"Oh.? Kau berniat keluar hari ini?" Tanya Jaemin, dia baru saja datang membawa belanjaan seperti sebelum-sebelumnya. Satu hal yang dia lupa, Haechan tidak lagi mengurung diri di rumah. Dia melakukan aktivitas di luar beberapa Minggu terakhir, senyumnya juga kembali terlihat. Dan Jaemin tau persis alasannya; rasa bersalah kembali memenuhi relung hatinya. "Haechan-ah, aku senang kau kembali seperti dulu. Tapi, kau harus tau Injun bukan Renjun." Senyum manis diwajah si Lee luntur seketika, sorot mata penuh cahaya itu kembali redup.
"Aku tau." Dia menundukkan kepalanya. "Tapi, bolehkan aku memulai kembali?"
Jaemin tidak tau apakah ini pilihan yang bagus atau tidak, tapi Renjun benar-benar berbeda dengan Injun. Meski memiliki rupa dan nama yang hampir sama, tapi mereka dua orang yang berbeda. Dan Jaemin tidak ingin Haechan kembali ke titik terendahnya dalam hidupnya; saat kehilangan Injun. "Tentu saja.," Jaemin tersenyum kecut, entah bagaimana dia harus menjelaskan yang sebenarnya. "Tentu saja." Ulanynya, mencoba lebih yakin dengan jawabannya sendiri.
Senyum itu kembali terbit, membuat Jaemin ikut tersenyum tanpa sadar. Meski begitu perasaan tidak nyaman itu memenuhi seluruh ruang dalam hatinya. "Kau bawa apa?"
"Oh, ini? Aku membeli beberapa kebutuhan bulanan, sabun, pasta gigi, sampo. Aku juga beli buah dan beberapa cemilan, kau sudah sarapan?" Papar Jaemin, dia membawa belanjaannya ke meja dapur. Mengeluarkan satu-persatu dari dalam plastik, kemudian meletakkannya di atas meja.
"Mm, aku masak sup daging kemasan.,"
"Kau lihat tanggal kadaluarsanya?"
"Eh?"
"Oh, Lee Haechan!" Jaemin berbalik mencari bungkus sup daging yang Haechan masak, lalu berteriak frustasi. "Yak!" Dia memejamkan matanya sambil memijat pelipis. "Aku sudah bilang berkali-kali, perhatikan tanggalnya sebelum dimakan." Oceh Jaemin. "Kau merasakan sesuatu? Pusing? Mual?" Jaemin bertanya khawatir, dia menghampiri Haechan sambil memutar tubuh temannya; hanya ingin memastikan temannya baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja." Jawab Haechan. Ya, Haechan yakin dirinya baik-baik saja.
Jaemin menghela nafas panjang, dia tersenyum lembut lalu kembali ke belakang meja. Memilah belanjaan, kemudian menatanya; dia meletakan ramen di lemari tinggi atas tempat cuci piring, telur, sayuran, buah-buahan, dan cemilan dimasukkan ke kulkas. Sedangkan si Tan hanya memperhatikan tanpa bersuara.
"Hari ini mau kemana?" Tanya Jaemin setelah lama terjadi keheningan.
"Mm.,"
"Jangan bilang kedai itu lagi."
"Oh?!" Karena disanalah dia bisa bertemu Renjun, meski hanya sebentar. "Bagaimana kau tau?" Terdengar suara dengusan dari si Na, dia bangkit dari jongkoknya, lalu menutup pintu kulkas.
"Bagaimana aku tau? Oh, itu pertanyaan lucu." Beberapa Minggu terakhir, tepatnya setelah mereka tidak sengaja bertemu di kedai itu, Haechan terus kembali ke sana, dia terus mencari Renjun; tidak, dia mencari Injun. Si Tan hanya menunjukkan senyum manis, tanpa niat menjawab.
.
.
Haechan pergi di jam 12.10, ke tempat yang sering dia kunjungi untuk mencari Renjun. Rasa bersalah itu kiat menguat, Jaemin tidak berpikir akan jadi sepanjang ini ceritanya. Meski sebenarnya terjadi perubahan yang signifikan pada si teman, tapi tetap saja, Jaemin menipu Haechan. Dia yang merencakan semua ini.
Dari rasa bersalah itu, Jaemin pergi ke rumah Lucas untuk bercerita; barangkali dia punya solusi. Dia berdiri didepan pintu apartemen Lucas, menanti si pemilik rumah membuka pintu untuknya. Pikirannya terus berputar, harus darimana dia memulai ceritanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
TAP [RENHYUK editions]
FanfictionSekumpulan cerita gaje Renjun sama Haechan. Renjun as dom Haechan as sub Selain couple di atas dilarang keras req Sekian terima gaji
![TAP [RENHYUK editions]](https://img.wattpad.com/cover/372978404-64-k947269.jpg)