Jadi, mari mulai dari siapa itu Huang Renjun?
Huang Renjun merupakan anak tunggal dari sepasang pengusaha sukses, hidup bergelimangan harta, bak pangeran. Namun, kenapa dia memilih jadi karyawan swasta di perusahaan kecil yang tidak mampu menggaji karyawan sesuai standar? Kenapa Renjun memilih menetap di negara orang menggunakan identitas orang lain?
Alasannya cuma satu, Renjun ingin lari. Lari dari rasa takut, lari dari perasaan tidak aman, lari untuk cari tempat sembunyi, mungkin juga dari rasa bersalah. Karena sampai detik ini, Huang Renjun belum juga berdamai dengan dirinya sendiri.
Kembali lagi ke keluarga Renjun, tuan besar Huang merupakan pengusaha sukses, seperti yang sudah dikatakan, dia memiliki beberapa perusahaan di berbagai bidang, salah satunya property. Namun bukan perusahaan itu yang membuat keluarganya jaya, drugs, perdagangan senjata illegal, perdagangan manusia, lelang illegal, dan lain segalanya, tuan besar Huang merupakan salah satu jajaran orang yang berkuasa di dunia bawah. Mungkin itu alasan Ayahnya mendidik Renjun dengan cara yang keras, senjata api, senjata tajam, bela diri, menjadi makanan Renjun sehari-hari. Tidak satupun hobinya bisa terlampiaskan, bahkan untuk bernyanyi saja rasanya berat.
Di usia 12 tahun, Renjun harus melihat orang terkasihnya mati. Suara letusan senjata api terdengar begitu nyaring, peluru perak melesat cepat, bahkan sebelum Renjun sadar kalau peluru itu mengarah pada sosok yang begitu dia sayang, sang Ibu.
Kenangan itu menjadi mimpi buruk bagi Renjun.
.
Keringat membanjiri seluruh tubuh Renjun, deru napas pendek dan cepat mengisi heningnya malam itu. Suara letusan, golek tubuh lemas bersimbah darah menjadi hal terakhir yang membuatnya terbangun.
Mimpi buruk itu datang lagi.
Lampu kecil samping ranjang, dia nyalakan. Meski di luar kamar ada bodyguard yang berdiri semalaman tidak membuatnya merasa aman. Renjun menyandarkan punggungnya, mencoba menetralisir deru napas dan detak jantungnya. Mimpi itu terlihat lebih mengerikan dari sebelumnya, darah kental mengalir deras dari kepala berlubang sosok tercintanya.
Mimpi buruk yang mungkin saja terjadi, Lee Haechan.., Renjun takut dia tidak bisa menjaga Haechan seperti dia kehilangan Ibunya.
Menjadi bagian dari keluarga Huang adalah hal terburuk.
.
.
Dari kejauhan, Renjun melihat sosok yang dicintainya. Ya, siapa lagi kalau bukan Lee Haechan. Sosok yang amat dia rindukan, ingin sekali Renjun melayangkan pelukan hangat, mengucapkan ribuan kata cinta, mencium tiap inci wajahnya. Kata 'rindu' saja tidak dapat menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang, sedih, rindu, marah, takut, semua bercampur jadi satu. Renjun benci ketika dirinya merasa begitu lemah, namun apa daya? Cara satu-satunya membuat Haechan tetap hidup, ya begini.
Menyiksa, memang. Tapi, tidak terpikir cara lain dan Renjun tidak mau melihat golek tubuh lemah Haechan dipenuhi warna merah, berbau anyir. Jaemin bilang, Haechan tidak lagi mau mengenal dunia luar, tidak lagi bergairah untuk hidup, sebegitu cinta Lee Haechan pada Hwang Injun? Identitas yang berhasil menyembunyikannya dari mata sang Ayah, 15 tahun lamanya. Namun, pertemuan singkat kemarin berhasil membawa sosok cantik berkulit karamel itu keluar dari tempat nyamannya.
Senang.., ya, melihat Haechan tidak seperti yang Jaemin katakan, tentu dia senang. Namun juga sedih, entah kenapa perasaan itu hinggap kala Renjun tau, semudah itu Haechan move on darinya. Lucunya, sang kekasih move on karena orang yang sama. Dia di sana, Lee Haechan duduk sendiri di kedai es krim, seperti hari-hari biasa kala mereka masih berkencan. Yang berbeda, tidak ada mangkuk besar es krim coklat di atas meja atau senyum manis yang biasa sosok itu perlihatkan.
Langkah ringannya diiringi gemericik suara lonceng, kemudian terdengar sapaan manis dari si penjaga kasir. "Selamat datang." Diiringi senyum secerah mentari, si penjaga kasir menyambut Renjun. "Pesanan yang sama?" Begitu katanya.
"Pagi." Sapa Renjun singkat. Dia melirik menu, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak melirik Haechan yang duduk di dekat pintu masuk. "Es krim coklat satu." Katanya.
"Mm? Tidak seperti biasanya, padahal stok strawberry di buat khusus untuk mu, hari ini." Sahutnya, namun pesanan tetap di proses
"Hari ini suasana hati ku sedang kacau."
