6

672 67 2
                                        

Naruto kembali ke istana setelah membeli headpiece untuk sang ratu. Dia berjalan pelan sambil melihat rakyatnya yang menikmati jajanan. Mereka begitu bahagia tanpa sekalipun tau bahwa sang raja berada dikitar mereka.

Naruto berjalan melewati jembatan, sebuah jalan pintas agar cepat menuju pintu gerbang istana, sebelah kanan dari pintu gerbang utama. Ya, Naruto menyelinap, berjalan-jalan melihat bazar dan pameran meski tanpa membawa teman.

Saat Naruto akan berbelok, dia dikejutkan dengan sosok cantik bergaun merah yang tengah menengadahkan kepala sambil tersenyum, mungkin menikmati indahnya kembang api.

Naruto mendekat, dia semakin melebarkan mata. Ya, perempuan itu adalah permaisurinya. Naruto sangat senang, dia tidak bisa mengendalikan diri, pria itu menjatuhkan air matanya.

Naruto bertanya-tanya. Apakah di depan sana benar-benar Hinatanya? Apakah Hinata belum mati? Apakah Hinata kemari untuk kembali padanya? Lalu, selama setahun ini dia tinggal dimana?

...

Naruto menerjang tubuh mungil itu, merengkuhnya erat. "Hinata, kau kembali Ratuku"

Hinata mengernyitkan dahinya. "Maaf, anda siapa?"

Naruto tersentak, mengendurkan pelukan itu perlahan, tangannya memegang pundah ratunya itu. "Ayo kita pulang, kau sangat kelelahan"

Ya, Naruto berpikir Hinata terlalu lelah, sehingga berbicara melantur seperti tadi.

Hinata menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ayolah kenapa Natsu tidak ada, kemana managernya itu?

Bukankah ini nanti akan jadi berita panas disetiap acara TV. Hyuga Hinata diberitakan sedang kencan dengan seorang pria yang belum diketahui identitasnya. Mampus! Karirnya akan runtuh seketika.

Hinata berusaha menurunkan tangan Naruto dari pundaknya, pelan, ya karena dia publik figur, harus sedikit melakukan pencitraan meskipun merasakan adanya bahaya. "Mungkin anda salah orang, Tuan"

Naruto menggelengkan kepalanya, dia sangat yakin jika perempuan didepannya ini adalah Hinatanya. "Tidak, Ratuku. Ayo, kita pulang bersama, aku sangat merindukanmu"

Hinata berontak, apakah pria tampan didepannya ini seorang penculik? Lalu menjual beberapa organnya dengan nilai fantastis? Tentu saja laku, bando bekas gadis itu saja laku dengan harga tinggi di pelelangan.

"Tolong lepaskan saya, saya tidak mengenal anda, lepaskan!" Hinata berteriak Histeris, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pria itu.

Naruto sungguh hilang kesabaran, pria itu segera memukul tengkuk Hinata, membuat gadis itu pingsan seketika. "maafkan aku"

Naruto membopong Hinata, memasuki istananya, melewati beberapa tempat. Astaga, dia lupa jika istananya itu begitu luas, butuh waktu agar sampai dikamarnya.

...

Naruto segera membaringkan Hinata di futon halus miliknya, melepas jubah kebesaran Hinata, membuka simpul talinya, menyisakan inner gaunnya saja. pria itu juga melepas semua asesoris kepala ratunya itu.

Naruto terus memandangi Hinata, antara percaya dan tidak. Naruto begitu merindukan ratunya, ingin segera bermanja lagi, ingin segera ditemani minum teh lagi.

Pria itu membaringkan diri disamping Hinata, memiringkan tubuhnya agar mudah memeluk Ratunya itu. Sudah setahun dia menumpuk rasa rindu ini.

Naruto membelai surai Hinata, merasakan mahkota permaisurinya itu tetap halus dan berkilau. Pria itu berpindah membelai pipi hinatanya, ah, tetap halus dan berkilau.

Naruto memejamkan matanya setelah puas mengamati Hinata. Tidur dengan perasaan bahagia, bisa mencium aroma tubuh ratunya yang sangat ia rindukan itu.

...

Hinata membuka mata dengan perasaan terkejut. Jubahnya sudah hilang dari tubuhnya, bahkan tali simpul inner gaunnya sudah terlepas, ditambah dengan pria asing yang tidur di sampingnya, memeluknya.

"Aaaaaaaaaaaaa" Hinata berteriak histeris sambil memegangi inner gaunnya itu.

Naruto gelagapan, segera membuka mata lalu duduk, kepalanya sungguh pusing sekarang. "Kau berani berteriak didepan rajamu?" kata Naruto tajam.

Hinata menangis sekarang, mengeluarkan air mata dengan begitu derasnya sambil duduk, tetap memegangi inner gaunnya.

Naruto gelagapan mendengar tangisan ratunya yang begitu keras. Pria itu berusaha meraih tangan Hinata, menenangkan ratunya itu agar berhenti berteriak dan menagis, namun Hinata menepsinya dengan kasar.

Plakk...

"Pergi kau laki-laki mesum" oh, karir impiannya benar-benar akan hancur setelah ini.

Naruto diam, merasakan panas di pipinya karena tamparan Hinata yang begitu keras. Lalu apa tadi? Ratunya itu menyebutnya laki-laki mesum? Kasar sekali!

Dan lagi Seorang raja di teriaki sebagai laki-laki mesum? Biadab sekali panggilan itu! bahkan panggilan itu hanya cocok untuk hewan.

"Hinata.."

"Pergi!"

Naruto memandangi Hinata dengan wajah bertanya-tanya. Benarkah ini Hinatanya? Kenapa jadi seperti ini? Belajar darimana selama setahun ini? Naruto sangat kecewa, namun tidak dia tampakkan. Mungkin terjadi sesuatu selama setahun ini. Naruto akan belajar memahaminya.

Pria itu segera keluar dari kamarnya, meninggalkan Hinata yang masih menangis.

...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

...

Your Majesty ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang