No Idea

150 12 2
                                        

"Cih, cinta." Haechan mendengus. "Cinta itu definisi dari dua orang birahi." Katanya sambil memasukan kentang goreng ke mulutnya.

"Lu gak percaya sama cintanya Kak Uwu?"

"Nih, gua kasih tau ya." Dia membenarkan posisi duduknya yang kurang nyaman. "Kalo gua nerima dia jadi pacar gua, nanti dia bakal ngajak gua tinggal bareng, terus dia bakal minta cium-cium, pegang-pegang, abis itu ngajak ngewe." Paparnya tanpa filter. "Nah, kalo udah ngewe beberapa kali, bosen, terus di buang deh." Sambungnya sebelum menyeruput es kopi yang Haechan pesan. "Kalo cuma mau ngewe mah mending cari jablay aja, gua yakin banyak yang mau ngangkang depan mukanya."

Diluar nalar, bisa-bisanya Renjun berteman dengan orang modelan Haechan. Tidak peduli ada berapa banyak orang di meja itu, si Tan yang diakui kecantikan dan kemolekannya itu tetap meneruskan kalimat vulgarnya. "Udah, udah, makan aja lu." Kata Renjun sambil memasukan beberapa potong kentang goreng ke mulut si Tan. "Malu gua kalo sampe orang-orang denger ocehan gak faedah lu."

"Anjeng, kalo gua keselek gimana?!" Gerutu Haechan tidak terima.

"Anggep aja latihan oral." Sahut Jeno kemudian mengajak Renjun tos, pemandangan yang hampir tiap hari Haechan lihat. Memang dua orang ini sering kali membuat Haechan jengkel! Hahh, bisa-bisanya dia berteman dengan dua makhluk macam Jeno dan Renjun! Yahh, sebenarnya Renjun tidak seburuk Jeno. Sosok bernama lengkap Lee Jeno itu tidak akan jauh dari hal-hal berbau seks, alkohol, klub malam, namun bermusuhan dengan narkoba. Sedangkan Huang Renjun atau kerap di panggil Injun, dia orang yang cukup pemilih, dalam segala aspek. Kalaupun memang mencari teman satu malam, Renjun akan benar-benar selektif dalam memilih. Higienis itu perlu, katanya sih begitu.

Namun, bukan itu yang membuat Haechan enggan berkencan dengan kak Uwu. Apa ya..? Haechan sendiri bingung bagaimana cara menjelaskannya. Ada suatu waktu dimana dia dan Renjun terlibat hubungan satu malam, dan yahh, posisinya waktu itu Renjun mabuk berat, wajar saja kalau si Huang tidak ingat kejadian itu. Tidak, tidak, bukan, itu bukan kali pertama Haechan melakukan seks, hanya saja itu pertama kali Haechan berhubungan intim dengan temannya. Dan entah kenapa dia tidak bisa menghilangkan memori itu dari kepala!! Entah akan seperti apa reaksi Renjun kalau tau mereka pernah berhubungan badan. "Tai lu bedua." Sungut Haechan.

"Jangan ngambek dong, nanti cantiknya ilang." Renjun.

"Jangan cemberut juga, nanti kak Uwu jadi pengen ewe." Jeno.

Oh, jangan tanya Haechan semalas apa dia menanggapi lelucon vulgar dari teman sipitnya itu. "Tapi lu pada pernah denger gak sih? Doi pernah di anu sama Mark Sunbae."

"Siapa? Kak Jungwoo?" Jeno.

"Gosip itu, jangan di denger." Tambah Renjun. "Kan kak Uwu cuma suka sama Echan." Goda Renjun, sambil tertawa dia memakan kentang goreng. "Kalo bang Yuta yang lakuin gua percaya dah." Sambung Renjun setelahnya.

"Beuh, orang Jepang mah beda. Gak ada lawan dah." Timpal Jeno. Sungguh, tidak ada satu dari dua temannya yang bisa diajak bicara! Kadang Haechan berpikir, kok bisa dirinya tahan berteman dengan orang-orang ini?! Dan sampai sekarang dia belum mendapat jawaban. "Mau kemana lu, tem?"

"Bacot." Sunggut Haechan, ponsel dan buku yang sebelumnya tergeletak disisi kosong meja dia bawa. Tidak lupa jaket disisi kosong kursi.

"Dih, pundung." Jeno.

"Mau kemana?" Kini Renjun yang bertanya, dia menahan lengan Haechan dengan lembut sebelum langkah si Tan kian jauh.

"Kelas, napa? Mau ikut lu?" Tanyanya yang dijawab gelengan kepala. "Udah sering bolos, senengan coli, teler tiap malem, mau jadi apa negara ini." Keluh Haechan dengan cara yang dramatis. Namun entah kenapa justru terlihat lucu di mata kedua temannya. "Bye, gua gak mau ketuluaran virus bego plus males kalian." Haechan meninggalkan kantin, namun sebelum jauh potongan kentang berhasil menyentuh punggung bagian kanannya.

Tes ombak dulu yaa

TAP [RENHYUK editions]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang