dibelakang golongan, yang penting dateng. Nah, Lee Haechan termasuk ke golongan mahasiswa ambisi, tahun ini dia harus menyelesaikan studi lalu mengurus segala tetek bengek yang berhubungan untuk kelulusan. Untuk masalah skripsi, Haechan sudah tentukan apa yang akan dia ambil, dan kalau semester ini dia bisa menyelesaikan tanpa harus mengulang matkul, dia bisa mulai mengerjakan observasinya.

Ting..

Satu pesan masuk, seseorang yang sebelumnya tidak pernah menghubungi Haechan; meski mereka menyimpan nomor satu sama lain, kini pesan suara beserta foto. Entah apa maksudnya.

"Gimana bisa lu deketin Haechan?"

Eh? Kenapa namanya di sebut-sebut?

"Gue gak deketin dia, dia yang dateng sendiri."

Itu suara Renjun, Haechan tau karena hubungan mereka berlanjut ke; bisa dibilang ke tahap lebih lanjut. Terlebih lelaki itu memiliki hormon yang, yah, diluar orang normal. Tapi, kenapa Jeno menyebut namanya dalam percakapan mereka?

"Gue dah bilang, gak ada yang gak bisa gue dapetin, Lee."

Suara Renjun terdengar lagi, dan Haechan makin tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

TAP [RENHYUK editions]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang