👸🏻 : "Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi perlahan, aku menyadarinya. Aku ingin kembali, karena ini bukan tempatku."
🤴🏼 : "Aku bahagia saat kau kembali, meskipun tidak sama seperti sebalumnya. Aku tidak ingin menangisi kepergianmu lagi...
Hinata sudah mengetahui semuanya, asal-usul terbentuknya kerajaan, silsilah para raja dan keturunannya, nama-nama leluhur raja dari garis ibu, nama-nama leluhur raja dari garis ayah, lalu asal-usul sang ratu, dirinya sendiri.
Hinata mempelajari semuanya, membaca beberapa buku yang ada di perpustakaan sesuai arahan tutor, kemudian menghafalnya.
Dia bahkan tau bagaimana kisah sang ratu yang dikabarkan mati ditangan patih Inuzuka. Dibuku itu ditulis. Berdasarkan kesaksian pelaku, patih Inuzuka, sang ratu di tusuk tepat dibagian perut sehingga menewaskan dua nyawa, lalu membuang jasad sang ratu di sungai perbatasan.
Itu yang Hinata tau. Gadis itu tidak tau yang sebenarnya bahwa ratu sempat diperkosa. Ya, itu untuk menutup aib sang ratu demi kehormatannya atas perintah raja. Tidak ada yang tau sekarang, karena Naruto sudah membunuh orang-orang yang mengetahui kejadian keji itu.
...
Hinata keluar dari perpustakaan besama 12 pelayan di belakangnya. Gadis itu bertemu dengan perempuan cantik dengan 6 pelayan di belakangnya. Hinata tau itu adalah selir raja. Pelayan Hinata mengatakan Naruto memilih seorang selir setelah kematiannya.
Sungguh laki-laki play boy!
Fuck boy!
Tukang selingkuh!
Sama sekali bukan idaman!
Saara menatap Hinata, tersenyum, sedikit membungkuk. "Salam sejahtera untuk Yang Mulia Ratu"
Hinata membalasnya dengan senyum simpul, tidak menunduk, dia seorang ratu! "Iya"
Saara sedikit sakit hati, bukankah harusnya terimakasih, begitu juga dengan anda, selir Saara. Tapi ini, huh menjengkelkan. "Yang Mulia baru saja selesai melakukan pembelajaran? Ku kira Yang Mulia Ratu begitu cerdas, ternyata tidak seperti rumornya"
Hinata kembali tersenyum. "Sudah? Ya sudah" Hinata berjalan lagi, ogah meladeni wanita simpanan!
Saara membelalakan mata, sungguh tidak terima dengan sikap sang ratu. Dia memandangi Hinata yang berlalu dengan para pelayannya dengan perasaan jengkel.
...
Sore itu Naruto sedang menunggu Hinata datang, menemaninya minum teh seperti kebiasaanya dulu setiap sore. Dia ingin membiasakan Hinata yang sekarang seperti Hinata yang dulu.
Dia mengingat bagaimana Hinata selalu menuangkan teh dari teko untuknya dengan wajah tersenyum. Namun ditengah lamunannya seorang wanita cantik menghampirinya, duduk di depannya. Yang pasti itu Bukan Hinatanya, dia adalah Saara, selirnya.
"Yang Mulia" Saara tersenyum.
Naruto mengamatinya. "Ini bukan waktumu"
Saara tersentak dengan penolakan yang tegas itu, namun dia masih mempertahankan senyumnya. "Sepertinya anda membutuhkan sesuatu"
Saara langsung meraih teko itu, menuangkan teh ke dalam cangkir untuk sang raja. Bersamaan dengan itu Hinata datang bersama 12 pelayannya. Hinata melihatnya.
Naruto tersentak, tak menyangka Hinata akan datang saat seperti ini. Pria itu berdiri menghampiri Hinatanya. "Ayo, temani aku minum teh"
Saara yang melihat adegan itu segera ikut berdiri, membungkukkan badan, dia tidak boleh berbicara apapun saat ada sang raja, dia harus melakukan pencitraan.
Hinata enggan memberikan tangannya saat Naruto sudah mengulurkan tangan, meminta ratunya itu untuk membalasnya. "Anda bisa melanjutkan acara minum teh bersama selir Saara, Baginda Raja" Hinata tersenyum.
"Bukankah seharusnya anda menegaskan kapan waktunya, ingat anda memiliki seorang selir sekarang" Hinata ingin pergi, namun Naruto menahannya.
"Aku ingin minum teh denganmu, Ratuku" Naruto sedikit memohon.
Hinata tetap mempertahankan senyumnya. "Anda akan melukai hati wanita, Baginda Raja" Hinata melirik Saara. "Selir Saara sudah berbaik hati menuangkan teh untuk anda"
Hinata pergi bersama pelayannya. Sedangkan Saara merasa diatas angin, dia bisa membuat sang ratu cemburu.
Naruto menatap tajam ke arah Saara yang masih menunduk itu, lalu pergi begitu saja tanpa menyentuh tehnya, meninggalkan Saara yang kembali sakit hati.
Saara ingin menangis lagi. Apa yang kurang dari dirinya? Naruto tidak pernah mau bersamanya, hanya mempermainkannya, bahkan Naruto tidak pernah mau memberikan keturunan untuknya. Jika sejak awal dia tidak pernah diinginkan lalu kenapa Naruto repot-repot mengangkatnya menjadi selir?
Saara pergi dengan berusaha menguatkan hati.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.