8

597 62 0
                                        

Seorang pelayan menghampiri Hinata yang masih menangis tersedu-sedu. Pelayan itu membungkuk, tidak menatap wajah Hinata. "Yang Mulia"

Hinata menoleh, mendapati seorang wanita seusia Natsu menyebutnya dengan panggilan yang sangat asing untuknya. Ya karena biasanya para penggemar memanggilnya Hime, bukan Yang Mulia.

"Apakah Yang Mulia berkenan membersihkan diri?" Pelayan itu berucap sopan.

"Anda siapa?" Suara Hinata parau.

"Saya pelayan yang akan menyiapkan semua kebutuhan Yang Mulia" ucap pelayan itu lagi.

Hinata merasa enggan. "Ini dimana?"

"Yang Mulia sedang berada di Istana, tepatnya dikamar Yang Mulia Raja" pelayan itu menjelaskan lagi.

Hinata semakin bingung dengan ucapan pelayan itu, sebenarnya ada dimana dia sekarang ini? Kepalanya masih sedikit pusing, dia merasakan ngilu di area tengkuknya. Hinata masih diam ditempatnya sambil sesekali menghapus air matanya.

Sebenarnya sang pelayan begitu heran dengan sikap tuan ratunya itu. satu tahun divonis meninggal dunia, lalu sekarang kembali ke Istana dengan tanpa mengingat apapun. Satu lagi, tuan ratunya dulu selalu berkata sopan, memiliki aura seorang Ratu yang berwibawa dan cerdas. Tapi ratunya sekarang?

Pelayan itu segera mengenyahkan pemikirannya. Perempuan itu masih ingin melihat indahnya dunia.

...

Hinata dibawa ke sebuah kolam pemandian yang begitu luas, dibelakangnya ada enam pelayan yang mengikuti.

Para pelayan itu segera membantu Hinata melepas inner gaunnya, namun Hinata seperti enggan menerima bantuan itu.

"Em, aku bisa sendiri" Hinata menggigit bibir bawahnya.

Para pelayan saling pandang, lalu menunduk, mematuhi perintah ratunya itu. "Baik Yang Mulia"

Hinata mengernyitkan dahi saat para pelayan itu tetap berada di belakangnya. "Kenapa kalian masih berdiri di sini?"

Seorang pelayan menjawab. "Kami bertugas memandikan Yang Mulia, memberikan perawatan kulit dan pijatan"

Hinata syok. Jadi, dia akan telanjang di hadapan banyak wanita itu, jadi tontonan? Oh tidak tidak, biasanya dia melakukan perawatan dengan tetap melilitkan handuk. Ini tidak bisa dibiarkan! Mereka menganggapku murahan, apakah mereka ini juga penganut hubungan sesama jenis? Oh betapa mesumnya semua orang disini.

"Ahahah.. tidak perlu, aku hanya butuh menceburkan diri di air ini lalu menggosok badanku dengan sabun kan? Aku bisa melakukannya sendiri" Hinata mengerjapkan mata. "oh, iya. Berikan aku handuk"

"Maksud Yang Mulia kain pengering tubuh?" seorang pelayan semakin menundukkan kepalanya. Ya, bagi pelayan memang tidak diperkenankan bertanya panjang lebar.

"Astaga, kalian tidak tau handuk? Sebenarnya kalian ini lahir tahun berapa?" Hinata mulai darah tinggi.

"Tahun 1575 Yang Mulia" jawab seorang pelayan dengan begitu polosnya.

Hinata mendelik, mulutnya menganga. "Apa?"

...

Pagi itu Hinata tidak jadi mandi, dia sibuk berkeliling istana dengan hanya memakai inner jubahnya, dengan rambut yang terurai. Dia harus memastikan ucapan pelayan tadi.

Apakah ini masih zaman purba? Oh my God, Hinata ingin menangis sekarang. Gadis itu mengamati sekitar, bangunan ini, dia merasa tidak asing. Dia kembali berjalan menuju area lain, benar saja, tidak salah lagi.

Ini adalah istana tempatnya melakukan photoshoot untuk drama nya. Namun dengan adanya dayang yang melayaninya tadi dan raja yang yang memeluknya semalaman, semua orang yang memanggilnya dengan sebutan Yang Mulia, sang raja yang memanggilnya Ratuku, apakah dia baru saja memasuki mesin waktu menuju zaman sejarah?

Oh Tuhan, bahkan semua orang menunduk sekarang. Menghormati ratu mereka yang asik berkeliling istana dengan hanya memakai inner dan tanpa riasan, penampilan yang kurang sopan.

Hinata gelagapan melihat sekelilingnya itu. Dia berlari kencang menuju sebuah bilik, rasanya malu sekali. Sungguh Hinata ingin menangis, ingin tenggelam saja, atau kabur dari istana sampai tidak bisa ditemukan.

...

Hinata masuk kedalam sebuah ruangan yang ada di dalam bilik itu, kepalanya melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang melihat dan mengkuti, dia mengendap memasuki ruangan itu.

"Aaaa" Hinata kaget, sumpah.

Didepannya itu berdiri laki-laki mesum yang menyebut dirinya raja, memeluknya semalaman seperti guling. Hinata segera menunduk. Oh ayolah, dia tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi.

Naruto mengamati Hinata. "Kenapa mengendep-endap seperti itu?"

Hinata menggeleng cepat. "Tidak apa-apa"

Naruto tersenyum. "Bersihkan dirimu, kau akan menjalani kelas siang ini"

Ya, Hinata butuh pendidikan budi pekerti lagi, membutuhkan pengetahuan tentang norma-norma yang harus dia patuhi, membutuhkan pendidikan tentang etika menjadi seorang ratu yang ideal.

Naruto meninggalkan Hinata yang masih berdiri diruangan itu dengan tatapan bingung.

Sepeninggal Naruto Hinata masih ingin melihat ruangan itu, matanya melebar saat dia melihat lukisan yang menggantung di sana.

"Itu aku" Hinata meneteskan air mata, tidak tau dengan situasi ini, tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.

Yang pasti pada jaman ini, Hinata bukanlah seorang aktris dengan banyak penggemar. Dengan demikian dia harus berlaku layaknya kehidupan Hinata pada jaman itu.

...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

...


Your Majesty ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang