Beberapa bulan kemudian
Suara derasnya hujan di luar tak menghentikan alunan musik yang bergema di sebuah ruangan bawah tanah. Meskipun hanya ada lima orang di ruangan, mereka tampil layaknya ditemani sorakan penonton, sangat meriah.
On rainy nights like this
I'll meet you with my weary longing
When this rain stops,
I'll go out and find you
Di basement rumah Wonpil yang sudah disulap sedemikian rupa menjadi ruang latihan dan tempat kumpul, Sungjin, Brian, Wonpil, Jae, dan Dowoon baru menyelesaikan sesi band mereka.
Alunan musik masih terasa bergaung di dinding ruangan, menciptakan sisa euphoria penampilan tanpa penonton. Masing-masing mulai membereskan alat musik. Sungjin menaruh cajon di pojok ruangan, Dowoon sibuk dengan drum, Wonpil dengan keyboard-nya, dan Brian duduk santai di sofa setelah menaruh gitar di tas, sedangkan Jad baru selesai memasukkan gitarnya ke dalam tas.
Mata sipit pria berkacamata itu diedarkan ke mereka yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Dirasa pas, Jae membuka mulut dengan nada yang berbeda dari biasanya.
"Aku punya pengumuman."
Nadanya datar tapi terkesan gugup.
Tak ada yang melewatkan deretan kalimat itu. Semua menatap serius ke sang pembicara.
Jae merasakan seluruh pasang mata sekarang ke arahnya. Dia berdeham kemudian berkata, "Aku bergabung dalam tim research rumah sakit di Los Angeles."
Empat pasang mata itu menatap terkejut dalam sinkronisasi.
"Itu hebat, hyung. Selamat."
Sungjin yang pertama memberi selamat. Tangannya menepuk punggung Jae lumayan kencang. Wajahnya gembira.
Di sisi lain, Brian bertepuk tangan.
"Aku tidak menyangka ternyata hyung tertarik dengan penelitian."
Wonpil tersenyum.
"Hyung juga ingin lebih dekat dengan keluarga di sana 'kan? Ini kesempatan yang bagus."
Semuanya turut senang kecuali satu orang. Satu orang sedang memikirkan nasib band mereka.
"Bagaimana dengan band kita? Aku tidak mau kehilangan hyung dua kali."
Raut wajah pria pertengahan tiga puluh itu terlipat sedih. Meskipun Dowoon kadang bersikap kurang ajar, tak bisa dipungkiri bahwa ia tak rela Jae pergi ke beda negara dan beda benua.
"Berapa lama di sana?"
Jae mengedikkan bahu. "Belum tahu sampai kapan."
Brian berubah sedih. Sebagai pengusul band mereka dihidupkan kembali, ia sedih saat sadar bahwa mereka akan kehilangan Jae, bukan karena akal sehat pria itu yang mengatakan band membuang waktu, tapi karena pekerjaan.
"Kita bisa hiatus."
Sungjin mengusulkan sesuatu yang tentunya ditolak oleh Brian dan Dowoon. Wonpil hanya diam, ia menjadi pengikut suara mayoritas saja.
"Itu bukan hiatus namanya, tapi bubar."
"Stop whining. I'm still here and the band keep going. Okay? Sampai aku pergi setahun lagi band ini akan terus jalan."
Suara itu tegas, tidak memberi ruang untuk berdebat. Semuanya mengangguk mengerti pada yang tertua. Suasananya jadi berbeda setelah pengumuman kepergian Jae ke negara lain, sedih tapi juga mencoba memberi pengertian.
"Oh, ya. Satu lagi."
Belum selesai. Masih ada satu pengumuman lagi.
Dengan satu tarikan napas Jae mengucapkan,
KAMU SEDANG MEMBACA
Days Gone By (END)
Hayran Kurgu[Medical - Romance] Hari-hari yang terus berlalu tidak akan memberitahu ke mana hidup dan hati ini berlabuh. Semua adalah rahasia, dan rahasia hanya akan terbuka jika hari sudah berlalu. Days Gone By; kelima dokter yang tidak tahu bagaimana kehidup...
