Beautiful feelings masih jadi favoritku sampe sekarang. Liriknya yang bikin berbunga-bunga 💕🦋
———
Kafe Glory sedang bersiap merayakan hari jadi. Kafe yang didirikan oleh seorang perempuan yang kabur dari LA ke Korea telah mencapai usianya yang pertama.
Dekorasi warna-warni terpasang di sudut-sudut ruangan. Aroma kopi turut memenuhi udara berdampingan dengan harum adonan kue. Suara ribut di dapur menjadi bukti adanya kesibukan di tempat sepi ini karena belum jam bukanya.
Lyra, si pemilik kafe, sedang sibuk di dapur, mencoba resep baru untuk menyambut hari istimewa kafenya. Noda tepung dan bekas telur menempel di apron yang melingkar di pinggangnya, membuktikan kerja kerasnya dalam menciptakan menu baru khusus hari jadi kafenya.
Salah satu menu baru yang ingin Lyra luncurkan adalah kue wortel versi kukis. Ia sibuk mencampurkan bahan-bahan kukis, mencoba mengatur suhu oven yang tepat agar kukis barunya tidak gosong atau yang lebih parah, tidak matang. Sungguh sulit membuat menu baru.
Beberapa jam mencampur, mengaduk, dan lainnya, akhirnya adonan berhasil masuk ke dalam oven.
Lyra melirik ke dalam oven.
"Cepatlah matang, my cookies."
Lyra tersenyum melihat kukis di dalam oven. Sekarang ia beralih ke dapurnya, yang sangat berantakan karena eksperimen kukis wortelnya.
Helaan napas lelah keluar. Lyra mengencangkan ikat rambutnya.
"Mari kita bereskan kekacauan ini."
Hari ini, lebih tepatnya di pagi hari, Lyra sendirian, tidak ditemani oleh pekerja yang biasa membantunya. Khusus hari ini Taeri datang di siang hari, meninggalkan Lyra sendirian di kafe.
Tangan Lyra bergerak cepat membersihkan dapur yang menjadi saksi eksperimen menu barunya. Sesekali ia mengintip ke arah oven, memastikan kukisnya matang dengan pas. Tanpa disadari ia bersemangat untuk melihat wujud serta mencicipi menu barunya.
Lyra berdiri tepat di depan oven. Senyum tak terlepas dari wajahnya. Dengan sabar ia menunggu kukisnya untuk mengembang.
Di tengah kesibukannya mengamati kukis di oven, suara bel dari pintu kafe berdering.
Siapa yang masuk saat papan kafe masih bertanda close?
Lyra merapikan sedikit rambutnya dan berjalan ke depan, ke arah kasir, masih dengan apron yang melekat di tubuh.
"Maaf, kami masih—"
"Happy anniversary, Glory."
Belum selesai menegur, suara ceria seorang pria membuat senyum Lyra mengembang seperti kukis di oven. Pelanggan setianya datang. Kehadirannya berhasil menyapu rasa lelahnya seketika.
"You coming."
"Seseorang terus menerorku dari kemarin."
Lyra tak bisa untuk tak tertawa. Benar. Sejak kemarin ia terus mengirimi pesan pada pria di depannya agar datang ke kafe karena Lyra membutuhkan bantuan Brian untuk satu dua hal.
Brian meletakkan dua buah kopi di atas meja kasir.
"Coffee."
Lyra mengambil salah satunya. Brian datang ke kafenya karena Lyra ingin pria itu mencicipi kukis barunya. Anggap saja Brian adalah tester. Manusia tester yang spesial.
"Kau membawa kopi kafe lain ke tempatku. Good job, Younghyun," katanya sarkas bernada canda.
Brian tertawa, menangkap maksud kalimat sarkas Lyra sebagai sebuah ironi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Days Gone By (END)
Fanfic[Medical - Romance] Hari-hari yang terus berlalu tidak akan memberitahu ke mana hidup dan hati ini berlabuh. Semua adalah rahasia, dan rahasia hanya akan terbuka jika hari sudah berlalu. Days Gone By; kelima dokter yang tidak tahu bagaimana kehidup...