"Putus cinta?" Renjun termenung, kemudian tersenyum singkat. "Orang bilang, pupus satu tumbuh seribu." Ujar si penjaga kasir, senyum manis itu setia bertengger di wajah cantiknya. "Totalnya jadi 2 dolar." Katanya, setelah di bayar, si penjaga kasir menyerahkan struk, meminta Renjun untuk menunggu pesanannya.
Renjun akan mengingat momen ini, entah kapan lagi dia akan bertemu dengan Haechan. Setelah menarik napas panjang, Renjun memberanikan diri untuk menoleh, matanya bersitubruk. Si cantik itu masih sama, pahatan sempurna sang kuasa. "Oh, kau..?" Renjun bergumam kala pandangan mereka bertemu, binar cantik yang sebelumnya tidak terlihat muncul dengan cara yang cantik.
"Es krim coklat.,"
"Terimakasih." Renjun mengambil pesanannya, langkah seringan kapas itu menuju Haechan. Ya, sekuat apapun Renjun mencoba, magnet Haechan selalu berhasil menarik dirinya. "Kau yang kemarin itu, kan?" Katanya, tanpa permisi dia menarik kursi di depan si Tan. "Kita bertemu lagi." Ujarnya sambil menyantap es krim miliknya. "Orang bilang, bertemu lebih dari satu kali secara kebetulan itu artinya takdir." Senyum manis si Tan terukir. "Renjun, Huang Renjun." Perkenalan singkat yang tidak pernah Renjun bayangkan sebelumnya, dia memperkenalkan sebagai Huang Renjun, nama aslinya. "Kau..?"
"Haechan, Lee Haechan."
Dia tersenyum, cantik sekali.
.
.
.
Tanpa terasa hari berlalu dengan cepat, Renjun bahkan tidak ingat sudah berapa lama dia tinggal. Satu bulan, dua, atau mungkin lebih dari itu? Pertanyaan 'kapan kembali?' terus melayang dari sang Ayah, kalau tidak dia akan diseret pulang seperti sebelumnya. Namun, rasa enggan meninggalkan Korea masih melekat kuat, jangan tanya berat atau tidak! Setelah sekian tahun meninggalkan Haechan, kini dia harus melakukan untuk yang kedua kalinya?!
Tapi, lagi-lagi Renjun masih tidak bisa mengambil pilihan, terlalu berat. Melihat Haechan mampu tanpa dirinya itu sudah lebih dari cukup, ketimbang Renjun harus melihat mayat Haechan bersimbah darah seperti Ibunya. Mimpi buruk itu terus mengiringi langkah Renjun, sebab itu mengajak Haechan berkencan dengan identitas asli itu terasa mustahil untuknya.
"Sudah?" Pertanyaan yang terlontar beberapa kali itu kembali terdengar. Lucas, sosok yang berada dibelakang setir kemudi nampak sudah lelah dengan kegiatannya siang ini. Pagi-pagi buta Renjun membangunkannya untuk mengantar sosok itu ke bandara, karena jadwal pulang tidak bisa di undur lagi, Paman Huang sudah melayangkan surat ancaman kalau Renjun menolak untuk pulang. "Kalau kau tidak ingin meninggalkannya, bawa dia bersama mu!" Gemas Lucas. Sungguh, dia tidak tau Renjun bisa sebucin ini!!
"Akan ku lakukan kalau waktunya sudah tepat."
"Bicara mu seperti bakal hidup 500 tahun lagi." Sahut Lucas, sungguh rasa kantuk itu terus menyerangnya dan dia masih harus meladeni sepupu kecil bak malaikat namun percayalah Renjun itu lebih dari iblis. Perawakannya yang tinggi kurus dan wajah bak pangeran sering kali berhasil menipu lawan mainnya, mungkin sebab itu juga Ayahnya membiarkan Renjun hidup jauh dari bisnis keluarga.
"Kau tau 'kan? Iblis itu tidak bisa mati." Kini Lucas hanya bisa memutar malas bola matanya. "Aku titip Haechan, tapi sampai kau berani menyentuhnya seujung kuku saja, tamat riwayat mu."
"Oh, astaga! Mengerikan sekali." Ledek Lucas sebelum dia menginjak pedal gas, meninggalkan Haechan yang asik duduk sendiri di kedai kopi sambil menikmati es kopi pesanannya.
Tidak lagi ada percakapan, bahkan sampai di bandara. Sampai Renjun memasuki alur antrian pengecekan tiket, tidak ada salam perpisahan. Setidaknya sampai Renjun tiba di tempat tujuan, dering ponsel dengan nama Lucas dilayar membuat Renjun berdecak. Dia baru saja menyalakan ponselnya dan Lucas sudah menghubunginya?! Dalam hati dia mengutuk, seandainya Lucas bertanya dia sudah sampai atau belum..
"Haechan.., kecelakaan.."
.
.
Gak ada yang nanya kapan aku update😭😭
KAMU SEDANG MEMBACA
TAP [RENHYUK editions]
أدب الهواةSekumpulan cerita gaje Renjun sama Haechan. Renjun as dom Haechan as sub Selain couple di atas dilarang keras req Sekian terima gaji
![TAP [RENHYUK editions]](https://img.wattpad.com/cover/372978404-64-k947269.jpg)